Telemedis Bantu Kaum Muda Terbuka Tentang Kesehatan Mental

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Hidup dalam kenormalan baru dimasa pandemi COVID-19, memang tidak mudah. Dibutuhkan proses untuk memulai dan menjalankan kehidupan yang masih asing bagi kita.

Tak jarang situasi tersebut membuat seseorang stres hingga mengalami gangguan kesehatan mental karena mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru, termasuk anak muda.

TERKAIT: Wardah Fokus pada Kondisi Kesehatan Mental selama Pandemi dengan Rilis Rangkaian Colorfit

TERKAIT: Bahaya! Berat Badan Turun Tanpa Diet, Waspada Gangguan Kesehatan Mental

TERKAIT: Rayakan Bulan Kanker Payudara, Denada dan Komunitas Zumba® Ingatkan Pentingnya Kesehatan Mental bagi Penyintas

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan adanya lebih dari 19 juta penduduk berusia di atas 15 tahun mengalami masalah kesehatan mental emosional dan lebih dari 12 juta penduduk berusia di atas 15 tahun mengalami depresi.

Saat ini, prevalensinya di Indonesia meningkat tajam, yaitu 1 dari 5 orang atau 20% dari populasi berisiko mengalami masalah kesehatan mental. Artinya masalah kesehatan mental bisa terjadi pada siapa saja, termasuk anak muda.

Menurut Jenyffer, M.Psi, Psikolog Klinis, situasi pandemi Covid-19 membuat milenial sangat rentan mengalami gangguan kesehatan mental seperti depresi dan ansietas. Situasi pandemi membuat mereka sering kali merasa diabaikan, terbatasnya ruang untuk mengekspresikan diri dan bersosialisasi.

“Adapun yang dapat dilakukan anak muda agar kuat mental selama pandemi menurut Jennyfer adalah: melihat rasa cemas sebagai alat bantu untuk mengambil tindakan agar tetap bisa berkembang dalam situasi sulit, temukan cara baru untuk berinteraksi dengan teman, fokus pada diri sendiri agar bisa menemukan cara produktif untuk bertahan di masa pandemi,” jelas dalam Good Doctor Technology Indonesia berkolaborasi dengan The London School of Public Relations (LSPR) meluncurkan program edukasi “Good Knowledge, Good Health”.

Maka bukan hanya penting menjaga fisik di tengah pandemi Covid-19, melainkan kesehatan mental juga perlu menjadi diperhatikan. Dengan berkembangnya layanan kesehatan mental di Indonesia, banyak yang masih perlu dilakukan untuk menurunkan stigma yang diasosiasikan dengan kesehatan mental dan mendorong diskusi tentang kesehatan mental.

Dari sekitar 10 ribu puskesmas di Indonesia, baru 60% puskemas yang memberikan layanan kesehatan mental. Dari sisi tenaga profesional yang menangani kesehatan mental, Indonesia juga masih kekurangan.

Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK) menyebutkan jumlah psikolog klinis yang tersebar di Indonesia saat ini hanya sebanyak 2.782 orang. Artinya, hanya ada 1 psikolog untuk 90 ribu orang di Indonesia, sementara standard yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah 1 tenaga psikolog melayani 30 ribu orang.

Sebanyak 70 persen berada di pulau Jawa, 20 persen terkonsentrasi di Jakarta. Sedangkan sampai hari ini jumlah psikiater untuk pelayanan kesehatan jiwa hanya mempunyai 1.053 orang. Artinya, satu psikiater melayani sekitar 250 ribu penduduk.

Telemedis: Tingkatkan Akses untuk Menghapus Stigma Kesehatan Mental

(c) Shutterstock
(c) Shutterstock

Dalam aplikasi kesehatan digital seperti Good Doctor, tersedia layanan telekonsultasi psikolog. dr. Adhiatma Gunawan, Head of Medical Management GoodDoctor menjelaskan, dengan adanya fitur telemedicine atau konsultasi online membuat milenial bisa mengakses pengobatan kesehatan mental dengan lebih mudah.

“Kebanyakan anak muda tidak nyaman menceritakan masalah emosional dan mental mereka kepada orang tua karena adanya stigma, maka telemedis menjadi solusi terbaik bagi milenial untuk berkonsultasi dengan psikiater atau psikolog tanpa takut dicap negatif,” ujarnya.

Dengan berbicara kepada tenaga kesehatan professional, mereka akan mendapatkan bimbingan untuk mengatasi kondisi mereka dibandingkan dengan mengandalkan pada informasi generik yang didapatkan secara daring yang dapat mengarah ke swadiagnosis yang berbahaya.

Di masa peningkatan kasus COVID-19 di antara bulan Mei dan Agustus, kami mencatat peningkatan jumlah konsultasi harian terkait kesehatan mental hingga 80%, yang menjadi indikator bahwa semakin banyak kaum milenial yang mau berbicara terbuka tentang kondisi kesehatan mental yang dihadapi.

“Dengan lebih dari setengah pengikut media sosial kami dari kelompok usia milenial, kami menyadari pentingnya pemberdayaan kaum muda dengan menyerahkan tanggung jawab kesehatan ke tangan masing-masing dan menutup kesenjangan akses melalui teknologi digital. Dengan bermitra dengan LSPR, semakin banyak kaum muda yang dapat mengakses aplikasi kami dan bersama-sama, kami berkomitmen untuk menyediakan informasi kesehatan yang terpercaya yang dapat meningkatkan literasi digital dan memperkuat pemikiran dari kaum muda. Pemberdayaan kaum muda akan mendorong mereka untuk membuat keputusan yang lebih tepat tentang kesehatan mereka untuk jangka panjang,” ujar Managing Director Good Doctor, Danu Wicaksana.

Dr. Andre Ikhsano, Rektor LSPR Communication & Business Institute menyebutkan LSPR juga memiliki semangat yang sama. “Kami sadar betul kesehatan adalah investasi penting untuk negara. Karena itu sebagai institusi pendidikan kami harus terlibat aktif dalam meningkatkan literasi kesehatan generasi muda. Kolaborasi ini adalah salah satu cara efektif untuk mewujudkannya," paparnya.

Psikolog Jennfer juga menyampaikan maka telemedis menjadi solusi atas keterbatasan penanganan kesehatan mental di Indonesia. Terutama untuk milenial yang akrab dengan dunia digital, akses pengobatan kesehatan mental jadi lebih riil dan terjangkau.

#elevate women

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel