TDPM akui kesulitan bayar MTN tapi klaim fundamental baik

·Bacaan 2 menit

Emiten petrokimia dari bahan baku khusus PT Tridomain Performance Materials Tbk (TDPM) mengakui kesulitan membayar kewajiban pembayaran pokok untuk surat utang jangka menengah Medium Term Notes (MTN) II Tridomain Performance Materials Tahun 2018 secara langsung, tapi mengklaim fundamental perseroan masih baik hingga saat ini.

"Kondisi kini kita semua terkena masalah pandemi. Semua produk TDPM yang digunakan konsumen seperti cat dan lainnya, maka kita mau tidak mau terkena dampak. Hingga saat ini perseroan berhubungan baik dengan kreditur, tapi kami harus melakukan penjadwalan ulang. Namun komitmen pemegang saham semuanya dapat terselesaikan karena fundamental memadai, tapi kalau membayar secara langsung akan kesulitan," kata Financial Advisor TDPM Hendri Kurniadi saat paparan publik insidentil secara virtual di Jakarta, Selasa.

MTN II Tridomain Performance Materials Tahun 2018 sejatinya telah jatuh tempo pada 27 April 2021 sebesar Rp410 miliar, namun TPDM mengalami gagal bayar MTN tersebut. Hendri mewakili manajemen TPDM pun meminta maaf kepada pemegang MTN.

"Untuk MTN II itu sudah jatuh tempo, dan sekarang kami selaku financial advisor mohon maaf kepada MTM holder. Kami dari manajemen berharap seluruh MTM dan bond holder juga tenang, karena operasional perusahaan berjalan baik walaupun perusahaan mengalami beberapa tantangan karena fasilitas terbatas, namun insya Allah semua bisa teratasi," ujar Hendri.

Baca juga: Asosiasi eminten minta pasar modal diperkuat antisipasi dampak pandemi

Hendri mengatakan saat ini perseroan bersama dengan seluruh tim financial advisor bekerja keras melakukan restrukturisasi dan diharapkan proposal segera dapat diberikan khususnya kepada pemegang MTN.

"Namun, bond holder juga akan dilakukan secara bersamaan sekaligus bersama bank yang terkonsolidasi di Tridomain. Jadi, di seluruh anak perusahaan yang operasional kita akan lakukan restrukturisasi," kata Hendri.

Terkait sumber pembiayaan untuk membayar kewajibannya, Hendri menyebutkan sejumlah opsi. Pertama adalah dari internal perusahaan meski tentunya relatif terbatas. Opsi kedua, perseroan melakukan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue.

"Kita lakukan rights issue mungkin tidak tahun ini tapi tahun depan. Dana dari pemegang saham saat ini sesuai proporsinya atau kita perseroan melakukan strategi private placement penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dulu. Ini dilakukan dengan cara untuk menyehatkan dan tidak merugikan seluruh stakeholder, jadi tentu saja mengeluarkannya sangat terbatas. Namun itu alternatif," ujar Hendri.

Sedangkan beberapa opsi lainnya perseroan tengah membicarakan hal tersebut dengan agen pemantau dan wali amanat.

Hendri kembali menjelaskan bahwa penyebab gagal bayar MTN oleh TPDM relatif kompleks. Perusahaan berupaya melakukan investasi jangka panjang dan memerlukan pendanaan untuk jangka pendek, namun dalam kondisi pandemi ada beberapa hal yang di luar antisipasi.

"Tentu ada penurunan omzet. Kedua, kemunduran pembayaran. Ketiga, proses produksi masa pandemi dengan prokes, adjustment yang begitu sulit. Keempat, untuk dapat fasilitas pendanaan itu tidak semudah pada kondisi normal, tapi perusahaan masih beroperasi sangat baik karena tidak melakukan PHK, dan operasional berjalan. Perseroan juga menjaga hubungan baik dengan kreditur, buyer, dan supplier," kata Hendri.

Baca juga: BEI: Meski pandemi, 51 perusahaan catatkan saham di bursa
Baca juga: BEI resmikan pencatatan saham Gihon dan Tridomain