Tenaga Medis RI di Inggris Masuk Kelompok Pertama Divaksin COVID-19

Mohammad Arief Hidayat, BBC Indonesia
·Bacaan 4 menit

Tenaga kesehatan Indonesia termasuk dalam kelompok pertama yang menerima vaksinasi massal COVID-19 di Inggris, di tengah lonjakan besar kasus yang disebut dokter serta pejabat kesehatan sebagai "tsunami" dan "fase paling berbahaya."

Tiga tenaga medis Indonesia yang bekerja di rumah sakit yang berbeda di London akan mendapatkan dosis kedua vaksin buatan Pfizer pada pekan kedua Januari ini, untuk memastikan imunisasi penuh.

Ketiganya mengatakan "lega" mendapatkan vaksinasi ini dan dapat menghadapi pasien dengan tenang, tanpa khawatir menulari mereka.

Dyah Mustikaning Pitha Prawesti, dokter kebidanan dan kandungan, yang bekerja di Chelsea and Westminster Hospital, London, berharap, "saya jadi lebih aman terhadap pasien yang rentan seperti ibu hamil, pasien penderita kanker dan pasien rentan lain."

Pitha juga mengatakan harapannya agar vaksinasi dapat dipercepat karena "jumlah pasien yang dirawat lebih banyak dari gelombang pertama...dan sepertiga pasien di unit persalinan positif COVID."

Sementara Anas Alamudi yang bekerja di unit gawat darurat rumah sakit King`s College berharap vaksinasi yang diterimanya menekan risiko penularan ke anak-anak. "Saya ambil vaksinasi untuk lindungi anak." Tahun lalu, kata Anas, ia tak bertemu dengan putranya selama tiga bulan.

Bagi Ardito Widjono, dokter di unit gawat darurat rumah sakit Barnet, London utara, keparahan gelombang kedua COVID-19 terlihat dari kewalahannya rumah sakit.

"Di UGD, saking sibuknya, ambulans antre masuk setiap malam. Saya terpaksa periksa pasien di belakang ambulans saking penuh," kata Ardito.

"Pasien tampaknya tidak sehati-hati di puncak pertama. Ketika penularan tinggi dengan adanya varian baru, ada yang cerita ke saya, mereka ke pesta Natal, pesta Tahun Baru, diam-diam. Tampaknya, mereka belum paham separah apa gelombang kedua ini," tambahnya.

"Tsunami" dan "Fase paling berbahaya"

Dosis pertama vaksin Covid-19 Pfizer.
Antara dosis pertama dan dosis kedua berjarak 21 hari, sebelum mendapat imunitas penuh.

Profesor Hugh Montgomery, selaku dokter di perawatan intensif RS University College London, mengatakan kepada BBC, tim gawat darurat di Inggris menghadapi apa yang ia sebut "tsunami" kasus virus corona karena lonjakan kasus positif.

Montgomery mengatakan banyak orang yang melanggar karantina, tidak memedulikan protokol kesehatan, termasuk tidak memakai masker dan menjaga jarak.

Ia menyebut orang-orang yang tidak memedulikan protokol kesehatan ini "tangannya berdarah", karena bertanggung jawab atas penyebaran.

Peningkatan kasus harian di Inggris mencapai lebih dari 53.000 kasus pada (29/12), dengan angka okupansi rumah sakit juga melonjak.

Saat ini rumah sakit di Inggris merawat lebih dari 20.400 pasien, menurut data layanan kesehatan Inggris (NHS). Jumlah tersebut lebih tinggi dari 19.000 pasien pada puncak pertama April tahun 2020.

Penasihat pemerintah dari badan sains Inggris memperingatkan karantina wilayah perlu diperketat untuk mencegah "bencana."

Ketua NHS Inggris, Simon Stevens, mengatakan pasien Covid-19 parah yang dirawat pada 2020 mencapai 200.000 lebih.
Ketua NHS Inggris, Simon Stevens, mengatakan pasien Covid-19 parah yang dirawat pada 2020 mencapai 200.000 lebih.

Lonjakan penyebaran varian baru virus corona ini menunjukkan Inggris memasuki "tahap baru pandemi yang sangat berrbahaya," menurut Prof Andrew Hayward, anggota badan penasehat pemerintah untuk penyakit pernapasan akibat virus, New and Emerging Respiratory Virus Threats Advisory Group (Nervtag).

Hayward mengatakan kepada Program Today BBC Radio 4, "Kita perlu mengambil langkah awal yang menentukan, langkah nasional untuk mencegah bencana pada Januari dan Februari."

Dua bulan di awal tahun ini adalah puncak musim dingin di belahan bumi utara.

Sementara itu ketua NHS Inggris, Simon Stevens, mengatakan dalam kondisi yang seperti ini para petugas medis "kembali berada di tengah badai".

Jumlah orang yang sudah divaksin sejauh ini lebih dari 600.000 sejak diluncurkan awal Desember.
Jumlah orang yang sudah divaksin sejauh ini lebih dari 600.000 sejak diluncurkan awal Desember.

Ia mengatakan bagi tenaga kesehatan, 2020 adalah "tahun terberat" dengan pasien parah COVID-19 yang dirawat berjumlah sekitar 200.000 orang.

Peningkatan "50% penularan varian baru berarti pembatasan yang dilakukan sebelumnya dan berhasil, tidak akan berjalan sekarang, jadi pembatasan level 4 perlu atau lebih tinggi dari itu," tambahnya.

Sejak 20 Desember lalu, London dan sebagian Inggris ditetapkan dalam pembatasan kategori 4 (tier 4) atau yang tertinggi.

Melalui pembatasan ini, warga tak dibolehkan melakukan perjalanan, kecuali untuk kepentingan-kepentingan yang bersifat sangat khusus.

Pembatasan diterapkan menyusul penemuan varian baru virus corona dengan tingkat penyebaran 70% lebih cepat dari virus corona yang dikenal selama ini.

Ancaman gelombang ketiga COVID-19

Sejak terdeteksi di Inggris, varian baru ini juga ditemukan di setidaknya 20 negara lain, termasuk sebagian besar Eropa, serta di Asia, Jepang dan Korea Selatan. Di banyak negara, varian baru ini terdeteksi pada mereka yang baru kembali dari Inggris.

Varian baru juga ditemukan di Amerika Serikat pada pemuda berusia 20 tahun, namun pemuda ini disebutkan tidak melakukan perjalanan.

Data dari Kementerian Kesehatan Inggris menunjukkan sejak vaksinasi diluncurkan awal Desember lalu, baru sekitar 600.000 orang yang divaksin.

Untuk mencegah gelombang ketiga COVID-19, Inggris perlu meningkatkan vaksinasi menjadi dua juta kali dalam seminggu.

Peringatan ini tercantum dalam artikel ilmiah “London School of Hygiene and Tropical Medicine” yang didistribusikan bersama badan penasehat sains pemerintah, Scientific Advisory Group for Emergencies (SAGE).

Regulator kesehatan Inggris Rabu (30/12) menyepakati vaksin buatan Universitas Oxford bekerja sama dengan AstraZaneca.

Pemerintah Inggris telah memesan 100 juta dosis dari AstraZeneca sehingga dapat dipakai untuk memvaksinasi 50 juta orang.

Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock mengatakan kepada BBC, vaksin tersebut akan mulai didistribusikan pada Senin (04/01).

"Kami punya vaksin ini dalam jumlah yang cukup guna memvaksinasi seluruh populasi 100 juta dosis. Tambahkan dengan 30 juta dosis Pfizer dan itu cukup bagi seluruh populasi untuk menerima dua dosis masing-masing," kata Hancock.