Telegram Permudah Pengguna WhatsApp Berpindah, Kini Bisa Transfer Riwayat Chat

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Telegram baru saja mengumumkan kehadiran fitur baru untuk para penggunanya. Lewat fitur ini, pengguna dipermudah untuk berpindah dari aplikasi chatting lain, seperti WhatsApp, ke Telegram.

Alasannya, seperti dikutip dari The Verge, Jumat (29/1/2021), fitur baru ini memungkinkan pengguna memindahkan riwayat percakapannya yang ada di aplikasi lain ke Telegram.

Perusahaan menuturkan fitur ini sudah mendukung transfer riwayat percakapan dari WhatsApp, Line, dan KakaoTalk ke Telegram. Fitur anyar ini sudah dapat dimanfaatkan pengguna di iOS dan Android.

Namun perlu diketahui, fitur ini baru dapat dimanfaatkan apabila percakapan yang dilakukan di WhatsApp juga memiliki akun Telegram.

Nantinya, fitur ini dapat dipakai untuk memindahkan riwayat percakapan di obrolan pribadi, grup, termasuk video dan dokumen.

Selain itu, dalam pembaruan ini, Telegram juga memberikan kontrol lebih bagi pengguna untuk fitur Secret Chat. Jadi, pengguna dapat menghapus percakapan grup pada Secret Chat langsung untuk seluruh pengguna.

Sejumlah pembaruan juga dihadirkan, mulai dari peningkatan obrolan suara, peningkatan pemutar audio, tampilan animasi baru untuk perangkat Android, hingga pelaporan kanal palsu dan peningkatan aksesbilitas.

Bos Telegram Janji Tak Akan Manfaatkan Data Pribadi Pengguna untuk Iklan Tertarget

Pendiri sekaligus CEO Telegram, Pavel Durov mendatangi kantor pusat Kemenkominfo di Jakarta, Selasa (1/8). Kunjungan Pavel Durov ini berhubungan dengan pemblokiran 11 Domain Name System (DNS) situs web Telegram. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pendiri sekaligus CEO Telegram, Pavel Durov mendatangi kantor pusat Kemenkominfo di Jakarta, Selasa (1/8). Kunjungan Pavel Durov ini berhubungan dengan pemblokiran 11 Domain Name System (DNS) situs web Telegram. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, CEO Telegram Pavel Durov menyebut pihaknya tidak akan memanfaatkan data pribadi pengguna untuk melakukan profiling demi iklan tertarget.

"Kami tidak akan memaksa pengguna melihat iklan berdurasi 30 detik di Telegram. Jika kami akan menghadirkan iklan, iklan ini hanya terlihat di satu dari sekian banyak channel. Biaya iklannya pun sangat mahal karena server dan biaya trafik (seperti channel saya @durov)," kata bos Telegram Pavel Durov, dikutip dari Live Mint, Senin (18/1/2021).

Lebih lanjut, Pavel Durov mengatakan, kalau pun nanti ada iklan, sifatnya bukanlah iklan tertarget yang berbasis data pribadi apa pun milik pengguna, seperti Facebook.

"Jadi, tidak ada pengumpulan data pribadi, tidak ada pemprofilan pengguna dan jika kamu tidak menggunakan atau bergabung ke salah satu channel kami, kamu tidak akan melihat satu pun iklan," kata Pavel Durov.

Durov mengatakan, pengguna yang tidak menggunakan channel atau tidak menggunakan platform komunikasi pribadi peer-to-peer tidak akan melihat iklan apa pun.

Seperti diketahui, belum lama ini WhatsApp memperbarui kebijakan privasi yang memaksa pengguna untuk setuju dengan integrasi data WhatsApp dengan Facebook. Hal ini memicu penolakan pengguna, bahkan membuat banyak pengguna yang lari ke Telegram dan Signal.

Signal Berkomitmen Tak Hadirkan Iklan

Sebelumnya, Signal juga membuat komitmen serupa, menyebut pihaknya tidak akan menghadirkan iklan di platform pesan itu.

Dalam kesempatan ini, Pavel Durov juga membicarakan soal Signal.

"Signal mewakili salah satu fitur Telegram, yakni Secret Chat. Jika pengguna butuh sebuah aplikasi hanya untuk memakai fitur tersebut, memasang Signal mungkin cukup masuk akal bagi pengguna," kata Pavel Durov tentang Signal.

"Secara personal, saya merasa Secret Chat jauh lebih berguna dan aman. Setelah adanya PRISM, saya sulit percaya pada platform dari AS, biarkan saja para kriptografer didanai oleh pemerintah AS," kata Durov, menyuarakan ketidakpercayaannya pada platform AS.

(Dam/Why)