Tangis Putri Candrawathi di Kamar Terdengar Keluar Saat Brigadir J Ditembak Sambo

Merdeka.com - Merdeka.com - Tangis Putri Candrawathi ternyata tendengar sampai luar kamar ketika ajudannya Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J ditembak mati oleh suaminya, Ferdy Sambo. Penembakan terjadi di rumah dinas Sambo di Kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan pada Jumat (8/7) lalu.

Ajudan Ferdy Sambo, Adzan Romer mengaku mendengar Putri menangis di dalam kamarnya.

"Seinget saya di kamar (posisi Putri). Dengar suara Ibu nangis di kamar lantai satu. Menurut saya nangis biasa, saya dengar sampai depan pintu," kata Romer saat bersaksi untuk terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi di PN Jakarta Selatan, Selasa (8/11).

Sebelumnya, saksi Daden menyebut posisi kamar Putri tidak jauh dari lokasi penembakan Brigadir J. Jika pintu kamar dibuka mengarah ke area posisi penembakan.

"Kamarnya terbuka. Posisinya pintu kamarnya lurus dengan kaki almarhum. Jadi kalau kami tarik garis lurus untuk pintu kita berdiri di atas kepala almarhum kepala almarhum lalu kaki lalu pintu," jelas Romer.

Usai penembakan, Romer lalu melihat Ferdy Sambo menjemput Putri yang berada di dalam kamar untuk selanjutnya pergi meninggalkan rumah dinas menuju rumah pribadinya di Jalan Saguling, Jakarta Selatan.

"Setelah itu Bapak bawa Ibu keluar melewati (jenazah) menuju ke luar ke garasi, setelah itu saya di luar. Saya melihat bapak bawa ibu keluar saya langsung dampingi keluar. Terus sampai di luar Pak FS memerintahkan Bang Ricky bawa Ibu ke Saguling," ujar Romer.

Posisi Putri Dijelaskan Dalam Berkas Dakwaan

Sementara terkait posisi Putri Candrawathi dalam dakwaan disebut berada di dalam kamar saat penembakan terjadi. Di mana letak kamarnya berjarak tiga meter dari tempat eksekusi yang dilakukan Bharada E serta Ferdy Sambo pada Brigadir J. Putri tidak melihat dan hanya mendengar.

"Ferdy Sambo langsung mengatakan kepada Korban Nopriansyah Yosua Hutabarat dengan perkataan "jongkok kamu!!" lalu Korban Nopriansyah Yosua Hutabarat sambil mengangkat kedua tangannya menghadap ke depan sejajar dengan dada sempat mundur sedikit sebagai tanda penyerahan diri dan berkata "ada apa ini?"," ujar JPU dalam dakwaan Ferdy Sambo, saat sidang di PN Jakarta Selatan, Senin (17/10).

Usai dihabisi, di situ Putri kembali tidak ada upaya untuk mencegah tewasnya Brigadir J. Di mana dia tetap diam dan membiarkan ajudannya tersebut tewas setelah diberi tembakan terakhir oleh Ferdy Sambo di bagian kepala belakang.

"Tentang hal yang terjadi sebagaimana cerita Saksi Putri Candrawathi tentang pelecehan yang terjadi di Magelang dan bukannya malah membuat Terdakwa Ferdy Sambo semudah itu menjadi marah dan emosi hingga merampas nyawa Korban Nopriansyah Yosua Hutabarat," bebernya.

Masuk ke pukul 17.17 Wib usai penembakan Brigadir J terjadi, Putri Candrawathi dengan suatu alasan tertentu masih sempat berganti pakaian meskipun turut terlibat dalam penembakan yang merampas Brigadir J.

Hal itu terlihat ketika awal masuk ke rumah dinas Duren Tiga No.46 awalnya Putri berpakaian baju sweater warna coklat dan celana legging warna hitam namun ketika keluar dari rumah dinas Duren Tiga no. 46 Putri sudah berganti pakaian model blus kemeja warna hijau garis-garis hitam dan celana pendek warna hijau garis-garis hitam,

"Lalu Saksi Putri dengan tenang dan acuh tak acuh (cuek) pergi meninggalkan rumah dinas Duren Tiga No. 46 diantar oleh Saksi Ricky Rizal menuju ke rumah Saguling 3 No. 29," sebutnya.

Didakwa Pembunuhan Berencana

Dalam perkara ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah mendakwa total lima tersangka yakni, Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Richard Eliezer alias Bharada E, Ricky Rizal alias Bripka RR, dan Kuat Maruf.

Mereka didakwa turut secara bersama-sama terlibat dengan perkara pembunuhan berencana bersama-sama untuk merencanakan penembakan pada 8 Juli 2022 di rumah dinas Komplek Polri Duren Tiga No. 46, Jakarta Selatan.

"Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan turut serta melakukan perbuatan, dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain," ujar jaksa saat dalam surat dakwaan.

Atas perbuatannya, kelima terdakwa didakwa sebagaimana terancam Pasal 340 subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 KUHP yang menjerat dengan hukuman maksimal mencapai hukuman mati.

Sedangkan hanya terdakwa Ferdy Sambo yang turut didakwa secara kumulatif atas perkara dugaan obstruction of justice (OOJ) untuk menghilangkan jejak pembunuhan berencana.

Atas hal tersebut, mereka didakwa melanggar Pasal 49 juncto Pasal 33 dan/atau Pasal 48 ayat (1) juncto Pasal 32 ayat (1) UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau Pasal 221 ayat (1) ke 2 dan 233 KUHP juncto Pasal 55 KUHP dan/atau Pasal 56 KUHP.

"Timbul niat untuk menutupi fakta kejadian sebenarnya dan berupaya untuk mengaburkan tindak pidana yang telah terjadi," sebut Jaksa. [lia]