Tempat tidur pasien COVID-19 RS rujukan di Yogyakarta masih mencukupi

Tempat tidur dari sejumlah rumah sakit rujukan untuk perawatan pasien COVID-19 di Kota Yogyakarta hingga saat ini masih mencukupi dengan rata-rata keterisian sekitar 20 persen.

“Pada Minggu (20/11), keterisian tempat tidur, baik untuk perawatan isolasi maupun intensif justru sedikit turun,” kata Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Rujukan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Okto Heru Santosa di Yogyakarta, Senin.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta pada Minggu (20/11), keterisian tempat tidur perawatan intensif turun dari 25 persen menjadi 15 persen atau terisi enam tempat tidur dari total 40 tempat tidur yang disiapkan.

Sedangkan tempat tidur isolasi turun dari 31,91 persen menjadi 29,79 persen atau terisi 70 tempat tidur dari 235 tempat tidur yang disiapkan.

Meskipun demikian, grafik bed occupation rate (BOR) untuk perawatan pasien COVID-19 di rumah sakit rujukan di Kota Yogyakarta masih fluktuatif terhitung sejak bulan sebelumnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Emma Rahmi Aryani menyebut sudah melayangkan surat edaran kepada seluruh rumah sakit untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kenaikan kasus COVID-19.

Baca juga: Sempat menipis, stok vaksin COVID-19 DIY kembali tersedia

Baca juga: BOR COVID-19 di rumah sakit Yogyakarta 10-11 persen

“Puncak kenaikan kasus diperkirakan terjadi pada Desember atau awal Januari sehingga rumah sakit perlu meningkatkan kewaspadaan,” katanya.

Kewaspadaan tersebut diantaranya diwujudkan dengan menambah jumlah tempat tidur untuk perawatan pasien COVID-19 dan sejak pekan lalu, jumlah tempat tidur untuk isolasi mulai ditambah.

Sejumlah rumah sakit di Yogyakarta yang menjadi rujukan perawatan COVID-19 di antaranya RS Jogja, RS Pratama, RS Panti Rapih, RS Bethesda, RS PKU Muhammadiyah, RS Siloam, dan RS Dr Soetarto.

Shelter isolasi yang memanfaatkan Rumah Susun Sewa Bener di Kecamatan Tegalrejo juga tetap dioperasikan untuk perawatan pasien yang tidak dapat menjalani isolasi mandiri.

“Saat ini, asal penularan sudah sulit diketahui karena mobilitas masyarakat sangat tinggi. Sebagian besar kasus ditemukan saat masyarakat mengakses layanan kesehatan,” katanya.

Ia pun mengingatkan masyarakat untuk tetap menjalankan protokol kesehatan sebagai langkah mencegah penularan kasus.

Secara keseluruhan, Kota Yogyakarta tetap berada pada zona kuning atau memiliki risiko penularan rendah. Meskipun demikian, pada pekan ini terdapat dua kelurahan yang masuk dalam kategori zona oranye atau memiliki risiko penularan sedang.

Kedua kelurahan tersebut adalah Panembahan dan Terban, sedangkan 41 kelurahan lain berada di zona kuning dan dua kelurahan tidak terdeteksi kasus yaitu di Brontokusuman dan Giwangan.

Baca juga: Nakes di Yogyakarta segera peroleh vaksinasi COVID-19 booster kedua

Baca juga: Dinkes Yogyakarta kirim sampel COVID-19 cek subvarian terbaru