Tarikan Utang Rp 1.200 Triliun di 2020 Disebut Belum Bisa Maksimal Pulihkan Ekonomi RI

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah diminta terus menambah efektivitas stimulus fiskal dengan memperbaiki penerimaan bantuan sosial dari pemerintah. Sebab, berbagai stimulus yang diberikan tidak lantas berdampak signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

"Efektivitas stimulus fiskal harus diperbaiki karena kita sudah habis banyak mengeluarkan tambahan pembiayaan dan utang di tahun 2020," kata Direktur Eksekutif INDEF, Ahmad Tauhid di Jakarta, Minggu (7/2/2021).

Dikatakan jika pada tahun 2020, pemerintah telah mencetak utang hingga Rp 1.200 triliun. Angka itu naik empat kali lipat dari yang biasanya sekitar Rp 300 triliun.

Namun, Ahmad Taufik mengatakan jika dampak dari penambahan utang tersebut belum banyak menolong pertumbuhan ekonomi. "Dampaknya ke ekonomi ini belum greget, ini sangat penting," kata dia.

Sebab itu, pemerintah diminta membenahi mekanisme penyaluran stimulus fiskal kepada masyarakat. Selain itu, perubahan alokasi anggaran untuk Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) juga harus dicermati.

Diakui dampak penyaluran bantuan telah dirasakan masyarakat, tetapi hal tersebut tidak lantas berdampak langsung kepada sektor ekonomi.

Begitu juga dengan sektor kesehatan yang justru penyebaran virus Covid-19 makin tinggi, alih-alih harusnya bisa dikendalikan. "Out put ini memang bagus tapi ke sektor ekonominya rendah, ini harus dikaji ulang," tegas dia.

Termasuk juga berbagai kegiatan PEN yang justru dinilai melakukan pemborosan dan tidak efektif. Padahal yang harus diprioritaskan agar mendorong pertumbuhan konsumsi masyarakat dengan menjaga sektor makanan dan minuman yang terjaga dengan baik.

Dengan menjaga efektivitas ini diharapkan bisa memberikan jumlah stimulus yang lebih besar kepada masyarakat kelas bawah. "Masyarakat bawah 20 persen ini harus dikasih bantuan dengan nilai yang lebih besar," kata dia.

Reporter: Anisyah Faqir

Sumber: Merdeka.com

Pemerintah Terbitkan Global Bonds, Cadangan Devisa Januari 2021 Naik Jadi USD 138 Miliar

Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonesia, Jakarta. (Merdeka.com/Arie Basuki)
Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonesia, Jakarta. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Bank Indonesia (BI) mengumumkan posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia pada akhir Januari 2021 sebesar USD 138,0 miliar. Angka tersebut naik jika dibandingkan dengan posisi pada akhir Desember 2020 yang tercatat USD 135,9 miliar.

Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menjelaskan, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 10,5 bulan impor atau 10,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

"Selain itu juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," jelas dia dalam keterangan tertulis, Jumat (5/2/2021).

Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Peningkatan posisi cadangan devisa pada Januari 2021 terutama dipengaruhi oleh penerbitan global bonds pemerintah dan penerimaan pajak.

Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga, seiring dengan berbagai respons kebijakan dalam mendorong pemulihan ekonomi.

Saksikan Video Ini