Tantangan Ralf Rangnick semakin berat

·Bacaan 6 menit

Apa sebenarnya yang terjadi pada Manchester United? Mereka sudah punya salah satu pesepak bola terhebat sepanjang masa, Cristiano Ronaldo, belum lagi Jadon Sancho, Bruno Fernandes dan Raphael Varane.

Mereka sudah gonta ganti pelatih hebat seperti Jose Mourinho dan Louis van Gaal serta kini Ralf Rangnick sang arsitek gegenpressing yang diadopsi Juergen Klopp dan Thomas Tuchel. Tetap saja melempem dan sama tidak konsistennya dengan sebelum-sebelumnya.

Bahkan pendukung mereka sudah tak sabar lagi sampai-sampai meninggalkan kebiasaan mereka tak mencerca pelatih apa pun hasil pertandingan tim kesayangan mereka.

Baca juga: Shaw pertanyakan kekompakan MU, Rangnick bela putusan tarik Greenwood

Hal langka terjadi manakala United menyerah 0-1 di kandang sendiri kepada Wolverhampton Wanderers, Selasa dini hari lalu.

Sebelum ini pendukung Setan Merah tak pernah mencemooh pelatih-pelatihnya. Tidak kepada Ole Gunnar Solskjaer, tidak pula kepada Jose Mourinho.

Tetapi kini mereka mengeluarkan umpatan "huu" kepada kepada Ralf Rangnick saat pertandingan di Old Trafford melawan Wolves itu.

Mereka kecewa Rangnick malah menarik Mason Greenwood pada menit ke-60, padahal menurut mereka pemain muda ini tampil relatif bagus dalam pertandingan di mana United memang bermain membosankan dan menjadi pihak yang ditekan justru di kandangnya sendiri.

Umpatan itu tidak hanya kritik terhadap Rangnick, namun lebih luas lagi mencerminkan kekhawatiran mereka terhadap terus menurunnya kualitas permainan Setan Merah sejak dilatih Rangnick padahal dia seharusnya memulihkan kinerja buruk United di bawah Solskjaer pada masa-masa terakhirnya.

Kekecewaan itu membesar ketika fakta untuk pertama kalinya dalam kurun 40 tahun terakhir United takluk di Old Trafford kepada Wolves.

Sungguh situasi yang tidak masuk akal, sekalipun Rangnick baru memimpin lima pertandingan liga dan ini juga kekalahan pertamanya bersama United.

Tetapi di luar setengah jam pertama debut dia memimpin United melawan Crystal Palace beberapa waktu lalu, kenyataannya belum ada petunjuk MU telah memainkan sepak bola penuh energi dan menekan seperti pernah diracik Rangnick dalam tim-tim Bundesliga Jerman.

Lihat lagi saja laga melawan Wolves itu. Man United menjadi tim yang kebingungan menerapkan taktiknya. Mereka bermain tak terarah, selain juga tek bersemangat.

Taktik Rangnick dikritik

Media massa Inggris termasuk BBC justru memuji bek tengah Phil Jones yang bersama kiper David de Gea menjadi dua pemain yang tampil bagus di tengah buruknya keseluruhan skuad. Padahal Jones baru tampil lagi setelah dua tahun absen membela Setan Merah karena cedera dan operasi.

Luke Shaw, bek kiri mereka, pun dibuat kesal dengan berserapah bahwa timnya tidak kompak dan tidak bersemangat, sementara mantan bintang Liga Inggris yang kini pengamat BBC dan talkSPORT, Micky Gray, menyebut pemain-pemain MU bermain buruk sekali.

Gray sampai berkata, "Anda tak bisa melatih pemain yang tak mau dilatih. Itu yang saya lihat dari pemain-pemain Man United saat ini."

Legenda Liverpool Jamie Redknapp mengamini Gray. Kepada Sky Sports, Redknapp mengkritik keputusan Rangnick memaksakan taktik 4-2-2-2 padahal dia tidak dibekali oleh amunisi yang tepat.

"Taktik tak akan jalan jika Anda tak punya pemain yang tepat. Anda mesti memainkan sistem yang tepat," kata Redknapp.

Rangnick sportif. Dia mengakui tim asuhannya memang tampil buruk dan tuna energi. Tetapi dia harus segera menyadari bahwa kondisi ini tak boleh terus terjadi, apalagi manajemen klub ini berharap dia membuat kesinambungan dalam timnya.

MU berharap mantan arsitek di balik RB Leipzig di Jerman itu bisa mengembangkan pemain muda yang sebelum ini telah membantu Solskjaer mencapai sukses sebelum terkapar karena hasil buruk dalam laga-laga terakhir.

Namun kesinambungan itu sulit terpenuhi karena rombongan pembantu Solksjaer ramai-ramai eksodus begitu Rangnick memulai hari pertamanya memimpin Man United.

Rangnick tadinya berharap Michael Carrick bertahan, tetapi mantan pemain yang sempat menjadi manajer sementara usai Solksjaer dipecat itu mengundurkan diri tepat pada hari Rangnick memimpin skuad Setan Merah.

Carrick bukan yang terakhir karena pelatih tim utama Kieran McKenna juga pergi, dengan alasan tertarik melatih klub divisi tiga Ipswich Town. McKenna pergi sambil memboyong Martyn Pert untuk dijadikan asisten pelatihnya di Ipswich.

Rangnick sendiri, yang membawa mantan pelatih New York Red Bulls Amerika Chris Armas untuk membantunya, diserahi tanggung jawab memimpin Setan Merah sampai musim ini selesai.

Namun dia juga sudah diserahi tanggung jawab jangka panjang menjadi konsultan klub yang akan terlibat dalam pengambilan keputusan mengenai manajer MU selanjutnya.

Baca juga: Rangnick alami kekalahan pertama saat MU dipermalukan Wolves 0-1

Seharusnya tak mustahil

Meskipun dia sempat berseloroh mungkin pada akhirnya akan merekomendasikan dirinya sendiri guna menjadi pelatih tetap MU, manajemen Setan Merah sebenarnya lebih terpincut pengalaman Rangnick sebagai direktur sepak bola, menciptakan sistem latihan yang tepat dan struktur terkait performa skuad.

Celakanya, andai masa Rangnick sebagai manajer sementara malah merusak hubungannya dengan penggemar dan juga reputasinya sendiri dalam bagaimana sepak bola dimainkan, maka peran lebih luasnya sebagai orang di belakang layar United pun terancam, termasuk kesempatan dalam menentukan pelatih berikutnya Man United.

Rangnick harus tahu bahwa yang disorot dari kegagalan Mourinho dan Solskjaer serta kini pada awal kepelatihan dia, adalah bahwa skuad United mesti dirombak dengan memberikan tempat lapang kepada bakat-bakat lebih baik dan muda, sembari menyingkirkan pemain senior atau yang tampil di bawah standard.

Selama ini pula rekrutmen pemain yang dilakukan MU dikritik oleh banyak orang karena gagal mentransformasi tim padahal dana sudah dikeluarkan demikian besar. Peluang-peluang pun akhirnya sirna entah ke mana.

Situasi seperti ini pasti membutuhkan perhatian Rangnick. Dia harus mengambil pendekatan lebih cerdas dan lebih efisien untuk mengubah atmosfer atau bahkan kultur sepak bola Setan Merah.

Bahaya terbesar yang dihadapi United adalah seandainya masalah skuad, rekrutmen pemain dan struktur klub tetap saja tak bisa diselesaikan, maka manajer berikutnya akan terpaksa terus saja menangani masalah sama yang telah membuat tiga pelatih sebelum Rangnick terpental tanpa ada koreksi dalam klub.

Baca juga: Ralf Rangnick minta Edinson Cavani bertahan di Manchester United

Lagi pula apakah orang-orang seperti pelatih Paris St Germain Mauricio Pochettino dan manajer Ajax Amsterdam Erik ten Hag yang disebut-sebut calon terkuat menjadi pelatih permanen United, mau mengambil risiko dengan mengulangi kekecewaan sama seperti dialami Solskjaer, Mourinho dan Louis van Gaal?

Seharusnya pula sudah bisa ditangkap apa pesan di balik keputusan pelatih muda kaliber tinggi seperti McKenna yang lebih memilih meninggalkan klub bergengsi seperti MU hanya demi melatih sebuah klub divisi tiga.

McKenna mungkin saja kecewa terhadap manajemen United, tapi dia juga mungkin merasakan apa yang disebut Micky Gray di atas, "buat apa melatih pemain yang tak mau dilatih."

Tugas manajer klub sepak bola di Inggris kerap disebut sebagai posisi yang mustahil karena ekspektasi demikian tinggi kerap tak sesuai dengan realitas objektif yang dihadapi pelatih.

Namun, mengutip analisis Reuters, jika melihat sumber daya besar yang dimiliki Man United maka tugas mengembalikan Setan Merah sebagai tim calon juara seperti Manchester City, Liverpool dan Chelsea semestinya bukan pekerjaan yang mustahil.

Tetapi sudah pasti ini area yang mesti dijawab Rangnick. Apakah dia mesti pragmatis kepada keadaan saat ini atau merasa kini waktunya merombak total Setan Merah. Dia berpacu dengan waktu, hanya lima bulan.

Baca juga: Jorge Mendes bantah rumor Ronaldo tidak bahagia di Manchester United

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel