Tanpa Aturan Gol Tandang, Sederet Tim Ini Urung jadi 'Raja Eropa'

·Bacaan 3 menit

VIVAUEFA telah resmi menghapus aturan gol tandang dalam kompetisi antarklub Eropa mulai musim 2021/2022. Induk sepakbola Eropa itu menyebut aturan ini sudah tak relevan lagi di masa sekarang.

Pemberlakuan gol tandang sejatinya dimulai sekitar setengah abad silam atau tepatnya 1965. Jadi, setiap tim yang berhasil mencetak gol lebih banyak di kandang lawan bakal lebih diuntungkan ketika agregat seimbang dalam dua leg lantaran gol tandang akan dihitung dua kali lipat.

Aturan itu tetap bertahan hingga akhirnya UEFA melakukan evaluasi terhadap aturan tersebut. Akhirnya, UEFA pun memutuskan tak lagi memakai aturan gol tandang mulai musim depan.

Jadi, ketika nantinya dua tim memiliki skor seimbang, duel akan dilanjutkan ke babak tambahan 2x15 menit. Bila belum didapatkan pemenang, pertandingan akan ditentukan di adu penalti.

Cara ini terbilang lebih adil dan membuat tim tuan rumah bisa bermain lebih lepas untuk menyerang.

Namun, tentunya ada sejumlah tim yang diuntungkan dengan aturan tersebut hingga membawa mereka menjadi juara Liga Champions atau Liga Europa. Berikut adalah empat di antaranya:

1. AC Milan semifinal Liga Champions 2002/2003

Milan berhasil keluar sebagai juara Liga Champions 2003 usai menumbangkan Juventus lewat adu penalti. Tapi, keberhasilan mereka melaju ke partai puncak tak lepas dari aturan gol tandang yang masih berlaku.

Berhadapan dengan rival sekotanya, Inter Milan, pada babak semifinal, Rossoneri awalnya bermain imbang tanpa gol saat berstatus tuan rumah. Kemudian, mereka kembali bermain imbang di leg kedua, namun dengan skor 1-1.

Satu gol itu sudah cukup bagi Milan untuk melaju ke final lantaran dicetaknya saat berstatus tim tamu di leg kedua.

2. Barcelona semifinal Liga Champions 2008/2009

Salah satu duel paling kontroversial dalam sejarah Eropa. Barcelona melaju ke final berkat 'bantuan' wasit.

Namun, di luar itu, secara resmi El Barca sukses ke partai pamungkas hingga akhirnya menjadi juara setelah mengalahkan Manchester United berkat skor imbang 1-1 di leg kedua.

Bermain imbang tanpa gol di leg pertama kontra Chelsea, Barca harus memetik kemenangan di leg kedua. Asa mereka sempat pupus setelah Michael Essien mencetak gol di menit sembilan.

Tapi, ternyata dewi fortuna masih berpihak pada Blaugrana. Mereka mampu menyamakan kedudukan di menit 90 melalui gol Andres Iniesta. Gol itu sudah cukup membawa Barca ke final dan jadi juara. Mereka meraih treble winner di musim tersebut.

3. Atletico Madrid semifinal Liga Europa 2009/2010

Semusim setelah Barcelona, sesama klub Spanyol Atletico Madrid juga merasakan keuntungan gol tandang. Namun, di Liga Europa.

Atletico sempat menang 1-0 di leg pertama sebelum Liverpool juga unggul 1-0 selama 90 menit leg kedua. Duel pun harus dilanjutkan ke babak tambahan.

The Reds sempat bersorak setelah Yossi Benayoun mencetak gol di babak pertama perpanjangan waktu. Sial bagi Liverpool, Diego Forlan mampu menyelamatkan Atletico berkat golnya di menit 103.

Skor agregat menjadi imbang 2-2 hingga akhir. Tapi, Los Rojiblancos yang berhak ke final dan menjadi juara setelah menekuk Fulham.

4. Sevilla semifinal Liga Europa 2014

Lagi-lagi tim Spanyol yang diuntungkan aturan gol tandang. Kali ini dirasakan Sevilla.

Sempat unggul 2-0 pada leg pertama semifinal Liga Europa kontra Valencia, tim asal Andalusia itu harus tertunduk lesu setelah tumbang 3-0 di leg kedua. Beruntung, dewi fortuna masih berpihak setelah Stephane M'Bia menyelamatkan mereka lewat golnya di menit 90.

Satu gol sudah cukup membuat mereka unggul meski agregat imbang 3-3. Sevilla akhirnya keluar sebagai juara setelah mengandaskan Benfica di final lewat adu penalti 4-2.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel