Tenaga Kesehatan Pahlawan Kemanusiaan

Dian Lestari Ningsih, subhanzizou-846
·Bacaan 2 menit

VIVA – Dalam memperingatan Hari Pahlawan pada 10 November 2020, saat ini dunia dan Indonesia tengah berjuang menghadapi Pandemi Covid-19. Pada peringatan Hari Pahlawan ini merupakan kesempatan yang besar bagi seluruh bangsa Indonesia tanpa kecuali.

Bukan saja mengenang jasa dan pengorbanan para pejuang yang tak terhitung jumlahnya, demi memperjuangkan tegaknya Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Peringatan Hari Pahlawan juga merupakan kesempatan baik untuk selalu memupuk tenggang rasa akan cinta tanah air. Di dalam era globalisasi sekarang bangsa Indonesia mengalami banyak perubahan dan kemajuan, kita tidak lagi berperang melawan penjajahan seperti saat ini kita tengah berperang melawan corona virus yang memiliki dampak secara komprehensif di dalam kehidupan terutama di bidang kesehatan.

Peran Tenaga Kesehatan (Nakes)

Tidak dapat dipungkiri, bahwa tenaga kesehatan yang memiliki berbagai macam bidang profesi seperti Dokter, Perawat, Bidan, Kesehatan Masyarakat dan seterusnya juga berperan baik pada saat sebelum kemerdekaan sampai sekarang dengan menjadikan tenaga kesehatan, sebagai garis terdepan memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat Indonesia.

Situasi pandemi ini menjadi salah satu bukti, bahwa tenaga kesehatan dituntut serta berkewajiban di dalam melaksanakan peran dan fungsi pelayanan promosi, preventif, Kuratif serta rehabilitatif dengan tulus ikhlas dan penuh pengabdian kepada masyarakat di seluruh pelosok Tanah Air.

Tenaga kesehatan (Nakes) berperan besar dalam menentukan pembangunan kesehatan. Bekerja sebagai Nakes adalah mengabdi kepada kemanusiaan dan menjadi pelayan masyarakat. Oleh karena itu, banyak tantangan yang harus dihadapi dan disikapi serta senantiasa harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, cinta-kasih, dan rasa bangga melayani ciptaan Tuhan.

Peran tenaga kesehatan secara keseluruhan sangat penting dalam penanganan Covid-19 pada setiap level intervensi. Utamanya pada level pelayanan masyarakat baik perawatan yang terkonfirmasi positif coronavirus maupun untuk melakukan komunikasi risiko dan edukasi masyarakat terkait protokol kesehatan untuk melawan Covid-19. Kemudian untuk melakukan contact tracing & tracking (penyelidikan kasus dan investigasi wabah), serta fasilitasi dan pemberdayaan masyarakat.

Berdasarkan data Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) bersama Perhimpunan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), (3/10/2020) terdapat 130 dokter, 9 dokter gigi dan 92 perawat yang meninggal dunia akibat Covid-19.

Setidaknya kita mampu menjadi pahlawan pada diri sendiri dan keluarga dengan selalu menjaga protokol kesehatan 3 M yang harus dilakukan secara masif oleh semua orang.

  • Masker, selalu memakai masker dengan baik dan benar menjadi barrier jalur masuk dan keluar dari proses penularan Covid-19 yang menular melalui droplet atau bahkan aerosol pada kondisi ruangan dengan sirkulasi yang tidak baik.

  • Menjaga jarak lebih dari 1 meter, menghindari kerumunan apalagi beraktifitas bersama dalam waktu lama dengan sirkulasi udara tertutup, termasuk makan bersama.

  • Mencuci tangan selalu dengan air mengalir dan sabun dengan benar selama 40 sampai 60 detik atau bila tidak ada dapat menggunakan Handsanitizer berbasis alkohol.

Sehingga penyebaran Covid-19 ini dapat dikendalikan dengan baik serta dapat menekan jumlah korban dan dampak yang ditimbulkan oleh coronavirus di bidang ekonomi, sosial dan politik tidak menjadi lebih berat.