Temuan kasus COVID-19 dan protap penanganan di PON Papua

·Bacaan 6 menit

Memasuki hari keempat perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua pascapembukaan, kabar kurang menyenangkan muncul di kalangan ofisial dan atlet. Apalagi kalau bukan temuan kasus virus corona (COVID-19) yang dialami anggota kontingen danc panitia pelaksana.

Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan COVID-19 Papua mengungkapkan ada 29 kasus COVID-19 ditemukan di empat klaster lokasi penyelenggaraan PON XX, yakni Kota/Kabupaten Jayapura, Mimika, dan Merauke.

Kasus temuan positif COVID-19 pertama dilaporkan di Timika sebelum upacara pembukaan pertandingan cabang olahraga PON XX Papua. Belakangan jumlah kasusnya bertambah menjadi 13 orang yang terinfeksi virus corona.

Baca juga: Tujuh atlet terpapar COVID-19 isolasi di RSUD Mimika

Jumlah kasus yang sama dilaporkan di Klaster Jayapura, dengan rincian tujuh kasus di Kabupaten Jayapura dan enam kasus di Kota Jayapura. Sementara di Klaster ditemukan tiga kasus corona.

Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Provinsi Papua merinci ke-29 orang yang terpapar virus penyerang saluran pernafasan itu terdiri atas atlet, ofisial dan panitia pelaksana.

Dari laporan yang diterima satgas, rata-rata mereka yang terpapar COVID-19 hanya bergejala ringan, bahkan ada yang tanpa gejala (OTG/orang tanpa gejala).

"Menurut laporan, mereka seluruhnya sudah divaksin di daerah asalnya sebelum datang ke Papua untuk mengikuti PON XX. Jadi, walaupun mereka dinyatakan positif, tidak sampai bergejala," kata Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Papua dr. Silwanus Sumule.

Saat ini, atlet, ofisial dan anggota panpel PON XX Papua yang terinfeksi virus corona telah menjalani perawatan dan isolasi di tempat-tempat yang sudah disediakan pemerintah daerah setempat, termasuk di tempat isolasi terpusat terapung yang ada di KM Tidar untuk Klaster Jayapura dan KM Sirimau (Klaster Merauke).

Baca juga: 29 kasus COVID-19 ditemukan di empat klaster PON XX Papua

Sementara tujuh orang atlet dari empat kontingen yang terpapar COVID-19 di Klaster Mimika, menjalani perawatan di ruang isolasi RSUD Mimika. Mereka berasal dari kontingen DKI Jakarta, Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Barat (NTB)

Menurut Direktur RSUD Mimika dr. Antonius Pasulu satu orang atlet basket dari DKI Jakarta menderita gejala ringan, kemudian lima orang atlet judo masing-masing tiga orang dari DKI Jakarta dan dua orang dari Kaltim dinyatakan OTG atau tanpa gejala. Termasuk satu orang pemain futsal NTB.

Atas temuan kasus itu, satgas bersama petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika sudah langsung melakukan pelacakan terhadap kontrak erat atlet, ofisial dan anggota panpel yang terinfeksi COVID-19.

"Semuanya (kontak erat) dinyatakan negatif," sebut Antonius.

Sebagian besar atlet dan ofisial yang dinyatakan positif COVID-19 itu rata-rata terdeteksi usai menjalani pemeriksaan PCR (polymerase chain reaction) untuk keperluan syarat penerbangan kembali ke daerah asalnya masing-masing. Mereka sudah menyelesaikan seluruh pertandingan.

Seperti dua judoka Kalimantan Timur Melia Kubus dan Eko Haryono. Keduanya bersama seorang atlet dan manajer tim judo seharusnya dijadwalkan kembali ke daerah asalnya pada 3 Oktober 2021.

Dua hari sebelum keberangkatan, mereka menjalani tes usap PCR. Hasilnya, Melia dan Eko dinyatakan positif COVID-19 sehingga tidak bisa pulang. Keduanya harus menjalani isolasi hingga hasilnya tes PCR-nya negatif.

Sementara judoka Yaumil Aqsharini yang meraih medali perunggu PON XX Papua kelas 52 kg putri dan manajer tim judo Lukito hasil tes PCR-nya negatif sehingga bisa pulang ke Kaltim.

Temuan kasus COVID-19 ini sempat membuat ofisial kontingen Kaltim sedikit kelabakan, tetapi mereka sangat yakin pihak penyelenggara PON Papua sudah menyiapkan segalanya untuk penanganan.

"Saya tetap bertahan di Mimika untuk mendampingi anak-anak hingga selesai menjalani isolasi," kata pelatih judo Kaltim Adianoor saat dihubungi ANTARA dari Jayapura.

Protap penanganan

Munculnya temuan kasus COVID-19 di kalangan atlet, ofisial dan petugas panpel menjadi perhatian serius jajaran kontingen peserta PON, PB PON, KONI Pusat, hingga Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainuddin Amali.

Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman menyebut langkah penanganan menjadi hal terpenting dalam menyikapi temuan kasus COVID-19 tersebut. Dinas Kesehatan dan seluruh unsur yang berkaitan dengan PB PON Papua sudah memiliki prosedur tetap menangani masalah itu.

Sejak jauh hari sebelum PON Papua berlangsung, pemerintah dalam hal ini Kemenpora bersama KONI dan PB PON terus mematangkan persiapan, terkhusus menyangkut protokol kesehatan, mengingat pesta olahraga nasional empat tahunan ini berlangsung masih dalam suasana pandemi.

Bahkan, Presiden Joko Widodo secara intens meminta masalah protokol kesehatan harus diutamakan. Salah satu yang menjadi konsen Presiden adalah vaksinasi bagi atlet, ofisial, petugas panpel, hingga masyarakat yang berlokasi di sekitar arena pertandingan PON.

Maklum saja, jelang penyelenggaraan PON, cakupan vaksinasi bagi masyarakat di Bumi Cendrawasih masih jauh di bawah angka 70 persen. Karena itu, percepatan vaksinasi terus digenjot dengan melibatkan berbagai pihak.

Satgas Penanganan COVID-19 Pusat juga ikut mengingatkan semua pihak yang berkaitan dengan penyelenggaraan PON Papua untuk memberikan perhatian lebih terhadap pencegahan penularan virus corona, utamanya memastikan prokes benar-benar diterapkan dengan sangat ketat.

Secara keseluruhan ada sekitar 12 ribu hingga 15 ribu atlet, ofisial dan seluruh pendukungnya yang datang ke Papua untuk kegiatan PON. Sudah pasti tidak mudah bagi tuan rumah penyelenggara meng-handle ribuan orang itu.

Baca juga: Menpora pastikan pertandingan PON Papua tetap berjalan

Untuk menerapkan protokol kesehatan yang superketat seperti pelaksanaan Olimpiade 2020 Tokyo jelas sangat tidak mungkin. Selain sarana dan prasarana, biaya yang harus disiapkan sangat besar. Belum lagi sumber daya manusianya.

Saat Olimpiade Tokyo, seluruh anggota kontingen, tamu undangan dan juga jurnalis yang hendak menuju Jepang wajib menjalani karantina selama sepekan di negara asal, dengan setiap hari melakukan tes PCR yang hasilnya dilaporkan kepada panitia.

Ketika masuk Jepang melalui bandara Tokyo, mereka lagi-lagi harus menjalani tes PCR. Setelah itu wajib karantina selama tiga hari bagi yang hasil PCR-nya negatif dan isolasi lebih lama untuk yang dinyatakan positif.

Pemeriksaan PCR juga dilakukan secara berkala terhadap seluruh atlet, ofisial, petugas pendukung kontingen, dan juga jurnalis selama Olimpiade berlangsung. Mereka juga diawasi dan dilarang keluar dari area yang telah ditentukan panitia olimpiade.

Dengan protokol kesehatan yang begitu ketat saja, Olimpiade Tokyo masih kecolongan dengan temuan beberapa kasus COVID-19. Bagaimana hal yang sama tidak terjadi dengan perhelatan PON XX Papua yang prokesnya jauh lebih longgar.

Meskipun atlet dan ofisial secara berkala diwajibkan menjalani tes antigen, namun sebagian besar dari mereka tidak tinggal dalam satu kawasan khusus yang menghindarkan dari kontak fisik dengan orang lain.

Bahkan, dari pengamatan penulis di sejumlah arena pertandingan, penerapan protokol kesehatan terbilang longgar. Tidak ada pemeriksaan sertifikat vaksin bagi penonton, apalagi tes antigen sebelum masuk area tribun. Tidak sedikit pula warga atau suporter yang tidak bermasker.

Penerapan protokol kesehatan sedikit ketat hanya terjadi ketika upacara pembukaan PON yang dihadiri Presiden Jokowi dan para pejabat tinggi negara. Jurnalis peliput pun tak luput harus menjalani tes antigen sebelum mendapat izin liputan.

Menpora Zainudin Amali yang selama pelaksanaan PON XX berkantor di Papua menyatakan segera memanggil Panitia Pengawasan dan Pengarah (Panwasrah) bersama PB PON untuk membahas masalah temuan kasus corona ini.

"Saya akan kumpulkan Panwasrah dan PB PON, beserta segenap elemen yang terlibat, berusaha meminimalisasi risiko transmisi COVID-19 melalui berbagai strategi, di antaranya penegakan protokol kesehatan (prokes) ketat," katanya.

PON Papua sebenarnya telah menjalankan prokes mulai dari masuk ke Bumi Cenderawasih. Setiap yang masuk ke provinsi paling timur Indonesia ini wajib melakukan tes PCR dengan hasil negatif COVID-19.

Hanya saja, virus corona belum sepenuhnya hilang, tetap menyebar dan dibuktikan dengan penemuan atlet, ofisial maupun panpel yang terkena virus asal China itu.

"Ayo kita bersama-sama mengecek asal virus ini, karena sebelum datang ke Papua semua kontingen sudah tes PCR," kata Menpora seraya menegaskan pertandingan PON tetap berjalan dengan prokes lebih diperketat.

Baca juga: Cegah penyebaran COVID-19 PON Papua terapkan sistem bubble ketat

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel