Teladan Prima Agro raup laba bersih Rp531,2 miliar sepanjang 2021

·Bacaan 2 menit

Emiten agribisnis PT Teladan Prima Agro Tbk meraup laba bersih Rp531,2 miliar sepanjang 2021, naik 129 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp232,4 miliar.

Direktur Utama PT Teladan Prima Agro Tbk Wishnu Wardhana mengatakan, selain terjadinya peningkatan harga komoditas crude palm oil (CPO), selama tahun 2021 perseroan mampu menjaga biaya produksi melalui berbagai inisiatif yang berfokus kepada efisiensi biaya serta mendukung kelancaran produksi.

"Meningkatnya kinerja keuangan tidak terlepas dari produktivitas tanaman perseroan yang berada pada usia produktif, yakni rata-rata di umur 12 tahun," ujar Wishnu lewat keterangan di Jakarta, Jumat.

Wishnu menyampaikan, capaian tersebut merupakan buah dari keberhasilan emiten berkode saham TLDN itu dalam menjaga dan memastikan kinerja serta produktivitas yang prima, terutama selama masa pandemi COVID-19.

"Walau kami mengalami berbagai tantangan terutama terkait aktivitas panen dan perawatan, serta efek water deficit di tahun 2019 yang terlihat di tahun 2020 dan 2021, namun tim manajemen TLDN yang berbekal pengalaman lebih dari 18 tahun di industri kelapa sawit mampu meresponnya secara tepat," kata Wishnu.

Per 31 Desember 2021, total aset TLDN tercatat sebesar Rp4,6 triliun, di mana total kewajibannya turun 15,5 persen menjadi Rp3,2 triliun dari tahun sebelumnya, dengan porsi penurunan terbesar ialah pada kewajiban jangka panjang kepada bank.

Penurunan itu berdampak kepada turunnya beban keuangan dan sejalan dengan program perseroan untuk membangun fleksibilitas pada neraca keuangan.

Total ekuitas TLDN per 31 Desember 2021 sebesar Rp1,4 triliun, dengan peningkatan berasal dari laba bersih yang dibukukan oleh perseroan.

Harga jual rata-rata CPO dan Palm Kernel (PK) yang meningkat, lanjut Wishnu, tentunya juga memberi pengaruh positif bagi perseroan. Harga jual CPO meningkat hingga 27,2 persen dan harga jual PK mengalami peningkatan yang lebih signifikan hingga 72,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan harga komoditas yang signifikan pada 2021 berpengaruh langsung kepada performa pendapatan perseroan di mana pendapatan dari penjualan CPO dan PK tercatat masing-masing sebesar Rp2,7 triliun dan Rp250 miliar atau meningkat 6,6 persen dan 30,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

"Perseroan optimis akan terus berkembang di tahun 2022 karena umur tanaman mayoritas berada pada umur produktif sehingga mampu memberikan pertumbuhan produksi yang signifikan. Selain iklim yang kondusif selama tahun 2020 hingga 2021, praktik agronomi terbaik dan pemupukan yang optimal diharapkan menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan produksi pada tahun 2022," ujar Wishnu Wardhana.

Baca juga: Menperin dorong CPO diolah jadi produk lebih bernilai tambah

Baca juga: Kemenperin sebut industri sawit mampu hasilkan 160 produk hilirisasi

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel