Teknologi Tekmira ESDM perpanjang umur produksi PT Timah 12 tahun

Budi Suyanto
·Bacaan 3 menit

Terobosan teknologi, yang dikembangkan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (Tekmira) Kementerian ESDM berhasil memperpanjang umur produksi PT Timah Tbk selama 12 tahun.

"Sebagai pengguna jasa Tekmira, kami di PT Timah merasakan kerja sama yang sangat baik karena Tekmira bisa menjawab persoalan besar di PT Timah terkait pengolahan mineral khususnya pengolahan bijih timah primer," ungkap Kepala Divisi Pengembangan Bisnis PT Timah Tbk Aidil Yuzar dalam keterangannya, yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Menurut dia, sumber daya cadangan timah aluvial baik darat maupun laut sudah semakin menipis. Oleh karena itu, perlu dilakukan terobosan teknologi penambangan timah supaya hasilnya optimal.

Baca juga: Vale gandeng Puslitbang Tekmira tes aglomerasi

Tekmira, lanjutnya, berhasil menjawab tantangan tersebut dengan melakukan percobaan skala laboratorium, yang selanjutnya di-scale-up oleh tim litbang PT Timah menjadi skala pabrik dengan kapasitas 400 ton bijih timah primer dan memberikan hasil yang menggembirakan.

"Dengan formula dan kondisi proses yang disusun oleh Tekmira, kami berhasil membuktikan bahwa hanya dengan menggunakan kadar timah 10 persen dapat menghasilkan kadar timah primer sampai 60 persen. Jajaran direksi PT Timah Tbk memberikan apresiasi terhadap kinerja litbang kolaborasi PT Timah Tbk dengan Tekmira ini, karena terbukti mampu memberikan solusi untuk perusahaan di masa depan," katanya saat temu mitra secara daring antara Tekmira dengan PT Timah Tbk.

Aidil mengatakan dengan potensi timah primer yang dimiliki Timah saat ini lebih dari 500.000 ton, apabila dalam satu tahun mampu mengolah timah primer sebanyak 40.000 ton, maka umur PT Timah akan bertambah 12 tahun.

Kerja sama Tekmira-Timah khususnya proses dan teknologi ekstraksi bijih timah primer telah terjalin sejak 2018, yang dimulai dengan kajian proses dan teknologi ekstraksi timah dari bijih timah primer dengan proses klorinasi basah.

Lalu, berlanjut hingga 2020 untuk kajian tekno ekonomi pengolahan bijih timah primer serta penyusunan studi kelayakan optimalisasi pemanfaatan sisa hasil pengolahan PT Freeport Indonesia (2019-2020).

Baca juga: Menteri ESDM resmikan PLTS terapung PT Timah di Beltim

Koordinator Kelompok Pengolahan dan Pemanfaatan Teknologi Mineral Tekmira Nuryadi Saleh merasa lega atas keberhasilan percobaan skala industri yang dilakukan Timah berdasarkan kondisi proses yang dilakukan di laboratorium Tekmira.

"Kami sangat gembira, Alhamdulillah, hasil skala produksi tidak menyimpang dari skala laboratorium. Untuk ke depannya, perlu dikaji benefisiasi untuk meningkatkan kadar besi di slag yang menghasilkan kadar sesuai grade yang ditetapkan pemerintah supaya bisa diekspor," katanya.

Sementara itu, Ketua Tim Peneliti Ekstraksi Bijih Timah Primer Tekmira Isyatun Rodliyah menyampaikan banyak tantangan yang dihadapi justru memacu tim untuk melakukan percobaan karena berdasarkan kajian teoritis dan hasil percobaan yang telah divalidasi berulang kali meningkatkan kepercayaan bahwa teknologi ini akan berhasil.

"Keberhasilan ini memacu kami untuk terus mengembangkan teknologi ekstraksi bijih timah primer ini. Kami juga berharap ke depannya semakin banyak kerja sama untuk ikut memecahkan permasalahan-permasalahan litbang di PT Timah sehingga ilmu pengetahuan semakin berkembang," ujarnya.

Selaras dengan pesan Menteri ESDM bahwa apabila hasil litbang sudah terbukti secara teknologi dan ekonominya, supaya dilanjutkan untuk dikembangkan dengan industri terkait, Kepala Puslitbang Tekmira Hermansyah menyatakan bahwa Tekmira berkomitmen mendukung kerja sama dengan PT Timah dan siap melengkapi fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan untuk kerja sama selanjutnya.

Ia menambahkan bahwa tak menutup kemungkinan kerja sama yang akan datang juga mengembangkan teknologi benefisiasi SHPP untuk logam panduan FeSn dan PbSn.

"Keberhasilan kerja sama Timah-Tekmira ini membuka peluang kerja sama berikutnya," katanya.

Kedua pihak dalam temu mitra tersebut mendiskusikan peluang kerja sama berikutnya di antaranya pengolahan lempung dan benefisiasi biji stanit menjadi produk yang dapat diterima oleh pasar.