TanyaDokter: Hamil Tanpa Morning Sickness, Keputihan Mengandung Sperma

Lutfi Dwi Puji Astuti
·Bacaan 1 menit

VIVA – Rubrik #TanyaDokter kembali menghadirkan Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan. Sejumlah pertanyaan seputar kehamilan ditanyakan para pembaca VIVA.

Mulai dari pertanyaan tentang menstruasi, kehamilan tanpa morning sickness hingga keputihan mengandung sperma. Berikut deretan daftar pertanyaan yang ditujukan untuk dokter Spesialis Kebidanan dan kandungan.

Untuk edisi Februari 2021 ini, narasumbernya ialah dr. F.X.A. Bhimantoro, Sp.OG, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, RS Pondok Indah – Pondok Indah.

Yuk simak pertanyaan dan jawabannya seputar kehamilan hingga masalah kandungan.

1.Dok, saya sudah tidak menstruasi selama 4 bulan, dan saya punya kista sebesar 3 sentimeter. Apa yang harus saya lakukan?

Tidak haid selama lebih dari 2 bulan memang disarankan untuk segera berkonsultasi ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan. Untuk dapat dipastikan penyebab dan diagnosisnya. Salah satu penanganannya, apabila tidak ada kehamilan, dapat diberikan obat pengatur haid.

Apabila memiliki kista 3 sentimeter sebaiknya dipastikan dulu jenis kistanya. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui USG transvaginal. Biasanya kista ukuran di bawah 5 sentimeter dan tidak ada gejala klinis dapat diobservasi dulu selama tiga bulan.

2.Dokter, usia hamil saya memasuki 5 minggu, tapi tidak alami morning sickness, apakah normal?

Tidak semua ibu hamil mengalami morning sickness. Jadi tidak perlu khawatir. Apabila belum yakin dengan kondisi kehamilan Anda, silakan diperiksakan langsung ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan

3. Dokter, saya baca di internet katanya cairan pre-cum (cairan keputihan pra-ejukulasi) mengandung sel sperma dan bisa menyebabkan hamil. Apakah cairan tersebut sekuat itu Dok?

Cairan pre-cum sudah mengandung spermatozoa jadi memang bisa terjadi kehamilan apabila ketika berhubungan intim tidak menggunakan alat kontrasepsi.

4.Dok, bagaimana cara mengatasi keputihan yang berulang?

Keputihan berulang harus dicari penyebabnya. Pemeriksaannya bisa dilakukan dengan resistensi cairan vagina untuk mengetahui jenis bakteri dan terapinya. Sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan.