Tembak 3 Pendemo, Kyle Rittenhouse Divonis Bebas

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Kenosha - Kyle Rittenhouse (18) divonis bebas oleh pengadilan di Kenosha, Amerika Serikat, setelah menjalani persidangan kasus penembakan pendemo. Ia menghadapi lima tuntutan dengan hukuman maksimal penjara maksimal seumur hidup.

Kasus penembakan itu terjadi pada 25 Agutus 2021 ketika demonstrasi dan kerusuhan di Kenosha terkait isu rasial. Kyle yang waktu itu berusia 17 tahun datang ke lokasi sambil membawa senapan. Ia mengaku ingin melindungi car dealer setempat.

Situasi menjadi kacau setelah ada pendemo yang mengejar Kyle, kemudian remaja itu menembak hingga korban tewas. Setelahnya, Kyle dikejar massa yang berusaha menyetopnya, dan ia menembak tiga orang lainnya, salah satunya tewas.

Berdasarkan laporan AP News, Sabtu (20/11/2021), juri pengadilan yang terdiri dari 12 orang memutuskan bahwa Kyle Rittenhouse dinyatakan bebas dari lima tuntutan terkait pembunuhan (homicide) dan membahayakan keselamatan.

Juri berdiskusi selama tiga setengah hari sebelum memberikan vonis. Mereka memutuskan bahwa Kyle Rittenhouse menembak karena melindungi diri (self-defense).

"Ia (Kyle) luar biasa lega atas apa yang dilakukan juri padanya hari ini. Ia tidak ingin semua ini terjadi," ujar Mark Richards, pengacara dari Kyle.

Kyle berkata dirinya melindungi diri karena ketakutan saat dikejar pendemo pertama. Ia juga sempat menangis di pengadilan. Kasus Kyle Rittenhouse menimbulkan polemik di Amerika Serikat terkait masalah senjata api dan ras.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Apa yang Terjadi di Kenosha?

Bendera Amerika jatuh dari tiangnya saat polisi berusaha mengamankan daerah itu setelah pengunjuk rasa membakar gedung di Kenosha, Wisconsin, Amerika Serikat, Senin (24/8/2020). Protes dipicu oleh penembakan Jacob Blake oleh petugas polisi Kenosha sehari sebelumnya. (AP Photo/David Goldman)
Bendera Amerika jatuh dari tiangnya saat polisi berusaha mengamankan daerah itu setelah pengunjuk rasa membakar gedung di Kenosha, Wisconsin, Amerika Serikat, Senin (24/8/2020). Protes dipicu oleh penembakan Jacob Blake oleh petugas polisi Kenosha sehari sebelumnya. (AP Photo/David Goldman)

Kyle Rittenhouse pergi ke Kenosha di negara bagian Wisconsin. Ia berasal dari kota Antioch yang berada di negara bagian Illinois. Lokasi Kenosha dan Antioch tidak jauh.

Waktu itu, Kyle masih di bawah umur. Ia sedang berada di Kenosha dan memutuskan ke lokasi demo dengan senapan AR-15.

Situasi sudah menjelang tengah malam ketika tiba-tiba Joseph Rosenbaum (36) muncul dan cekcok dengan Kyle. Joseph lantas mengejar Kyle dan melemparnya dengan plastik. Setelah posisi Joseph semakin dekat, Kyle melepaskan tembakan.

Joseph menjadi korban pertama.

Setelahnya, situasi menjadi chaos. Para pendemo lain mengira ada penembakan dan mereka lantas mengejar Kyle Rittenhouse. Teriakan-teriakan bernada emosional terdengar dari pendemo.

Kyle kemudian terjatuh dan ditendang pria bernama Maurice Freeland (39). Kyle dua kali menembaknya, tetapi meleset.

Ketika Kyle masih terjatuh, ada pendemo lain bernama Anthony Huber (26) yang berusaha menangkapnya. Berdasarkan video yang beredar luas, Huber membawa skateboard dan memakainya untuk memukul Kyle dan mengenai bahu remaja itu, dan sejurus kemudian Kyle menembak Huber di bagian dada dan tewas.

Setelahnya, ada Gaige Grosskreutz (28) yang merupakan relawan medis. Ia mengarahkan pistol yang ia bawa ke Kyle karena mengira remaja itu adalah penembak aktif, namun Kyle menembak lebih dahulu.

Gaige Grosskreutz adalah satu-satunya korban selamat dan ikut bersaksi terhadap Kyle di pengadilan.

Reaksi Joe Biden

Kyle Rittenhouse (18), pelaku penembakan tiga demonstran di Kenosha. Dua korban tewas. Dok: Sean Krajacic/The Kenosha News via AP
Kyle Rittenhouse (18), pelaku penembakan tiga demonstran di Kenosha. Dua korban tewas. Dok: Sean Krajacic/The Kenosha News via AP

Kasus Kyle Rittenhouse juga masuk ke ranah partisan. Partai Republik cenderung pro-Kyle, sementara Partai Demokrat sebaliknya.

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden berkata menghormati keputusan sistem pengadilan. Ia meminta agar masyarakat melakukan hal yang sama walau khawatir pada vonis bebas ini.

"Meski keputusan di Kenosha akan membuat banyak orang Amerika merasa marah dan khawatir, termasuk diri saya, kita harus mengaku bahwa juri telah berbicara," ujar Presiden Biden dalam pernyataan resmi di situs White House.

Lebih lanjut, Joe Biden meminta agar masyarakat mengungkap protesnya secara damai berdasarkan aturan hukum.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel