Tekan Perokok Anak di Indonesia, Ini Solusi untuk Pemerintah

Merdeka.com - Merdeka.com - Jumlah perokok di Indonesia kian mengkhawatirkan. Khususnya bagi mereka yang masih di bawah umur. Pada tahun 2021, BPS mencatat sebanyak 3,69 persen anak Indonesia di bawah umur aktif merokok.

Pemerintah didorong untuk menekan jumlah perokok aktif. Namun memberikan solusi efektif. Misalnya, dengan cara mengembangkan industri rokok alternatif.

Direktur Eksekutif Center for Youth and Population Research (CYPR), Dedek Prayudi mengatakan, berkembangnya industri rokok alternatif pada dasarnya sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai pemerintah. Dalam hal menurunkan risiko merokok.

"Pemerintah sebaiknya membuka opsi baru yang sebetulnya sudah terbuka jalannya, yakni PTA (Produk Tembakau Alternatif). PTA sebetulnya sudah beredar luas di masyarakat perkotaan, hanya saja belum diregulasi, kecuali cukai," kata Dedek dalam siaran persnya, Selasa (31/5).

Padahal, kata dia, dengan adanya regulasi, PTA membuka ruang untuk diversifikasi hilir pertanian tembakau. Serta siap menjadi ekosistem industri baru yang dampaknya akan menurunkan prevalensi merokok.

Untuk mencegah naiknya jumlah perokok anak, strategi potong generasi dinilai pilihan tepat untuk dijalankan. Sekaligus dibarengi dengan pengetatan akses terhadap produk, baik rokok konvensional ataupun alternatif.

Menunjukkan KTP sudah banyak diterapkan di berbagai gerai penyedia produk tembakau alternatif. Akan tetapi lain halnya dengan warung-warung kecil yang menjual rokok konvensional secara bebas.

Dedek menilai, perlu langkah-langkah baru yang lebih agresif agar target yang dicanangkan bisa segera tercapai. Indonesia bisa mencontoh pemerintah Britania Raya dan Selandia Baru yang sudah memperbolehkan produk alternatif untuk diresepkan oleh tenaga kesehatan.

Pertama, Pemerintah bisa memulai lakukan riset untuk lebih mendalami profil risiko PTA, riset yang dilakukan sendiri oleh Pemerintah, sehingga akan menjadi riset otoritatif. Kedua, sesuaikan berbagai kebijakan dan turunan regulasinya berdasarkan hasil pendalaman profil risiko. Ketiga, terapkan aturan pengecekan identitas secara ketat di setiap transaksi produk tembakau, termasuk PTA maupun rokok konvensional," kata dia.

Bagaimana di Malaysia?

Seperti diketahui, peningkatan prevalensi perokok menjadi kekhawatiran di banyak negara. Sementara di Malaysia, Kementerian Kesehatan setempat mencanangkan berbagai strategi baru. Salah satunya adalah melegalkan produk alternatif sebagai solusi berhenti merokok.

Angka potensi memotong generasi perokok di Malaysia terbilang besar. Hasil model dari laporan The Cochrane 2021 yang diaplikasikan di Malaysia menunjukkan, sebanyak 140.000-220.000 perokok Malaysia dapat berhenti merokok setiap tahun dengan beralih ke produk vaping.

Penurunan 2,9% - 4,5% per tahun berdasarkan prevalensi merokok saat ini dapat mengurangi jumlah perokok di Malaysia dari 4,88 juta ke 4 juta perokok pada tahun 2025 mendatang.

Pemerintah Malaysia memilih untuk menurunkan angka perokok dengan kebijakan pelarangan, sekaligus mengatur penggunaan produk alternatif sebagai pengganti.

"Undang-undang baru yang diusung tidak hanya berisi ketentuan untuk melarang merokok untuk generasi berikutnya, tetapi juga mengatur produk vaping. Untuk anggaran 2022, pemerintah berencana mengenakan pajak vape dan cairan rokok elektrik yang mengandung nikotin, yang secara efektif melegalkan produk-produk ini," ungkap Menteri Kesehatan Malaysia, Khairy Jamaluddin. [rnd]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel