Tarung Bebas ala Pesilat NU Kini Berubah  

TEMPO.CO, Kediri - Format pertandingan pencak silat di perguruan silat dan pondok pesantren Nahdatul Ulama diubah. Ketua Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia (GASMI), Zainal Abidin, mengatakan perubahan dilakukan sebagai solusi, setelah muncul larangan dari Kepolisian Resor Kediri dua bulan lalu. ”Kami telah berunding dengan polisi,” kata pendekar yang akrab disapa Gus Bidin itu kepada Tempo, di Kediri, Jawa Timur, Rabu, 9 Januari 2013.

Gus Bidin menjelaskan, sejumlah kesepakatan dicapai. Di antaranya, pertandingan yang sebelumnya berupa full contact, atau yang dikenal dengan tarung bebas, kini para pesilat yang ikut pertarungan diwajibkan menggunakan alat pelindung. Mulai dari pelindung alat kemaluan, sarung tangan, hingga pelindung gigi. Lantai tempat pertandingan juga harus dilapisi matras. Bambu yang biasa digunakan sebagai ring harus diganti dengan bahan yang tidak berbahaya.

Ia menambahkan, setiap peserta juga diwajibkan menandatangani surat perjanjian dengan pihak panitia tentang risiko pertandingan agar tidak terjadi tuntutan hukum. Sebab risiko pertarungan sangat tinggi, seperti cedera tulang, luka terbuka, hingga gegar otak.

Selama ini, kata Gus Bidin, aturan main dan pengawasan dipercayakan kepada pesilat senior dan tidak pernah ada tuntutan hukum. Sebab peserta sudah menyadari risiko sebagai bagian dari tempaan fisik untuk menjadi pendekar tangguh. Bahkan mereka memiliki kebanggaan dan kehormatan sebagai laki-laki atas luka yang dialaminya. ”Ini budaya dan tradisi,” ujar keponakan almarhum Kiai Maksum Jauhari, pendekar digdaya dari Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Itu sebabnya ketika polisi melarang, para pendekar marah. Mereka siap melakukan unjuk rasa besar-besaran di Markas Polres Kediri. Namun polisi menyikapinya dengan cara berunding. Selain melibatkan pendekar silat senior NU, juga pejabat pemerintah, serta Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Pihak kepolisian juga memberikan bantuan sejumlah peralatan pertandingan dari Aikido Brigade Mobil meski jumlahnya terbatas. ”Larangan kami lakukan justru untuk melindungi para pesilat,” ucap Kapolres Kediri, Ajun Komisaris Besar Ratno Kuncoro.

Ratno mengatakan pola pertarungan yang biasanya berdarah itu harus diubah. Selain lebih aman, juga layak ditonton. Sebagai penegak hukum, polisi harus menindaklanjuti jika ada tuntutan hukum dari peserta yang terluka.

HARI TRI WASONO

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.