Tanda-Tanda ADHD pada Anak dan Tips Menjaga Kesehatannya

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) adalah salah satu gangguan perkembangan saraf yang paling umum pada masa kanak-kanak.

Biasanya pertama kali didiagnosis pada masa kanak-kanak dan sering berlangsung hingga dewasa. Anak-anak dengan ADHD mungkin kesulitan memperhatikan, mengendalikan perilaku impulsif (mungkin bertindak tanpa memikirkan apa akibatnya), atau menjadi terlalu aktif.

Tanda dan gejala

Mengalami kesulitan fokus dan berperilaku pada satu waktu atau lainnya mungkin adalah hal normal bagi anak-anak. Namun, anak-anak dengan ADHD, gejalanya berlanjut, bisa parah, dan bisa menyebabkan kesulitan di sekolah, di rumah, atau dengan teman.

Seorang anak dengan ADHD memiliki gejala berikut, berdasarkan CDC.

- banyak melamun

- melupakan atau kehilangan banyak hal

- menggeliat atau gelisah

- berbicara terlalu banyak

- membuat kesalahan yang ceroboh atau mengambil risiko yang tidak perlu

- mengalami kesulitan menahan godaan

- mengalami kesulitan untuk bergiliran

- mengalami kesulitan bergaul dengan orang lain

Jenis

Ada tiga jenis ADHD, bergantung pada jenis gejala yang paling kuat pada individu, menurut CDC.

1. Presentasi yang Didominasi Kurang Perhatian

Yaitu individu yang kesulitan untuk mengatur atau menyelesaikan tugas, memperhatikan detail, atau mengikuti instruksi atau percakapan. Ia mudah teralihkan atau lupa detail rutinitas sehari-hari.

2. Presentasi yang Didominasi Hiperaktif-Impulsif

Yaitu orang yang gelisah dan banyak bicara. Sulit untuk duduk diam dalam waktu lama (misalnya untuk makan atau saat mengerjakan pekerjaan rumah). Anak-anak yang masih kecil mungkin senang berlarian, melompat atau memanjat terus-menerus. Ia merasa gelisah dan bermasalah dengan impulsif. Seseorang yang impulsif mungkin sering mengganggu orang lain, mengambil sesuatu dari orang lain, atau berbicara pada waktu yang tidak tepat. Sulit baginya untuk menunggu giliran atau mendengarkan petunjuk arah. Seseorang dengan impulsif mungkin mengalami lebih banyak kecelakaan dan cedera daripada yang lain.

3. Presentasi Gabungan

Gejala dari dua jenis di atas sama-sama hadir pada orang tersebut.Karena gejala dapat berubah seiring waktu, penyajiannya juga dapat berubah seiring waktu.

Penyebab ADHD

Para ilmuwan sedang mempelajari penyebab dan faktor risiko dalam upaya menemukan cara yang lebih baik untuk mengelola dan mengurangi kemungkinan seseorang mengalami ADHD. Penyebab dan faktor risiko ADHD masih belum diketahui, tetapi penelitian terkini menunjukkan bahwa genetika memainkan peran penting. Studi terbaru menemukan tentang hubungan gen kembar dengan ADHD.

Selain genetika, para ilmuwan sedang mempelajari kemungkinan penyebab dan faktor risiko lainnya termasuk:

- Kerusakan otak

- Paparan lingkungan (misalnya timbal) selama kehamilan atau pada usia muda

- Penggunaan alkohol dan tembakau selama kehamilan

- Kelahiran prematur

- Berat badan lahir rendah

Pandangan populer bahwa ADHD disebabkan oleh makan terlalu banyak gula, terlalu banyak menonton televisi, menjadi orang tua, atau faktor sosial dan lingkungan seperti kemiskinan atau kekacauan keluarga, tidak terbukti dalam penelitian manapun. Namun hal ini mungkin dapat memperburuk gejala, terutama pada orang-orang tertentu. Tetapi buktinya tidak cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa mereka adalah penyebab utama ADHD.

Diagnosa

Memutuskan apakah seorang anak menderita ADHD melalui sebuah proses dengan beberapa langkah. Tidak ada tes tunggal untuk mendiagnosis ADHD, dan banyak masalah lain, seperti kecemasan, depresi, masalah tidur, dan jenis ketidakmampuan belajar tertentu, dapat memiliki gejala yang serupa. Salah satu langkah dari proses tersebut adalah menjalani pemeriksaan medis, termasuk tes pendengaran dan penglihatan, untuk menyingkirkan masalah lain dengan gejala seperti ADHD. Mendiagnosis ADHD biasanya mencakup daftar periksa untuk menilai gejala ADHD dan mengambil riwayat anak dari orang tua, guru, dan terkadang, anak tersebut.

Perawatan

Dalam kebanyakan kasus, ADHD paling baik diobati dengan kombinasi terapi perilaku dan pengobatan. Untuk anak usia prasekolah (4-5 tahun) dengan ADHD, terapi perilaku, terutama pelatihan untuk orang tua, direkomendasikan sebagai pengobatan lini pertama sebelum mencoba pengobatan. Mana metode yang paling berhasil tergantung pada anak dan keluarganya. Rencana pengobatan yang baik akan mencakup pemantauan ketat, tindak lanjut, dan membuat perubahan, jika diperlukan, selama pertumbuhan.

Mengelola Gejala: Tetap Sehat

Menjadi sehat penting bagi semua anak dan terutama bagi anak-anak ADHD. Selain terapi perilaku dan pengobatan, memiliki gaya hidup sehat dapat memudahkan anak Anda menghadapi gejala ADHD. Berikut beberapa perilaku sehat yang dapat membantu:

- Mengembangkan kebiasaan makan yang sehat seperti makan banyak buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian serta memilih sumber protein tanpa lemak

- Berpartisipasi dalam aktivitas fisik sehari-hari berdasarkan usia

- Membatasi durasi paparan layar harian dari TV, komputer, telepon, dan elektronik lainnya

- Mendapatkan jumlah tidur yang disarankan setiap malam berdasarkan usia

Mendapatkan bantuan

Jika Anda atau dokter Anda memiliki kekhawatiran tentang ADHD, Anda dapat membawa anak Anda ke spesialis seperti psikolog anak atau ahli perkembangan anak, atau Anda dapat menghubungi pelayanan intervensi dini setempat (seperti posyandu untuk anak di bawah 3 tahun) atau ke sekolah umum (untuk anak 3 tahun ke atas).

ADHD pada Orang Dewasa

ADHD bisa bertahan hingga dewasa. Beberapa orang dewasa menderita ADHD tetapi tidak pernah didiagnosis. Gejala tersebut dapat menyebabkan kesulitan di tempat kerja, di rumah, atau dalam hubungan. Gejala mungkin terlihat berbeda pada usia yang lebih tua, misalnya, hiperaktif mungkin tampak seperti kegelisahan yang ekstrim. Gejalanya bisa menjadi lebih parah ketika tuntutan orang dewasa meningkat.

Infografis 9 Panduan Imunisasi Anak Saat Pandemi Covid-19.

Infografis 9 Panduan Imunisasi Anak Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis 9 Panduan Imunisasi Anak Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)

Simak Video Berikut Ini: