Teater Koma Tampil Muda Dengan Musik K-Pop dan Multimedia

Produksi ke-159 bertajuk J.J Sampah-Sampah Kota dari Teater Koma ini juga tampil muda dengan tampilan multimedia dan tata cahaya yang sedikit tidak biasa, memadukan tata cahaya konser dan pertunjukan teater. (Bambang E Ros/Fimela.com)

Produksi ke-159 bertajuk J.J Sampah-Sampah Kota dari Teater Koma ini juga tampil muda dengan tampilan multimedia dan tata cahaya yang sedikit tidak biasa, memadukan tata cahaya konser dan pertunjukan teater. (Bambang E Ros/Fimela.com)

Tokoh Mandor Kepala, menjadi satu-satunya lakon yang hanya muncul lewat multimedia. Beradu peran dengan empat lakon anak buahnya yang nyata berada di atas set panggung bertingkat. (Bambang E Ros/Fimela.com)

Tokoh Mandor Kepala, menjadi satu-satunya lakon yang hanya muncul lewat multimedia. Beradu peran dengan empat lakon anak buahnya yang nyata berada di atas set panggung bertingkat. (Bambang E Ros/Fimela.com)

Lakon J.J Sampah-Sampah Kota berasal dari dua karakter Jian dan Juhro, dua pemulung yang ditemui Nano Riantiarno di Cirebon, Jawa Barat, dan kemudian ditulis Nano selama enam bulan di Amerika Serikat pada tahun 1978. (Bambang E Ros/Fimela.com)

Lakon J.J Sampah-Sampah Kota berasal dari dua karakter Jian dan Juhro, dua pemulung yang ditemui Nano Riantiarno di Cirebon, Jawa Barat, dan kemudian ditulis Nano selama enam bulan di Amerika Serikat pada tahun 1978. (Bambang E Ros/Fimela.com)

Setelah 40 tahun berlalu, dan telah dipentaskan kali pertama pada tahun 1979 oleh Teater Koma, drama pertunjukan ini kembali dipentaskan melalui proses regenerasi lewat arahan Rangga Riantiarno selaku sutradara. (Bambang E Ros/Fimela.com)

Setelah 40 tahun berlalu, dan telah dipentaskan kali pertama pada tahun 1979 oleh Teater Koma, drama pertunjukan ini kembali dipentaskan melalui proses regenerasi lewat arahan Rangga Riantiarno selaku sutradara. (Bambang E Ros/Fimela.com)

Gubuk liar pinggir kali di bawah kolong jembatan tempat tingga Jian dan Juhro menjadi latar panggung yang tidak berganti sejak awal hingga akhir pertunjukan. Sama seperti nasib Jian dan Juhro yang tetap miskin, meski rajin dan giat bekerja. (Bambang E Ros/Fimela.com)

Gubuk liar pinggir kali di bawah kolong jembatan tempat tingga Jian dan Juhro menjadi latar panggung yang tidak berganti sejak awal hingga akhir pertunjukan. Sama seperti nasib Jian dan Juhro yang tetap miskin, meski rajin dan giat bekerja. (Bambang E Ros/Fimela.com)

Cerita yang tetap relevan dengan kondisi saat ini, Jian yang bekerja sebagai kuli sampah dengan gaji harian dan Juhro, istrinya yang sedang hamil tua. Meskipun tidak punya jaminan masa depan, tetapi mereka dapat hidup bahagia berkat kejujuran. (Bambang E Ros/Fimela.com)

Cerita yang tetap relevan dengan kondisi saat ini, Jian yang bekerja sebagai kuli sampah dengan gaji harian dan Juhro, istrinya yang sedang hamil tua. Meskipun tidak punya jaminan masa depan, tetapi mereka dapat hidup bahagia berkat kejujuran. (Bambang E Ros/Fimela.com)

Pagelaran yang di dukung Bakti Budaya Djarum Foundation ini dibuka untuk umum mulai tanggal 8-17 November 2019 dengan durasi sekitar 3 jam di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. (Bambang E Ros/Fimela.com)

Pagelaran yang di dukung Bakti Budaya Djarum Foundation ini dibuka untuk umum mulai tanggal 8-17 November 2019 dengan durasi sekitar 3 jam di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. (Bambang E Ros/Fimela.com)