Teliti Situs Macan Putih, Banyuwangi Gandeng UGM

TEMPO.CO , Banyuwangi : Pemerintah Banyuwangi, Jawa Timur menggandeng Universitas Gajah Mada Yogyakarta untuk melakukan penelitian situs Macan Putih di Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Suprayogi, mengatakan penandatanganan kesepakatan kerja sama (MoU) telah dilakukan oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan Rektor UGM Pratikno.

Pemerintah Banyuwangi, menurut dia, mengalokasikan anggaran penelitian tahap pertama sebesar Rp 75 juta dari Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tahun 2012. "Setelah MoU itu tim UGM akan turun ke Banyuwangi," kata dia kepada Tempo, Selasa, 2 Oktober 2012.

Universitas Gajah Mada dipilih, dia menambahkan, karena pada 2010 pernah melakukan penelitian di situs tersebut. Namun saat itu, sejarawan dan arkeolog UGM melakukan penelitian secara swadaya. Dengan kerja sama ini, diharapkan ada keberlanjutan sehingga situs Macan Putih dapat terekplorasi seluruhnya.

Hasil dari penelitian ini nantinya akan menjadi dasar bagi Pemerintah Banyuwangi dalam menerbitkan peraturan daerah tentang cagar budaya serta rencana penggalian (eskavasi) kandungan situs yang berada di dalam tanah.

Dalam buku karya sejarawan UGM Sri Margana berjudul "Perebutan Hegemoni Blambangan: Ujung Timur Jawa 1763-1813" disebutkan, situs Macan Putih merupakan bekas ibu kota Kerajaan Blambangan pada 1655-1691. Saat itu Kerajaan Blambangan mencapai puncak kejayaan yang dipimpin Raja Tawang Alun II.

Kerajaan Blambangan berdiri pada abad ke-13 atau semasa dengan Kerajaan Majapahit. Saat berada di kekuasaan Majapahit, Blambangan disebut sebagai Ibu kota Majapahit Barat atau Kedaton Wetan. Namun, setelah Majapahit runtuh, Blambangan ternyata mampu berdiri hingga abad ke-18.

Dalam buku itu, Kerajaan Blambangan disebut sebagai kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa. Blambangan juga menjadi daerah terakhir yang ditaklukan oleh VOC/Belanda serta daerah terakhir yang dimasuki pengaruh Islam.

Ketua Jurusan Sejarah UGM Yogyakarta, Sri Margana, mengatakan sejarawan dan arkeolog UGM akan melakukan penelitian pada pertengahan Oktober.

Penelitian lanjutan ini, menurut dia, untuk memetakan wilayah di Desa Macan Putih yang diduga kuat banyak terdapat benda dan bangunan bersejarah yang terpendam di dalam tanah. "Selain tim dari UGM, kami juga melibatkan sejarawan lokal," katanya saat dihubungi Tempo.

Berdasarkan penelitian pada 2010, tim menemukan banyak benda purbakala yang terpendam di tanah seperti gerabah, pecahan keramik dan patung. Selain itu, juga ditemukan bekas reruntuhan bangunan yang terbuat dari batu bata dengan struktur rapat tanpa spasi.

Menurut Margana, hasil kajian dari arkeolog UGM bahwa situs Macan Putih merupakan situs Hindu terlengkap yang tersisa di Asia Tenggara. Sebab, situs ini cenderung belum mengalami kerusakan dan masih jarang adanya bangunan permanen.

IKA NINGTYAS

Berita Lainnya:

Changdeokgung, Istana Bersemburat Taman Rahasia

Koki Top Hingga Artis Masak-masak di Bandung

Tanjung Priok Berdandan Demi Festival 

Ada Apa di Festival Kopi Malang? 

Target Nusa Dua Fiesta 15 Ribu Pengunjung Sehari  

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.