Tangkal Banjir, Pemprov DKI Ajak Masyarakat Bangun Drainase Vertikal

VIVA
·Bacaan 3 menit

VIVA – Bukan hal aneh lagi, jika sedari dulu Jakarta memang menjadi kota langganan banjir. Penyebab banjir di Jakarta ini bukan tanpa alasan.

Jika kita melihat sejarahnya, banyak nama daerah di Jakarta yang diawali dengan kata-kata ‘rawa’ dan ‘pulo’ dan beberapa kawasan yang cukup terkenal, seperti Rawamangun, Rawasari, Rawa Buaya, Pulo Gebang, Pulomas, Pulogadung, dan lain-lain.

Awalnya kawasan ini lah yang mendominasi lahan di Jakarta, namun seiring waktu terjadi perubahan yang tadinya lahan resapan menjadi bangunan. Untuk itulah, dengan kondisi Jakarta yang semakin rawan banjir, Pemprov DKI terus berupaya untuk meminimalkan banjir di Jakarta.

Dalam upaya penanggulangan banjir, Pemprov DKI telah melakukan berbagai upaya, antara lain pengerukan saluran, pembuatan waduk/situ/embung, kesiapan operasional pompa, dan lain-lain.

Namun, hal itu belum cukup, masih perlu adanya kolaborasi bersama masyarakat, salah satu bentuknya adalah membuat drainase vertikal atau sumur resapan.

“Kita akan secara masif membangun vertikal drainase, jadi kemarin diperlukan kira-kira 1,8 juta lubang drainase yang harus dibangun di Jakarta," ucap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Jakarta, seperti dikutip VIVA.

Drainase vertikal memungkinkan otomatisasi kontrol kadar air tanah. Bagi pekerja konstruksi, mekanisme ini bisa meningkatkan produktivitas kerja sebanyak tiga hingga lima kali dan pasokan air juga menjadi lebih ekonomis.

Selain itu, dimensi drainase kota di DKI Jakarta dirancang untuk menampung debit air hujan maksimal untuk curah hujan 120 mm/hari. Sementara, kita tahu bahwa hujan ekstrem juga pernah terjadi beberapa kali di Jakarta.

Dengan membuat drainase vertikal, kita bisa menabung air hujan. Kalau di rumah tidak punya pekarangan yang luas, ajak tetangga sekitar untuk sama-sama membuat drainase vertikal. Salah satunya, bisa dilakukan di halaman mushola.

Drainase vertikal ini pun bisa kita buat sendiri. Pertama, buat lubang pada tanah. Usahakan menggali tidak sampai keluar air. Perkuat dinding sumur menggunakan bata dengan celah 1 jari.

Buat saluran air masuk dari talang dan keluar menuju parit apabila kelebihan air.

Isi bagian bawah drainase vertikal dengan batu koral atau kerikil. Kemudian, tutup bagian atas drainase vertikal dengan plat beton dan hiasi dengan rumput atau tanaman.

Jika turun hujan, air akan masuk melalui talang dan ditampung di drainase vertikal. Air tidak langsung terbuang ke saluran kota, sehingga air pada saluran kota bisa berkurang dan tidak lagi menimbulkan genangan.

Bukan hanya menuntaskan genangan, dengan menabung air hujan, kita juga bisa memiliki cadangan air saat musim kemarau.

Dinas Kehutanan DKI Jakarta juga mengejar penyelesaian pembangunan 53 taman maju bersama (TMB) hingga akhir 2019.

TMB rencananya akan dijadikan sebagai ruang publik dan target ruang terbuka hijau (RTH). Sebesar 30 persen dari 661,52 kilometer persegi luas wilayah Jakarta. Kini, luas RTH Jakarta masih 9,9 persen.

Data Dinas Kehutanan menyatakan, persentase itu terdiri dari 6,90 persen RTH publik dan 3,07 persen RTH privat. Kepala Dinas Kehutanan DKI Jakarta Suzi Marsitawati, mengatakan, 53 taman seluas lebih dari 5.000 meter persegi ini juga dimanfaatkan sebagai daerah resapan air.

Dari 53 taman, 30 diantaranya sudah selesai dibangun. Sisanya, yakni 23 persen, ditargetkan tuntas 10 Desember 2019.

“Ke-53 TMB itu dibangun dengan anggaran Rp 130 miliar. Pada 2020, ada 51 TMB yang ditargetkan dibangun dengan anggaran Rp 190 miliar,” ucap Suzi.

Upaya penanganan banjir di Jakarta memang harus dilakukan oleh berbagai pihak, bukan hanya dari Pemprov saja, tapi juga kontribusi dari masyarakat. Untuk itu Anies mengajak masyarakat untuk aktif dalam upaya pencegahan banjir di Jakarta.

“Dibutuhkan kerja sama dalam menjalankan gerakan menabung air hujan. Pemprov DKI Jakarta mengajak warga berkolaborasi untuk membuat drainase vertikal di lingkungan tempat tinggal. Mari bersama kita bangun drainase vertikal untuk mengurangi banjir di Jakarta!”, ajak Anies.