Tekanan Berat Valencia Tanoesoedibjo Jadi Anak Konglomerat Asia

Adinda Permatasari, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Putri Harry Tanoesoedibjo, Valencia Tanoesoedibjo, mengaku mendapatkan cukup banyak tekanan lahir dari salah satu keluarga konglomerat. Hal itu membuatnya merasa harus bekerja ekstra agar tak mendapatkan cemooh dari banyak orang.

Pengakuan Valencia itu dituturkan kala Boy William bertandang ke kantornya, dan diperlihatkan dalam vlog berjudul "VALENCIA TANOESOEDIBJO: KEHIDUPAN ANAK KONGLOMERAT BIKIN MELONGO! | #DiBalikPintu".

Di awal, Boy meminta Valencia untuk menunjukkan detail dari kantor yang ditempatinya. Seperti apa obrolan Boy dan Valencia? Berikut ulasannya.

Ruang kantor mewah

Ruangan kantor yang ditempati Valencia terdapat sofa mewah berbahan kulit warna cokelat. Selain itu, ada juga beberapa kursi kecil berwarna nude. Terdapat meja khusus untuknya bekerja dengan kursi empuk berwarna hitam.

Di hadapannya, duduklah Boy, yang memasuki ruangan tersebut seraya menyapa. Boy pun menanyakan perihal detail ruangannya itu.

"Ini lantai 19, paling atas. TV ada 4, karena kan ini headquarters kita," ujarnya menjelaskan.

"Kita monitor 3 tv lainnya, bukan saling kompetisi tapi untuk saling memposisikan," imbuh Valencia.

Ogah jadi artis

Saat memasuki ruangan lain di kantornya, terdapat jejeran foto para penyanyi yang masuk sebagai finalis Indonesian Idol. Boy iseng bertanya terkait keinginan Valencia untuk menjadi artis, yang langsung dijawab singkat namun tegas.

"Lu mau nggak jadi artis?” tanya Boy.

"Enggak," jawabnya singkat.

"Kalau dibayar 100 juta 1 jam, mau nggak?" sambung Boy.

"Kalau segitu gue bisa consider (pertimbangkan)," jawabnya seraya tertawa.

Beban jadi anak konglomerat

Di momen ini, Valencia mengajak Boy untuk mengunjungi bagian paling atas gedung, yakni tempat mendarat helikopter. Di sini, Boy sempat menanyakan perihal perasaan Valencia lahir di keluarga konglomerat Asia. Valencia pun mengaku ada tekanan yang kerap dirasakannya.

"Pasti (ada tekanan)," jawab Valencia.

"Aku rasa, dengan banyaknya generasi, dari pandangan orang secara kasat mata, 'ah lo udah punya semuanya dari kecil'. Misalnya, someday lo sukses, ya iyalah lo sukses, kan orangtua lo sukses'. Tapi ketika lo gabut, useless, 'keterlaluan banget orangtua lu sukses masa lo gak sukses'. Jadi serba salah," paparnya menjelaskan.

Di sini, Valencia mengatakan, tekanan itu tak membuatnya sedih atau depresi. Melainkan menjadikannya semangat untuk bisa menjadi sukses. Selain itu, pepatah dari orangtuanya pun menjadi modal untuk dirinya bisa kian kuat menjalani karier.

"Yang pasti pelajaran dari papa dan juga mama, pertama semua balik lagi ke Tuhan. Terus, harus selalu humble untuk mau belajar," sahutnya.