Temukan Potensi Tsunami di Selatan Jawa, BNPB Akan Bangun Greenbelt

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Pemetaan dan Evakuasi Risiko Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari menyampaikan hasil riset yang dilakukan pihaknya dan ITB mengenai bahaya tsunami di selatan Jawa. Berdasar hasil riset, ada potensi gempa di wilayah itu yang memicu tsunami.

"Potensi gempa itu dapat membangkitkan tsunami di dua lokasi selatan Jawa. Dua lokasi tersebut berada di kawasan selatan Banten–Jawa Barat dan selatan Jawa Tengah–Jawa Timur," ujar Muhari saat memaparkan hasil riset di hadapan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi Jawa Tengah, Senin 28 Desember 2020.

Berdasar temuan ilmiah yang sudah dipublikasikan di jurnal internasional Nature ini, BNPB telah mendesain upaya mitigasi yang terintegrasi, yakni rencana membangun greenbelt yang akan direalisasikan dalam waktu dekat.

"Greenbelt atau sabuk hijau merupakan gugusan tanaman yang mengombinasikan dua jenis pohon, yaitu mangrove dan pohon palaka," ujar Muhari.

Dia menjelaskan, mangrove akan ditanam menghadap ke laut. Mangrove yang akan ditanam yaitu jenis pandanus maupun jenis mangrove lainnya yang bisa tumbuh di substrat pasir.

Mangrove salah satunya berfungsi untuk mereduksi energi tsunami. Sedangkan palaka berfungsi sebagai lapisan pelindung di sisi belakang atau sisi darat.

"Ketebalan dan formasi penanaman vegetasi itu akan diatur berbasis perhitungan ilmiah. Hal ini dilakukan agar penetrasi tsunami tidak terlalu jauh ke arah darat dan bisa meminimalisir korban maupun kerusakan di daratan," papar Muhari.

Penanaman untuk mencegah tsunami ini diupayakan akan dimulai pada awal tahun dengan berkoordinasi dengan pemda setempat.

Energi Magnitudo Gempa

Muhari pun menambahkan, berdasarkan hasil riset yang dilakukan BNPB, terdapat segmen yang berada di selatan Banten, Jawa Barat dengan potensi energi hingga magnitudo 8,8.

"Sedangkan segmen Jateng-Jatim berpotensi memiliki energi magnitudo 8,9 yang jika terlepas secara bersamaan akan menghasilkan potensi energi setara magnitudo 9,1," ujar Muhari.

Untuk mengantisipasi potensi bencana tersebut, dia mengimbau daerah-daerah yang berada di dataran rendah untuk memanfaatkan sekolah atau bangunan-bangunan tinggi yang tahan gempa dan tsunami sebagai tempat Evakuasi Sementara (TES). Sebab, beberapa daerah di dataran rendah memang belum memiliki tempat evakuasi sementara.

"Fasilitas umum seperti jembatan penyeberangan juga dapat digunakan sebagai tempat evakuasi sementara seperti yang sudah dilakukan di Jepang tapi harus didesain supaya mudah dijangkau masyarakat yang akan berlari untuk menyelamatkan diri," tutup Muhari.

Reporter: Rifa Yusya Adilah

Sumber: Merdeka

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: