Tanpa Degradasi, Liga 1 Bakal Ikuti Jejak A-League dan MLS

·Bacaan 1 menit

VIVA – Wacana kompetisi Liga 1 2021 bergulir tanpa degradasi tengah mencuat. Hal itu ramai dibahas setelah Komite Eksekutif (Exco) PSSI menggelar rapat pada 3 Mei 2021.

Dalam rapat tersebut, Exco PSSI mengklaim mayoritas klub meminta sistem degradasi dihapus. Sebagian klub keberatan dengan adanya degradasi karena alasan pandemi COVID-19.

"Dalam rapat Exco terakhir, satu di antaranya membicarakan soal kompetisi musim ini,” kata Anggota Exco PSSI, Hasani Abdulgani kepada wartawan.

“Saat itu, terjadi diskusi mengenai model kompetisi. Berdasarkan laporan dari kesekjenan PSSI, banyak klub mengirim surat ke PSSI untuk mempertimbangkan peniadaan degradasi," sambungnya.

Ternyata, kompetisi tanpa degradasi bukan hal baru di dunia ini. Setidaknya, hal ini sudah lama berjalan di Australia dan Amerika Serikat.

Australia memiliki A-League. Sejak bergulir di musim 2005/06, sistem promosi dan degradasi tak berlaku.

Sistem yang digunakan A-League adalah franchise atau waralaba dengan sejumlah klub profesional yang tersebut di Australia, Major League Soccer (MLS) dan liga olahraga lainnya di Amerika Utara.

Hal serupa diterapkan Amerika dengan MLS yang bergulir sejak 1996. Liga ini dioperasikan bukan sebagai asosiasi yang berdiri sendiri, MLS adalah satu kesatuan di mana setiap klub dimiliki dan dikendalikan oleh investor liga.

MLS adalah sebuah liga tertutup sehingga menjadikannya sebagai salah satu dari beberapa liga di dunia sepak bola yang tidak menggunakan promosi dan degradasi.

Di Indonesia sendiri, sistem tanpa degradasi pernah diterapkan di Divisi Utama 2006. Adanya musibah gempa bumi di Yogyakarta pada 27 Mei 2006, membuat degradasi dihapuskan.

Saat itu, PSIM Yogyakarta dan PSS Sleman memilih mundur karena terdampak gempa. PSSI pun memutuskan untuk menghapus degradasi.