Teknologi EOR momentum dongkrak produksi migas dalam isu lingkungan

·Bacaan 2 menit

Pakar dari Institut Teknologi Bandung Rachmat Sule mengatakan pemanfaatan teknologi Carbon Capture, Utilization and Storage (CCS/CCUS) melalui enhanced oil recovery atau EOR menjadi momentum meningkatkan produksi minyak dan gas di tengah isu lingkungan yang kini menjadi topik perbincangan global.

"Target produksi 1 juta barel minyak pada 2030, tapi yang penting adalah adanya kontribusi dari EOR terutama dengan memanfaatkan karbon dioksida," ujarnya dalam diskusi bertajuk 'Membedah Nilai Keekonomian Teknologi Penyimpanan Karbon untuk Sektor Energi' di Jakarta, Selasa.


EOR adalah metode perolehan minyak tahap lanjut dengan cara menambahkan energi berupa dari material atau fluida khusus yang tidak terdapat dalam reservoir minyak.

Rachmat menjelaskan teknologi EOR merupakan usaha meningkatkan produksi minyak dan gas bumi yang dapat meningkatkan pendapatan negara, namun di sisi lain juga bisa mengurangi emisi gas rumah kaca.

Dalam pemahaman orang perminyakan, lanjut dia, minyak yang bisa diproduksi kira-kira hanya sampai 1/3 saja.

Adapun sisanya 2/3 masih berada di dalam reservoir yang memerlukan usaha tambahan untuk bisa memproduksi minyak dan gas bumi tersebut. Kondisi itu lantas disebut dengan secondary recovery ataupun tersier recovery.

Selama ini di Indonesia yang sudah melakukan aktivitas produksi migas baru mencapai tahap konvensional atau primary recovery, kecuali Lapangan Duri di bagian tengah Sumatra.

"Untuk bisa mengambil minyak yang masih tersisa dua pertiga ini kita bisa lakukan teknologi EOR dan harus dimulai dari sekarang mumpung isu tentang lingkungan sedang gencar. Jadi, sembari mendayung dua tiga pulau terlampaui," kata Rachmat.

Berdasarkan catatan Kementerian ESDM, studi maupun proyek CCS/CCUS di Indonesia sedang berjalan di beberapa wilayah kerja minyak dan gas bumi, seperti Gundih, Sukowati, dan Tangguh dengan total potensi simpanan karbon dioksida sekitar 41 juta ton.

Indonesia memiliki potensi penyimpanan sekitar 2 giga ton karbon dioksida yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Papua. Sedangkan potensi saline aquifer 9,68 giga ton karbon dioksida dari cekungan Sumatera Selatan dan Jawa Barat.

Sebelumnya, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan akan mendorong eksplorasi dan EOR pada 13 wilayah kerja migas yang akan berakhir kontraknya pada tahun ini.

Beberapa negara tertarik untuk berinvestasi pada teknologi EOR di Indonesia, di antaranya Rusia dan Amerika Serikat.

Saat ini, isu CCS/CCUS menjadi salah satu bagian dari pembahasan utama dalam sidang Kelompok Kerja Transisi Energi (ETWG) G20 Indonesia.

Pemerintah mendorong supaya biaya teknologi ini bisa lebih terjangkau sekaligus menyelaraskan aspek kebijakan dan regulasi di tingkat global.

Baca juga: Subholding Gas Pertamina berkomitmen terus turunkan emisi karbon
Baca juga: Indonesia dorong negara berkembang tingkatkan mitigasi pasokan energi

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel