Tangan Kreatif Labib Sulap Kresek Sampah Bekas jadi Lukisan Bernilai Jutaan

Merdeka.com - Merdeka.com - Lukisan berbahan kantong kresek dipamerkan dalam event bertajuk Road to G20,"Beating Plastic Pollution from Source to Sea", di Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali. Keunikannya membuat banyak mata memberikan perhatian.

Semua itu tak lepas dari tangan ulet Jafar Labib (41), si pembuat lukisan. Penuh sabar, dia menempel plastik yang sudah dipintal ke dalam sketsa wajah di lukisan yang dia ciptakan.

Ada beberapa lukisan yang dipajang. Presiden Jokowi, Menteri BUMN Erick Thohir, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, lukisan Megawati Soekarnoputri dan Muhammad Jusuf Kalla (JK). Lukisan itu, sudah dipamerkan selama dua hari di event "Beating Plastic Pollution from Source to Sea," dari tanggal 3 hingga 4 November 2022.

"Saya memulai membuat lukisan ini sejak tahun 2016," kata Labib, saat ditemui pada Jumat (4/11) kemarin.

Ia menceritakan ide membuat lukisan dari kantong kresek sampah plastik. Mulanya karena rasa prihatin pada lingkungan di desa Jepatlor, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Di sana, banyak sampah plastik yang mengotori lingkungan. Hingga kemudian, lahirlah ide kreatif membuat lukisan dari bahan sampah plastik bekas. Dari lukisan itu pula,cukup menopang ekonomi keluarganya.

"Awalnya, saya melihat sampah plastik yang begitu banyak di sekitar lingkungan. Saya sangat prihatin sekali, saya ingin mencoba berpikir mencari ide bagaimana sampah plastik tersebut bisa saya manfaatkan menjadi kerajinan dan mempunyai nilai ekonomi," ungkapnya.

Memulai ide kreatifnya, Labib seorang diri mengumpulkan sampah-sampah plastik di tempat sampah, di selokan lingkungan desanya dan juga meminta ke para tetangganya bila memiliki sampah kresek bekas. Seiring waktu, karya yang dibuatnya cukup diminati dan permintaan kian banyak dari luar daerah dan untuk mengumpulkan kresek plastik, dia bekerjasama dengan seorang pemulung disabilitas untuk mengumpulkan lebih banyak kantong plastik bekas.

"Awalnya, saya mencari sendiri di sekitar lingkungan di tempat sampah, di selokan di depan rumah, minta sama tetangga tapi berhubung semakin lama semakin ke sini, saya bergandengan tangan kerjasama dengan pemulung di tempat saya," ujarnya.

"Dari pemulung saya beli satu kilo Rp 1.500 rupiah sesuai perjanjian awal tapi pemulung itu disabilitas, saya bantu sekalian kalau dia bisa mengumpulkan satu karung, saya beri lebih, saya kasih Rp 100 ribu. Baru satu pemulung tapi tidak menutup kemungkinan saya mau merangkul semuanya," ujarnya.

jafar labib pelukis dari limbah plastik kresek
jafar labib pelukis dari limbah plastik kresek

Berapa Banyak Plastik Dibutuhkan

Untuk membuat satu lukisan berukuran 40x60 sentimeter, Labib membutuhkan 160 kantong kresek. Sedangkan untuk lukisan berukuran 60x80 sentimeter, dibutuhkan sebanyak 300 kresek plastik. Kemudian untuk ukuran paling besar 100x75 centimeter diperlukan 500 kantong plastik.

Menyelesaikan satu lukisan dari sampah kresek bekas, dia butuh waktu lima hari. Sedangkan  ukuran besar dibutuhkan waktu 10 hari

Lukisan itu dia jual dengan harga bervariatif sesuai ukuran. Paling kecil 40x60 sentimeter dipatok Rp1 juta, ukuran sedang 60x80 Rp3 juta dan untuk ukuran 100x75 sentimeter Rp5 juta.

"Semakin besar ukurannya, semakin banyak sampah plastik. Untuk harga sesuai ukuran itu sudah termasuk figura dan kacanya," ucapnya.

Dalam sebulan Labib bisa menghasilkan lima lukisan dan kini karena banyaknya pemesanan dalam sebulan dia menghasilkan omzet sekitar Rp 25 juta.

"Untuk rata-rata satu bulan, kita menghasilkan lima lukisan. Omzet kotor satu bulan bisa mendapatkan Rp 20 sampai Rp 25 juta. Saya masih usaha mandiri, belum punya galery dan bekerja di rumah dibantu istri dan keluarga," ujarnya.

Bagaimana Cara Membuatnya?

Labib bercerita proses pembuatan lukisan kresek bekas sampah plastik. Pertama, plastik dibersihkan lalu dikepang memintal. Selanjutnya, Labib membuat sketsa wajah foto lewat kertas hvs sesuai pesanan dan setelah itu menempelkan kresek yang sudah dipintal dengan menggunakan lem lilin tembak dan lem perekat lainnya dengan rapi di kertas hvs.

"Kalau untuk pengepangan kresek plastik, saya dibantu dari keluarga dan tetangga. Kalau pemesanan cukup mengirim foto, terus saya bikin sketsa di komputer dan saya proses dengan penempelan plastik dengan lem tembak," ujarnya.

Labib juga mengatakan, untuk saat ini karyanya belum sampai diekspor tetapi sempat ada sejumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Taiwan, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, dan Australia memesan untuk cinderamata yang akan diberikan kepada bosnya di luar negeri sana.

Labib juga mengenang, masa saat dirinya merintis usaha lukisan yang awalnya banyak anggapan dari sekitarnya dengan mengumpulkan sampah kresek apa bisa menompang kehidupan ekonomi keluarganya. Apalagi, sebelumnya dia seorang buruh pabrik selama 13 tahun dan sering berpindah-pindah daerah ke Jakarta, Madura, Jawa Timur, dan tempat lainnya merantau untuk mencari penghidupan dan akhirnya kembali ke desanya.

"Iya bekerja begini, apa bisa untuk menghidupi keluarga tapi saya terus berusaha untuk membuktikan, ternyata dari 2016 sampai sekarang masih bertahan," ujarnya. [lia]