Tekan Emisi Gas Rumah Kaca, Perusahaan Sawit di Riau Untung Ratusan Miliar dari Jual CPO

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Pekanbaru - Pandemi Covid-19 tak menjadi penghalang bagi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V mencatatkan kinerja positif. Selain peningkatan produktivitas tandan buah segar (TBS) sawit, perusahaan pelat merah ini meraup Rp168,8 miliar dari penjualan crude palm oil atau CPO dan palm kernel oil dengan harga premium.

Pundi-pundi yang membantu keuangan negara ini tak lepas dari dua sertifikasi internasional yang diperoleh PTPN V, yaitu International Sustainability & Carbon Certification (ISCC) serta Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Senior Executive Vice President PTPN V, Rurianto, mengatakan anak usaha Perkebunan Nusantara III ini merupakan BUMN pertama yang mengantongi sertifikasi standar Eropa ISCC sejak 2018 silam. Saat ini, 70 persen unit pabrik kelapa sawit (PKS) dan kebun PTPN V telah mengantongi sertifikasi berstandar Uni Eropa tersebut.

"Perusahaan juga telah memiliki RSPO yang mencapai 75 persen dari seluruh unit," kata Ruri, Selasa petang, 21 September 2021.

Dia menjelaskan, baik ISCC maupun RSPO memberikan keuntungan harga premium produk PTPN V. Sejak 2019, perusahaan mendapat keuntungan harga premium mencapai Rp168,8 miliar atau rata-rata Rp61 miliar per tahun.

Ruri mengatakan, delapan dari 12 PKS serta 10 unit kebun PTPN V telah mengantongi sertifikasi ISCC. Di antaranya PKS Tandun, Rokan, Lubuk Dalam, Terantam, Tanjung Medan, Sungai Pagar, Intan, dan Tapung.

Sementara, empat PKS dan unit kebun lainnya diperkirakan segera mengantongi sertifikasi yang mampu memberikan kontribusi tambahan harga USD10 hingga USD15 per ton CPO pada tahun 2023.

"Tahun depan kita akan kembali melakukan proses sertifikasi, Insya Allah 2023 seluruhnya rampung dan 100 persen tersertifikasi ISCC," ujarnya.

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Standar Uni Eropa

Menurut Ruri, langkah untuk mendapatkan ISCC diharapkan makin realistis menyusul pembangunan empat Pembangkit Tenaga Biogas (PTBg) Cofiring di empat PKS PTPN V yang direncanakan rampung hingga 2021 ini. Keberadaan empat PTBg tersebut akan melengkapi dua pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg) yang telah berdiri sebelumnya.

Dia menjelaskan, meraih sertifikasi ISCC harus memenuhi sejumlah kriteria. Paling utama adalah kadar gas rumah kaca (GRK) yang harus berada di bawah ambang batas 1.000 CO2Eq.

"Dengan adanya PTBg maka pabrik PTPN V terbantu karena gas metan yang dilepaskan ke udara dimanfaatkan menjadi sumber energi," jelasnya.

Ruri menyatakan PTPN V terus berkomitmen menekan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari seluruh rangkaian kegiatan produksi perkebunan sawit.

"Sertifikasi ISCC dan RSPO ini menunjukkan bahwa produk yang kami hasilkan telah memenuhi standar energi terbarukan Uni Eropa (UE Renewable Energy Directive), serta komitmen kami sebagai produsen CPO yang bertanggung jawab terhadap lingkungan," jelas Ruri.

Oleh karena itu, Ruri menargetkan sertifikasi RSPO untuk unit PTPN V lebih cepat. Hingga saat ini sudah ada sembilan PKS dan satu pabrik Palm Kernel Oil (PKO) mengantongi sertifikasi.

"Saat ini, proses penilaian dan di tiga PKS dan kebun lainnya masih berlangsung, pada 2022 mendatang seluruh unit PTPN V akan tersertifikasi RSPO," katanya.

Simak video pilihan berikut ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel