Teladan Aipda Umar Taufik, Polisi Barokah dari Garut

Merdeka.com - Merdeka.com - Aipda Umar Taufik, itulah nama dan pangkatnya. Dia adalah seorang polisi yang bertugas di Kepolisian Resor Garut. Jabatannya Kepala Unit Bintibmas pada Satuan Binmas. Oleh Kapolres Garut, AKBP Wirdhanto Hadicaksono, dia disebut sebagai Polisi Barokah.

Sebutan tersebut tidak semata-mata keluar begitu saja, karena dalam acara-acara Polres Garut, Umar selalu menjadi spesialis pembaca doa. Ternyata, sebelum menjadi polisi dia pernah mondok di tiga pesantren saat duduk di bangku Madrasah Aliyah 1 Garut.

Bekal selama di pesantren Jamiatul Athfal Dangdeur, Miftahul Ulum Paledang Karangpawitan, dan Al-Ghoniyah Selaawi, menjadikan penampilan Umar cukup sederhana. Dia mudah dikenali karena saat bertugas kerap menggunakan songkok dan mengendarai kendaraan dinas minibus.

Saat ditemui, Umar bercerita bahwa dia sudah menjadi polisi selama 20 tahun, atau sejak tahun 2002. Sebelumnya, dia mengaku tidak pernah berpikir sedikitpun menjadi polisi karena ada kesan negatif yang didapatkan.

"Saya menjadi polisi setelah mendapat restu dari guru di pesantren. Saat itu beliau menyampaikan bahwa dakwah itu bukan profesi, tapi bagaimana menjadikan profesi itu sebagai media untuk berdakwah," kata Umar.

Dengan bekal restu dari guru, ia pun kemudian mendaftar menjadi polisi dengan tujuan utamanya berdakwah. Umar pun ditakdirkan lolos menjadi Bintara Polri di tahun 2002 lalu, menjalani pendidikan dan kemudian bertugas di Tasikmalaya.

Di Tasikmalaya, setidaknya ia bertugas selama sembilan tahun lalu kemudian pindah ke Polres Garut. "Sejak awal menjadi polisi, saya tidak pernah tugas di satuan lain selain di Satuan Pembinaan Masyarakat (Satbinmas). Pernah ditawarkan pindah ke Satuan Lalulintas, tapi saya tolak," ungkapnya.

Dengan pilihannya itu, sejak menjadi polisi ia pun tidak pernah lepas dari kegiatan pembinaan dan penyuluhan. Di Garut, Umar setiap hari berkeliling dari satu kecamatan ke kecamatan lain untuk melakukan pembinaan dan penyuluhan ketertiban masyarakat.

"Kalau seluruh wilayah Garut mah kayaknya sudah terkelilingi semua dari Garut Kota, Utara, sampai Selatan. Tapi ya kalau namanya tugas, pasti ada pengulangan ke tempat-tempat yang mungkin sama, tapi kadang juga kita datang ke kampung yang belum pernah didatangi sebelumnya. Garut kan luas ya, ada 42 kecamatan, ratusan desa, bentang pantainya saja 80 kilometer," jelasnya.

Di balik kesibukannya sebagai polisi yang konsisten melakukan pembinaan dan penyuluhan, Umar ternyata saat ini juga memiliki tugas lain saat pulang ke rumahnya di Kecamatan Leles, Kabupaten Garut sebagai guru ngaji. Tidak jarang, karena pulang petang, ia langsung 'ngawuruk' atau mengajar dengan pakaian tugas polisi lengkap agar tugasnya itu tidak ditinggalkan.

Tugasnya sebagai guru ngaji, diakui Umar tidak begitu saja terjadi. Dia tidak pernah membayangkan akan menjadi guru ngaji meski sebelumnya sempat mengenyam dunia pesantren. Yang terjadi, ia seakan dipaksa dengan keadaan di lingkungan rumahnya.

"Awalnya itu saat ada salah seorang warga di lingkungan rumah yang meninggal, keluarganya ingin ditahlilkan tapi tidak tahu siapa yang biasa. Kondisi warga di sana memang heterogen, semua ada, jadinya ga tau siapa yang bisa memimpin tahlilan," jelasnya.

Setelah itu, keluarga yang ditinggalkan mengetahui dirinya merupakan rohaniawan polres. Keluarga tersebut pun datang memohon kepadanya sehingga akhirnya kemudian membantu warga untuk memimpin tahlilan.

Diakuinya, selama bertetangga, dirinya tidak pernah berusaha menonjolkan diri di lingkungan masyarakat. "Saat itu, karena kebetulan saya bisa, keluarganya juga meminta, saya bismillah saja diniatkan ibadah, apalagi sesama muslim itu saudara, sebagai polisi juga harus menjadi pengayom masyarakat, saya pimpin tahlilan," katanya.

Setelah dirinya memimpin tahlilan, lanjut Umar, warga kemudian datang berbondong-bondong kepadanya memohon untuk mau mengajari anak-anak mengaji. Awalnya, ia sempat menolak karena khawatir tidak fokus karena memiliki tugas polisi.

Pada akhirnya, dengan mempertimbangkan banyak hal, ia menerima amanah sebagai guru ngaji itu. "Pertimbangan yang paling berat untuk menolak, karena lingkungan kampung ini adalah pabrik sehingga harus ada pendidikan agama kepada anak-anak. Kalau dibiarkan khawatir liar karena mental spiritualnya tidak ada," ceritanya.

Sejak saat itu, Umar pun mengajari anak-anak di kampungnya di depan rumahnya. Saat ini, jumlah anak yang belajar ngaji kepadanya berjumlah 40-an orang usia pelajar sekolah dasar, menengah pertama, hingga atas.

kegiatan mengajari anak-anak mengaji, diakuinya terus dilakukan setiap hari dan selalu diupayakan meski saat tengah bertugas.

"Karena jadwalnya dari setelah Magrib sampai Isya, kalau lagi tugas pulang dulu untuk ngawuruk lalu kembali tugas lagi. Jadi polisi dan ngawuruk adalah kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan," pungkasnya. [cob]