Tata Cara Menjadi Mualaf, Persiapkan dengan Mengenali Keberadaan Allah SWT

·Bacaan 6 menit

Liputan6.com, Jakarta Orang yang baru masuk atau memeluk agama Islam disebut sebagai mualaf. Bagaimana cara menjadi mualaf? Ada hal-hal yang perlu dipersiapkan ketika seorang non-muslim ingin menjadi muslim sejati.

Pesiapan cara menjadi mualaf adalah mengenali keberadaan Allah SWT dan mengenali Rububiyah Allah SWT. Lalu mengenali Uluhiyah Allah SWT, mengenali nama dan sifat-sifat Allah SWT, serta mulai mengenali diri sendiri.

Bila sudah dipersiapkan dengan matang, tata cara menjadi mualaf bisa disimak. Tahapan cara menjadi mualaf diungkapkan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam kitabnya, Al Ghunyah. Meliputi mengungkap kalimat syahadat, mandi sebagai sunnah, menunaikan ibadah wajib, dan berdoa.

Berikut Liputan6.com ulas tata cara menjadi mualaf atau memeluk agama Islam dari berbagai sumber, Kamis (15/4/2021).

Persiapan Cara Menjadi Mualaf

Ilustrasi mualaf. Credit: freepik.com
Ilustrasi mualaf. Credit: freepik.com

Mengenali Keberadaan Allah SWT

Hal yang perlu dipersiapkan pertama kali dari cara menjadi mualaf adalah mengenali keberadaan Allah SWT. Mulailah tanamkan keimanan kepada-Nya. Meyakini bahwa hanya Allah SWT satu-satunya Tuhan dan Pencipta alam semesta.

Persiapan cara menjadi mualaf ini bisa dilakukan dengan melihat segala bentuk ciptaan-Nya. Akal akan menyimpulkan bahwa keberadaan benda-benda tersebut didasarkan pada pencipta, dan tidak serta merta ada dengan sendirinya tanpa alasan.

Selain panca indera, persiapan cara menjadi mualaf dengan mengakui adanya Allah SWT bisa dilakukan setelah melihat fenomena orang yang berdoa. Lalu orang-orang yang menyeru kepada Allah SWT, dan meminta sesuatu pada-Nya untuk dikabulkan.

Mengenali Rububiyah Allah SWT

Bila sudah mengenali keberadaan Allah SWT, persiapan cara menjadi mualaf selanjutnya dengan mengenali rububiyah-Nya. Hal ini diperuntukkan untuk mengakui ke-Esa-an Allah SWT.

Maksudnya adalah mengakui bahwa Allahlah yang menciptakan, memiliki, menguasai, dan mengatur seluruh mahluk ciptaan-Nya di dunia. Hanya Allah yang menghidupkan, mematikan, memberikan rezeki, mendatangkan kebaikan, hingga mendatangkan bencana di muka bumi.

Rububiyah pun membuat seseorang yakin bahwa hanya Allah SWT yang mengawasi, mengatur, menjadi penguasa, pemilik hukum, dan sebagainya yang menunjukkan kekuasaan tunggal Allah SWT.

Allah berfirman, “Katakanlah!' Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash: 1-4)

Persiapan Cara Menjadi Mualaf dengan Mengenali Uluhiyah Allah SWT

Ilustrasi Al-Qur’an. Credit: freepik.com
Ilustrasi Al-Qur’an. Credit: freepik.com

Persiapan cara menjadi mualaf atau memeluk agama Islam untuk pertama kali adalah meyakini hanya kepada Allah SWT semata kita harus beribadah. Umat muslim tidak boleh memberikan ibadah kepada siapapun selain Allah bahkan kepada mahluk yang dekat dengan-Nya seperti malaikat dan Rasul.

Apalagi jika diberikan kepada mahluk yang derajatnya berada di bawah mereka seperti manusia, jin, binatang, pohon, dan lain sebagainya. Persiapan cara menjadi mualaf untuk yang Uluhiyah ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Fatihah ayat 5.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Hanya kepada-Mu ya Allah kami menyembah dan hanya kepada-Mu ya Allah kami meminta.” (Al Fatihah: 5)

Tujuan dari persiapan cara menjadi mualaf dengan mengenali Uluhiyah Allah SWT adalah supaya umat manusia mencintai Allah. Lantas menjadi tunduk kepada-Nya, takut, dan berharap kepada-Nya serta mengesakan ibadah hanya kepada-Nya.

Ruang lingkup ibadah dalam Islam adalah segala yang dicintai dan diridhai oleh Allah SWT, baik berupa perkataan dan perbuatan, yang lahir maupun batin. Ibadah seorang yang beriman akan diterima berdasarkan dua syarat, ikhlas dan mutaba’ah.

Persiapan Cara Menjadi Mualaf

Ilustrasi Muslim. Image by Igor Ovsyannykov from Pixabay
Ilustrasi Muslim. Image by Igor Ovsyannykov from Pixabay

Mengenali Nama dan Sifat Allah SWT

Mengenali nama dan sifat-sifat Allah SWT merupakan persiapan cara menjadi mualaf atau sebelum memeluk agama Islam. Mulailah dengan mengimani dan menetapkan seluruh nama dan sifat-sifat-Nya yang sudah disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

Allah SWT berfirman, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Asy-Syûrâ: 11).

Selain mengenal Allah, persiapan cara menjadi mualaf dengan mengenali rasul-rasul-Nya juga penting. Hal ini yang menjadikan segala penjelasan para Rasul tentang Allah adalah haq atau benar. Sementara perkataan orang-orang kafir dan musyrik tentang Allah SWT hanya dugaan semata.

Allah berfirman, “Maha suci Rabbmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan, dan kesejahteraan dilimpahkan atas Para rasul, dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam." (Ash-Shaffat: 180-182)

Mengenal Diri Sendiri

Untuk persiapan cara menjadi mualaf atau memeluk agama Islam yang terakhir adalah mengenal diri sendiri. Kenali diri sendiri secara dzahir dan batin. Memahami diri secara dzahir dimaksudkan agar diri senantiasa bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah SWT pada diri.

Selain dzahir, mengenal diri sendiri secara batin termasuk persiapan cara menjadi mualaf yang penting. Bila sudah mengenal diri secara batin, maka diri akan lebih mudah mengenal Allah SWT dan semakin dekat dengan-Nya.

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS. Al Hijr: 29).

Tata Cara Menjadi Mualaf

Ilustrasi mualaf. Credit: freepik.com
Ilustrasi mualaf. Credit: freepik.com

Terdapat beberapa tahapan dari tata cara menjadi mualaf atau masuk Islam. Cara menjadi mualaf ini diungkapkan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam kitabnya, Al Ghunyah. Berikut penjelasannya:

Membaca Syahadat

Cara menjadi mualaf pertama adalah membaca dua kalimat syahadat, yakin akan keesaan Allah SWT dan Muhammad adalah utusannya.

Lafalnya harus dibaca “Asyhadu an la ilaha illallah. Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah”

Artinya: "Saya bersaksi tidak ada tuhan selain Allah dan saya bersaksi Muhammad adalah utusan Allah."

Bila sudah mengucapkan kalimat syahadat, pastikan tidak hanya dari perkataan saja. Melainkan cara menjadi mualaf bagian ini harus diyakini dalam hati dan dilakukan dengan perbuatan.

Mandi Besar

Cara menjadi mualaf yang kedua adalah mandi. Sebagian ulama mewajibkan seseorang yang baru memeluk Islam untuk mandi. Sebagian lainnya menilai mandi usai bersyahadat sebatas kesunnahan saja.

Menunaikan Kewajiban

Sebagaimana muslim yang lain, cara menjadi mualaf ketiga adalah menunaikan kewajiban. Seorang mualaf atau baru memeluk agama Islam harus menjalankan kewajiban dalam Islam.

Mulai dari salat fardhu lima waktu, puasa Ramadan, dan lain sebagainya. Agar paham tata cara ibadah dalam Islam, mualaf sangat dianjurkan untuk mencari guru atau ustaz. Guru tersebut akan memberikan bimbingan kepada mualaf mengenai ibadah.

Berdoa

Tata cara menjadi mualaf yang terakhir adalah memanjatkan doa. Setelah memeluk Islam, mualaf dianjurkan untuk rutin membaca doa ini agar senantiasa selalu diberikan petunjuk oleh Allah SWT.

Allahummaghfirli, warhamni, wahdini, wa 'afini, warzuqni.

Artinya:

"Tuhanku, ampunilah dosaku, kasihanilah aku, berikan petunjuk untukku, selamatkanlah aku, dan berikan anugerah-Mu untukku."

Panduan Cara Menjadi Mualaf dalam Kitab Al Ghunyah

Ilustrasi Al-Qur'an. Credit: pexels.com/Ali
Ilustrasi Al-Qur'an. Credit: pexels.com/Ali

Syeikh Abdul Qadir Al Jailani membuat panduan mengenai tata cara menjadi mualaf atau memeluk agama Islam. Hal ini sudah dijelaskan sebelumnya. Panduan tersebut tertuang dalam kitabnya, Al Ghunyah.

"Pertama, melafalkan dua kalimat syahadat, la ilaha illallah muhammad rasulullah (tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah). Berlepas diri dari agama selain Islam. Meyakini dalam hatinya keesaan Allah SWT.

Kemudian diwajibkan mandi sebagaimana Rasulullah memerintahkan mandi Tsumamah bin Utsal dan Qis bin 'Ashim ketika masuk Islam.

Kemudian diwajibkan sholat karena iman mesti berbarengan antara perkataan dan perbuatan, sebab perkataan ibarat klaim dan amal sebagai bukti. Perkataan merupakan bentuk formal, sementara amalan substansi atau ruhnya."