Tantangan Mualaf, Deddy Corbuzier: Setelah Gue Jadi Muslim, Pusing Bos

·Bacaan 2 menit

VIVADeddy Corbuzier buka-bukaan terkait kehidupan spiritualnya selama menjadi mualaf dalam dua tahun terakhir. Menurutnya, banyak tantangan yang dihadapi berkaitan dengan pola pikir masyarakat Tanah Air yang dominan beragama muslim.
Di awal menjadi seorang muslim, mantan suami Karina Octarany itu mengaku harus beradaptasi dengan cukup keras. Bahkan, duda satu anak ini mengaku merasakan hidup yang berat lantaran berada di tengah masyarakat yang mayoritas beragam muslim.

"Setelah gue jadi muslim, pusing bos," ungkap Deddy Corbuzier di kanal Youtube Refly Harun, baru-baru ini.

Salah satu momen yang paling diingatnya adalah ketika podcast yang digawanginya beberapa kali menampilkan Gus Miftah sebagai bintang tamu. "Contoh gampang aja, saya deket Gus Miftah karena saat itu viral dialog dakwah di kelab malam," paparnya lagi.

Karena kedekatannya dengan pimpinan Pesantren Ora Aji itu, Deddy dianggap berguru pada guru yang salah. Sebab, rentetan kejadian yang melibatkan Gus Miftah dipandang sebelah mata oleh banyak pihak. Selengkapnya baca di halaman selanjutnya.

"Karena saya dekat, terus saya itu sering podcast sama beliau karena pada saat itu di talkshow dan di TV sudah banyak pakai beliau. Jadi ini itu rentetan," tambah Deddy.

"Lalu ada netizen-netizen yang bilang, 'wah gurunya salah nih, gurunya nggak benar'," kata Deddy menirukan ucapan netizen.
Mentalis itu menyebut bahwa anggapan netizen tak beralasan. Di matanya, sosok Gus Miftah memiliki kehormatan dan tak sepatutnya diejek.

"(Padahal) buat saya Gus Miftah itu luar biasa, buat saya. Tapi yaudah lah, nggak usah diambil pusing," terangnya.

Baru-baru ini, kata Deddy, ia pun sempat kembali dihujat lantaran mengundang dai kondang lainnya yakni Ustaz Khalid Basalamah. Di podcastnya itu, ulama tersebut berdiskusi dengan Deddy mengenai potongan video yang beredar terkait larangan menyanyi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Klik halaman selanjutnya untuk tahu info lengkapnya.

"Terus contoh sederhana (lainnya), kemarin saya ada podcast sama Ustaz Khalid Basalamah, tapi diserang sama netizen, 'ini nggak bener, kenapa nggak Gus Miftah aja yang diundang'. Ada orang DM ke Gus Miftah, ada orang DM ke Ustaz Khalid," terang Deddy.

Pola pikir netizen, kata Deddy, sudah terlalu rumit untuk dipahami karena cenderung selalu negatif. Padahal, lanjutnya, berdialog dengan siapa saja adalah hak tiap individu. Terlebih, Deddy menyadari adanya dampak politik identitas yang mendasari sikap umat muslim tersebut.

"Akhirnya saya sadar satu hal, kok di dalamnya saja pecah. Nah saya berpikir, bisa saja kericuhan ini terjadi karena mungkin saat itu ada politik identitas. Harusnya ke depannya nggak ngeributin ini dong, yang mau beda pendapat yang nggak papa. Asal jangan menghujat bahwa orang ini bener, orang ini salah," Deddy menegaskan.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel