Teka Teki Penyebab Jatuhnya Pesawat Latih TNI AL di Selat Madura

Merdeka.com - Merdeka.com - Rabu (7/9), pesawat latih milik TNI Angkatan Laut (AL) jenis G-36 Bonanza dengan Nomor Registrasi T-2503 takeoff dari Lanud Juanda Surabaya pukul 08.44 WIB, kemudian dilaporkan hilang kontak sekitar pukul 08.55 WIB. Pesawat diketahui terjatuh di perairan selat Madura saat tengah melaksanakan latihan guna memeriahkan HUT TNI AL ke-77 pada 10 September 2022 mendatang.

Awak pesawat jenis Bonanza, Judistira Eka Permady sebagai pilot, dan Dendy Kresna Bhakti selaku co pilot ditemukan meninggal dunia usai dievakuasi oleh tim SAR TNI Angkatan Laut. Proses evakuasi jenazah sempat tersendat karena badan pesawat dalam posisi terbalik dan kedua awak masih pada posisi duduk masing–masing dengan masih terikat selfbelt.

Penyebab kecelakaan pesawat masih belum terpecahkan. Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Yudo Margono menuturkan, investigasi terkait penyebab jatuhnya pesawat Bonanza akan dilakukan secepatnya mengingat hal ini dapat berdampak pada pelaksanaan operasi dan latihan pesawat–pesawat yang lain.

"Secepatnya (investigasi dilakukan). Kita pasti secepatnya, karena jangan sampai ini tertunda lama sehingga mengganggu pelaksanaan operasi dan latihan bagi pesawat-pesawat yang lain," kata Yudo di Jakarta, Kamis lalu.

Yudo pun telah memerintahkan Danpuspenerbal Laksamana Muda (Laksda) Dwika Tjahja Setiawan untuk melaksanakan investigasi. "Kalau saya enggak punya target waktu, tapi saya perintah secepatnya jangan sampai ini mengganggu opas latihan dari pesawat-pesawat yang sudah ada," lanjutnya.

Beberapa faktor yang juga akan diselidiki terkait kelayakan pesawat. Mengingat pesawt nahas tersebut baru selesai menjalani perawatan pada Agustus lalu.

Beberapa pihak yang akan dilibatkan dalam investigasi penyebab kecelakaan pesawat adalah Inspektorat Jenderal Angkatan Laut dan Inspektorat Jenderal Puspenerbal.

"Kalau nanti hasilnya dari Irjenal menyatakan Harlahnya tidak benar ya harus kita evaluasi, harus begini, begini. Tentunya dari hasil investigasi itu nanti akan muncul semuanya, kalau memang harlahnya kemarin tidak benar, ya tentunya akan menjadi temuan bahwa harlahnya tidak benar," terang Yudo.

Menurut Yudo, tidak menutup kemungkinan senior penerbangan di Angkatan Laut juga akan dilibatkan. Namun dia memberi catatan bahwa investigasi hanya dilakukan di internal TNI AL, tanpa melibatkan pihak luar.

"Sebenarnya ahlinya ada di inspektorat. Dari Puspenerbal sudah tahu lah hal itu, kan kecelakaan pesawat kan tidak ini saja, mungkin ada yang crass landing," sambung Yudo.

Yudo mengatakan langkah investigasi yang ditempuh sesuai dengan standar prosedur investigasi pada kecelakaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) pada umumnya dengan membentuk tim khusus guna memperlancar proses lidik, yang dalam hal ini sudah dipahami betul oleh puspenerbal.

"Jadi semua kecelakaan alutsista pasti akan kita laksanakan itu, teknisnya bagaimana ya nanti dari timnya itu kita enggak tahu sampai seberapa, pasti akan dicek dari awal lah mulai pilotnya gimana pengecekan saat mau terbang, terus pesawatnya sendiri bagaimana, dan tentunya mungkin dari pesawatnya tadi, pesawatnya kan terangkat itu nanti kan bisa dicek dari badan pesawat," bebernya.

Reporter: Putri Oktafiani [cob]