Tekan Biaya, SMA di Jepang Tawarkan Opsi Pakai Seragam Sekolah Buatan Uniqlo

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Dari sederet topik pembahasan, kebijakan seragam sekolah jadi isu yang ikut dibahas dalam sesi orientasi terakhir yang berlangsung antara staf SMA Omiya Kita, di Saitama, Jepang, dengan para orangtua siswa. Topik ini jamak bagi standar Jepang karena orangtua ingin mengetahui apa yang anaknya harus pakai dan di mana bisa membelinya.

Pihak SMA akhirnya mengusulkan agar seragam sekolah siswa-siswa mereka untuk tahun ajaran 2022 akan bisa dibeli di Uniqlo. Ini menjadi kebijakan yang disambut baik para orangtua siswa.

Seragam sekolah di Jepang bisa dibilang ikonis. Namun, biaya yang harus dikeluarkan jadi persoalan sendiri. Harganya terbilang mahal. Dikutip dari JapanToday, Kamis (7/10/2021), membeli satu set seragam sekolah untuk anak remajanya tak beda halnya dengan membeli setelan kerja.

Hingga saat ini, orangtua siswa Omiya Kita mengeluarkan sekitar 40 ribu hingga 60 ribu yen (sekitar Rp5,1 sampai Rp7,6 juta) untuk seragam sekolah anak mereka. Itu terdiri dari jaket gakuran dan celana panjang untuk anak laki-laki, dan blazer dan rok untuk anak perempuan.

"Kami mulai berpikir tidak adakah cara untuk beranjak dari asumsi bahwa seragam harus semahal itu," kata Wakil Kepala Sekolah Kenji Tetsui. Itulah yang mendasari mereka membolehkan memakai seragam sekolah yang dibeli dari Uniqlo.

Bagi warga Jepang, Uniqlo dikenal dengan fesyen kasualnya. Label itu juga menyediakan sejumlah item, seperti blazer dan gaun yang tersedia dalam harga relatif terjangkau. Dengan kebijakan itu, para orangtua siswa SMA Omiya Kita bisa membeli seragam hanya dengan biaya sekitar 10 ribu yen (Rp1,3 juta), angka yang jauh lebih kecil dari harga seragam sekarang.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Kelebihan Lain

Ilustrasi pelajar Jepang. (dok. Hakan Nural/Unsplash)
Ilustrasi pelajar Jepang. (dok. Hakan Nural/Unsplash)

Ada kelebihan lain dari kebijakan baru seragam sekolah. Seragam sekolah sekarang diketahui menggunakan 100 persen bahan wol yang harus di-dry clean. Artinya, ada biaya perawatan yang lebih mahal harus dikeluarkan orangtua.

Untuk menyiasatinya, para siswa menggunakan seragamnya selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan tanpa dicuci. Hal itu jelas tidak higienis.

Sementara, Uniqlo menggunakan bahan yang lebih ringan dan bisa dicuci mesin. Bahannya juga disebut lebih nyaman digunakan selama musim panas di Jepang yang lembap dan panas. Pihak SMA Omiya Kita bahkan mempertimbangkan ide untuk membebaskan siswa memilih warna yang tepat sendiri sebagai komponen seragam mereka setiap hari.

Tuai Pro Kontra

Para siswa berdoa untuk para korban bom atom menjelang peringatan di Hiroshima Peace Memorial Park, pusat kota Hiroshima, Selasa (5/8/2019). Pemerintah Jepang menggelar peringatan jatuhnya bom atom di Kota Hiroshoma 74 tahun lalu yang menandai berakhirnya Perang Dunia (PD) II. (JIJI PRESS / AFP)
Para siswa berdoa untuk para korban bom atom menjelang peringatan di Hiroshima Peace Memorial Park, pusat kota Hiroshima, Selasa (5/8/2019). Pemerintah Jepang menggelar peringatan jatuhnya bom atom di Kota Hiroshoma 74 tahun lalu yang menandai berakhirnya Perang Dunia (PD) II. (JIJI PRESS / AFP)

Kebijakan itu menuai reaksi beragam dari warganet di Twitter. Kubu yang mendukung menuliskan, "Seragam terjangkau yang bisa dicuci? Aku iri."

"Ketika aku masih sekolah, aku benci bagaimana panasnya seragamku di musim panas dan bagaimana aku tak bisa mencucinya ketika sudah kotor atau berbau," cuit yang lain.

Tetapi, sebagian warganet yang kontra mempertanyakan faktor keamanan. "Seragam juga perangkat keamanan. Bila seragam dibuat secara komersial dengan item dari Uniqlo, bagaimana sekolah bisa mengenali penyusup?" cuit seorang warganet.

"Aku paham orangtua berpikir seragam biasa sangat mahal, tapi bagaimana bila anaknya ingin mengenakan seragam yang lucu?"

Meski ramai diperbincangkan, Omiya Kita belum sampai memutuskan akan menerapkan kebijakan itu. Mereka menyerahkan keputusan pada orangtua dan siswa. Bila sepakat, mereka bisa mulai menerapkannya pada April 2022.

Uji Coba Belajar Tatap Muka di Jakarta

Infografis Uji Coba Belajar Tatap Muka Sekolah di Jakarta. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Uji Coba Belajar Tatap Muka Sekolah di Jakarta. (Liputan6.com/Trieyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel