Target Konsumen Insentif PPnBM Mobil 0 Persen Disebut Kurang Tepat

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Insentif fiskal PPnBM (Pajak Penjualan atas Barang Mewah) mobil hingga 0 persen dinilai kurang efektif untuk menggenjot daya beli. Ini karena target dari kebijakan ini menyasar kelas menengah ke bawah, yang justru saat ini paling terdampak pandemi Covid-19.

Pengamat Ekonomi, Piter Abdullah, mengakui jika dia menyambut baik kebijakan ini, tapi sasaran konsumennya kurang tepat dengan segmen kendaraan bermotor ≤ 1.500 cc kategori sedan dan 4x2. Target dari kendaraan ini adalah konsumen menengah ke bawah.

"Program ini bukan untuk meningkatkan daya beli, tapi untuk memanfaatkan daya beli yang masih ada. Karena program ini tidak memberikan sesuatu yg menyebabkan masyarakat memiliki daya beli walaupun harganya diturunkan," kata Piter dalam dialog daring pada Selasa (16/2/2021).

Relaksasi pajak PPnBM ini, kata Piter, tidak menyebabkan masyarakat mendapatkan kembali daya belinya sehingga mampu membeli kendaraan baru.

"Permasalahannya karena target pasarnya adalah kelompok menengah bawah, sementara akibat dari pandemi ini kelompok tersebut yang mengalami dampak penurunan daya beli terbesar. Yang paling banyak mengalami PHK dan kehilangan pendapatan juga kelompok ini, baik di sektor formal maupun informal," sambungnya.

Sasar Menengah Atas

Pekerja mengecek mobil baru siap ekspor di IPC Car Terminal, Jakarta, Rabu (27/3). Pemerintah berencana memacu ekspor industri otomotif dengan harmonisasi skema PPnBM, yaitu tidak lagi dihitung dari kapasitas mesin, tapi pada emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor.  (Liputan6.com/Johan Tallo)
Pekerja mengecek mobil baru siap ekspor di IPC Car Terminal, Jakarta, Rabu (27/3). Pemerintah berencana memacu ekspor industri otomotif dengan harmonisasi skema PPnBM, yaitu tidak lagi dihitung dari kapasitas mesin, tapi pada emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Kebijakan pemerintah ini dinilai akan lebih baik jika juga menyasar kelompok masyarakat menengah atas. Terlebih lagi, katanya, berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, kontribusi konsumsi Rumah Tangga terbesar adalah kelompok menengah atas sebesar 80 persen.

Dorongan untuk peningkatan konsumsi kelompok menengah ke atas akan berpengaruh sangat besar terhadap pertumbuhan demand di Indonesia.

"Pembebasan atau penurunan PPnBM ini dengan sasaran utamanya menengah bawah, maka efektivitasnya relatif lebih kecil dibandingkan apabila kebijakan ini diberikan juga kepada kendaraan bermotor yang target pasarnya itu kelompok menengah atas," jelas Piter.

Ia pun berharap pemerintah juga akan memberikan insentif untuk kedua kelompok masyarakat tersebut. Besaran insentif, menurut Piter, tidak perlu sama.

"Sehingga dua kelompok masyarakat itu, menengah bawah maupun menengah atas sama-sama mendapatkan insentif untuk menjadi pemicu akselerasi pertumbuhan kembali konsumsi khususnya di otomotif," tuturnya.

Saksikan Video Ini