Tata ulang zonasi pelayanan, redam "hospital phobia"

·Bacaan 6 menit

Siang itu, lorong sisi timur RSUD dr Iskak, yang biasa digunakan sebagai ruang rawat inap kelas 3, tampak lengang. Tak banyak aktivitas terlihat. Hanya beberapa petugas berseragam merah dan hitam tampak memindahkan papan berwarna biru muda menuju sisi barat.

Papan-papan biru berbahan aklirik transparan tersebut sebelumnya berfungsi sebagai portal pembatas antara ruang isolasi COVID-19 dengan ruang non-COVID-19.

Suasana sunyi dan lengang terasa jelas di instalasi rawat inap (IRNA) Boegenvile. Terlebih setelah ruangan yang berada di sisi timur rumah sakit ini ditata ulang setelah dijadikan ruang isolasi COVID-19. Jika sebelumnya, hanya terlihat tenaga kesehatan (nakes) yang boleh keluar-masuk di ruangan ini, kini suasananya terlihat lebih longgar.

Tidak lagi ketat seperti saat ruangan ini difungsikan sebagai ruang isolasi COVID-19. Kerabat/penunggu sudah boleh masuk ruangan mendampingi pasien. Beberapa dari mereka bahkan leluasa duduk-duduk santai di taman sembari menanti kerabatnya yang menjalani perawatan.

Pemandangan tersebut berbeda 180 derajat jika dibandingkan pada pertengahan Juli 2021 lalu. Dimana saat itu, terjadi gelombang tsunami COVID-19, sehingga membuat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) RSUD dr Iskak melonjak tajam. Hal ini berbanding lurus seiring meningkatnya jumlah pasien terkonfirmasi COVID-19 dengan gejala sedang hingga berat.

Manajemen memang belum memperbolehkan jam kunjung pasien. Namun adanya kebijakan baru yang tidak lagi mewajibkan tes antigen bagi penunggu pasien, disambut gembira sejumlah keluarga dan kerabat pasien. Mereka lega karena pelonggaran kebijakan itu membuat suasana di lingkungan rumah sakit tidak lagi mencekam seperti saat puncak pandemi beberapa waktu lalu.

Sekalipun untuk tes antigen tidak memberatkan, ketentuan itu membuat banyak orang awam paranoid. Skrining ketat pada pengunjung dipersepsikan sebagai tingginya risiko penularan COVID-19. Hal ini pula yang dirasakan keluarga pasien seperti Suparni.

Pria paruh baya asal Blitar yang sedang menunggui istrinya menjalani rawat inap di IRNA Bougenvile. Waspada tetap, protokol kesehatan juga tetap dia lakukan. Namun setidaknya rasa was-wasnya tidak lagi sama seperti saat angka kasus Corona di daerah-daerah, termasuk di Blitar dan Tulungagung, sedang tinggi-tingginya.

“Dulu rasanya kalau ada benda asing masuk ke hidung itu saya kadang takut. Kalau aturannya sudah berubah begini saya bisa lebih tenang saat menemani istri, biarpun belum ada jam besuk,” ujarnya.

Suparni mengakui bahwa masih ada sedikit rasa khawatir saat hendak ke rumah sakit. Hal ini berkaitan karena kondisi pandemi COVID-19 yang belum sepenuhnya hilang, kendati angka kasusnya sudah jauh mereda. Namun setelah melihat sendiri bagaiamana pelayanan dan penanganan pasien di RSUD dr Iskak, rasa khawatir itu sirna.

“Saat awal masuk saya dijelaskan oleh petugas di depan bahwa pasien non-COVID-19 dipisah dengan pasien COVID-19, baik alur maupun ruangan yang digunakan. Ini membuat kami (merasa) tenang,” ujarnya.

Apa yang dirasakan Suparni juga dirasakan banyak kerabat pasien lain di RSUD dr. Iskak. Mereka merasa lebih nyaman dan terlindungi. Tidak ada lagi rasa terancam. Seperti perang telah usai. Dan yang ada sekarang adalah masa pemulihan, menuju kenormalan baru dengan tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan. Seperti memakai masker medis, mencuci tangan dan senantiasa hand sainitizer, menjaga jarak, serta menjaga pola makan yang sehat dan higienis.

Baca juga: Perangkat hemodialisis RSUD Tulungagung Jatim bertambah jadi 35 unit

Baca juga: Daya pengabdian pemulasara jenazah di tengah pandemi COVID-19

Tata ulang zonasi

Sedikitnya terdapat 20 unit ruangan yang ditata ulang sesuai dengan zonasinya. Salah satu contohnya adalah ruangan virtual yang berada tepat di timur rumah sakit. Sebelumnya, ruangan tersebut berfungsi sebagai instalasi gawat darurat (IGD) non-COVID-19. Kini, ruang tersebut dikembalikan fungsinya sebagai ruang perawatan kelas III non-COVID-19

Meskipun melakukan penataan ulang terhadap beberapa unit ruangan, namun pihak rumah sakit tetap menyisakan beberapa unit ruangan untuk ruang isolasi, dan ruang isolasi intensif untuk pasien COVID-19. Seperti ruang pulmonory yang tetap digunakan sebagai ruang isolasi intensif COVID-19.

Sementara untuk gedung Graha Mandiri, yang semula difungsikan sebagai ruang rawat inap bagi pasien non-COVID-19 berbagai kelas, kini gedung tersebut hanya diperuntukkan bagi pasien kelas II, I, VIP, VVIP, dan presiden suite non-COVID-19.

Wakil Direktur Pelayanan RSUD dr Iskak dr Zuhrotul Aini, Sp.A memaparkan, selang dua bulan pasca “tsunami” COVID-19 pada periode Juli, pemandangan di RSUD dr Iskak terasa berbeda.

Hal ini seiring menurunnya kasus aktif COVID-19 di Tulungagung, dan merata di hampir semua kecamatan. Bahkan lorong-lorong sisi barat dan timur yang biasanya berseliweran tenaga kesehatan (nakes) lengkap dengan alat pelindung diri (APD) level 3, kini menjadi lebih lengang.

Para “astronot” tak lagi hilir-mudik hampir saban jam. Hanya terlihat 2-3 nakes yang sesekali berseliweran mendorong bed pasien, ataupun sebatas melakukan pemeriksaan.

Bahkan, tercatat pada 14 Oktober 2021, hanya 34 bed di ruang isolasi yang masih terisi. Dengan demikian BOR di ruang isolasi turun lagi menjadi 24 persen. Sementara BOR di ruang ICU RSUD dr. Iskak berada pada angka 41 persen.

Padahal pada saat puncak pandemi COVID-19 gelombang 2 di periode Juni-Juli 2021, dari total ketersediaan tempat tidur pasien sebanyak 284 bed, sempat terisi 87 persen atau sebanyak 246 tempat tidur (TT) pada 17 Juli 2021. Sementara untuk ruang ICU sendiri, RSUD dr Iskak menyiapkan sebanyak 73 TT, saat itu terisi 40 TT, sehingga membuat BOR di ruang ICU mencapai 55 persen.

Kondisi ini, ujar Aini membuat rumah sakit harus kembali berbenah. Salah satunya dengan mengembalikan fungsi semula dari beberapa ruangan yang sebelumnya digunakan sebagai ruang isolasi. Utamanya ruangan-ruangan yang berada di sayap timur rumah sakit. "Untuk itulah manajemen memutuskan untuk melakukan penataan ulang zonasi ruang rawat inap."

“Dengan penataan ulang ini, tujuannya untuk efisiensi SDM, yang mana nakes kami yang tidak bertugas di ruang isolasi dapat memperkuat di ruangan lain yang lebih membutuhkan. Selain itu, juga untuk efisiensi APD, karena untuk APD yang digunakan di ruang isolasi adalah APD level 3,” ujarnya.

Baca juga: Dr Supriyanto: Penggunaan sarung tangan picu penularan virus corona

Baca juga: Dinkes Tulungagung gelar vaksinasi COVID-19 khusus untuk ibu hamil

Redam Hospital Phobia

Penataan ulang zonasi ruangan salah satu tujuannya adalah untuk menghilangkan ketakutan akan rumah sakit atau hospital phobia. Oleh karenanya kebijakan ini diikuti dengan langkah-langkah penting lain dalam kerangka protokol kesehatan sekaligus penyesuaian kebutuhan lapangan, seperti fumigasi (dry mist) rutin dilakukan di setiap ruangan secara berkala, serta mengembalikan ruangan ke fungsi asalnya.

Tindakan itu pula yang dilakukan di beberapa instalasi rawat inap seperti di IRNA Bougenvile yang sebelumnya menjadi ruang isolasi, kini digunakan sebagai rawat inap non-COVID-19 kelas III juga sudah dilakukan sterilisasi dan aman.

Selain adanya fumigasi secara berkala, alur penanganan pasien COVID-19 dan non-COVID-19 tetap dibedakan. Hal ini demi keselamatan pasien dan juga nakes yang bertugas. Menihilkan risiko penularan virus Corona baru (SARS-CoV-2).

Untuk itu, setiap pasien yang masuk ke RSUD dr. Iskak selalu dilakukan pengambilan swab atau tes usap PCR. Pihak rumah sakit juga tetap memberlakukan ruangan-ruangan transit bagi pasien yang masih menunggu hasil tes usap PCR, agar tidak akan bercampur dengan pasien lain.

Baca juga: Dua puskesmas gelar vaksinasi COVID-19 khusus kelompok ODGJ

Baca juga: Dinkes Tulungagung gencarkan vaksinasi "jemput bola" dari desa ke desa

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel