Tekad Tati mengangkat karya kreatif siswa berkebutuhan khusus

Sebagai guru siswa berkebutuhan khusus, Tati Leliana Purba paham pentingnya pendekatan dan perlakuan berbeda ketika mengasuh, mendidik, hingga melatih mereka.

Oleh karena itu, guru Sekolah Luar Biasa Negeri 6 Jakarta itu mesti kreatif serta pantang menyerah mencari cara agar anak berkebutuhan khusus (ABK) mau belajar untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai untuk diri mereka.

Kesabaran tersebut ditunjukkan Tati ketika melatih membatik dengan teknik ecoprint kepada 10 siswa SLBN 4 Jakarta penyandang tunarungu di sekolah tersebut.

"Motivasi mengajar kita tidak boleh kalah dari murid-murid yang sedang diajari," ujar Tati yang sudah puluhan tahun mendidik siswa berkebutuhan khusus itu.

Ecoprint merupakan teknik mencetak kain menggunakan pewarnaan alami untuk menghasilkan corak batik yang unik.

Teknik mencetak tersebut memang terbilang sederhana sehingga Tati menganggap tidak ada cara khusus untuk mengajarkan cara tersebut kepada siswa tunarungu. Mengajari dengan langsung praktik merupakan cara yang efektif untuk melatih mereka.

Kendati demikian, memang harus sabar sehingga bila bukan guru berpengalaman mendidik anak-anak spesial tersebut, itu akan butuh waktu lebih lama hingga mereka bisa melakukannya.

Sebab, sebagian dari mereka kadang gampang bosan saat belajar sehingga kalau mereka penat, misalnya, guru pun harus mengerti.

" Ya sudah, tidak apa-apa. Nanti belajarnya dilanjutkan kembali. Yang penting, jangan lupa selalu kasih jempol kepada anak-anak didik berkebutuhan khusus itu setiap mereka selesai belajar," katanya.

Tati biasa memotivasi anak-anak didiknya yang sudah penat itu dengan mengalihkan pada kegiatan lain, misalnya, mengajak mereka melihat karya-karya yang sudah pernah dibuat.

Tujuannya, agar nanti saat pameran, anak-anak itu melihat sendiri bahwa banyak orang yang bersedia membayar kain batik berukuran 2 meter dengan harga Rp1 juta.

"Wah mahal sekali, kain 2 meter itu harganya Rp1 juta," kata Tati menirukan komentar siswa berkebutuhan khusus tersebut.

Ketika anak-anak mengetahui kain batik yang mereka buat itu mahal, akhirnya semangat belajar mereka kembali meletup. Di kelas, mereka bisa kembali diajak bercerita. Siswa pun bisa diajak bercerita mengenai cita-cita mereka setelah lulus.

Setelah lulus, mereka juga ingin bisa menghasilkan uang sendiri. Ketika mendengar cerita tersebut, guru tinggal memotivasi agar mereka membuat kain batik yang bagus, supaya bisa menghasilkan uang sendiri. Ujungnya, motivasi anak-anak itu muncul sendiri.

Sebagai pendidik siswa difabel (different ability), ia sudah sering mengajari anak-anak berkebutuhan khusus mengenai keterampilan membatik ecoprint dan pembuatan produk kerajinan lain.

Penerima penghargaan Ibu Kota Awards Tahun 2019 bidang Pengembangan Kerajinan itu juga sering mengikutkan karya peserta didiknya ke pameran-pameran kriya, seperti di pusat-pusat perbelanjaan elite hingga di ajang Ina Craft.

Untuk di SLBN 4 Jakarta, Tati baru mengajar anak-anak di sekolah ini saat ada pelatihan dari program Pertamina Sahabat Difabel.

Ada sepuluh siswa-siswi SLBN 4 Jakarta yang mengikuti pelatihan gratis yang berlangsung dua hari, 16-17 September tersebut.

Mereka adalah Fitri Aprilliyani, Nanditia Adellia, Zahwa Ufara Qudsi, Syahla Azhari Syifah, Joiya Indah Karina, Nabila Amelya Putri, Siti Maryam, Ilham Wahyu, Salman Alfarisi, dan Farhan Sufiansyah.

Lewat dukungan program tanggung jawab sosial BUMN migas tersebut, para pelajar difabel tersebut berlatih membatik menggunakan teknik ecoprint.

Keterbatasan siswa SLB dalam mendengar dan berbicara tidak menghalangi mereka menghasilkan karya kreatif bernilai jual tinggi.

"Saya akan mengangkat kaum disabilitas, orang akan membeli karya anak bukan karena kasihan, melainkan karena mutunya, dan sekarang (hasil karya mereka) tidak kalah dengan crafter-crafter ecoprint yang lain," kata Tati optimistis.

Distro Disabilitas

Tati memiliki keinginan agar anak-anak didiknya bisa mencari uang dari keterampilan yang mereka dapatkan selama belajar di SLB.

Ke depan, Tati berharap pemerintah bisa mewadahi hasil karya tersebut dengan membangun tempat lokakarya yang disebutnya sebagai "Distro Disabilitas".

Mimpi besar mengadakan "Distro Disabilitas" itu akan disampaikannya ke Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir.

"Tahun depan saya pensiun, saya mau karya anak-anak saya bisa ditampung, jadi itu ada hasil karya anak," kata Tati.

Selain mengajar di SLB Negeri 6 Jakarta, Tati juga tengah fokus mengembangkan merek kerajinannya bersama para murid.

Merek kerajinan tersebut dinamai "Tama" yang merupakan akronim dari tangan dan mata.

Secara filosofis mengandung makna bahwa keterbatasan anak-anak SLB dalam mendengar dan berbicara tidak menghalangi tangan dan mata mereka untuk menghasilkan karya-karya kreatif bernilai jual tinggi.

Lebih terampil

Senada, Kepala SLB
N 4 Jakarta di Koja, Jakarta Utara, Sukimin mengatakan anak-anak penyandang disabilitas mesti diajarkan lebih banyak keterampilan daripada pendidikan akademis.

Untuk itu, pendidikan keterampilan di SLBN 4 Jakarta setingkat SMA bisa berlangsung hingga 3 hari penuh, sedangkan SMP berlangsung 2 hari. Pelajaran diberikan dari pagi sampai siang.

Di SLBN 4 saat ini terdapat 233 peserta didik, dari tingkat SD, SMP, SMA. Sekolah ini menampung siswa tunanetra, tunarungu, tunagrahita, dan tunadaksa, tapi yang banyak adalah tunarungu dan tuna grahita.

"Kalau SMA saja akademiknya 12 (jam pelajaran), sementara untuk keterampilannya sebanyak 28 jam pelajaran," katanya.

Bobot pembelajaran keterampilan dilebihkan dengan maksud membekali lebih banyak keahlian kepada para peserta didik, agar bisa digunakan sebagai modal berwirausaha mereka di masa depannya.

Guru-guru di SLB Negeri 4 Jakarta menggiring anak-anak didiknya agar menguasai keterampilan menjahit. Bukan berarti mengharapkan peserta didik itu sekadar menjadi desainer atau penjahit saja, tapi bisa lebih dari itu. Misalnya, menjadi wirausahawan yang memproduksi baju-baju buatan sendiri.


Editor: Achmad Zaenal M