Tendang Fanatisme Haus Darah dari Sepak bola!

INILAH.COM, Jakarta - Untuk kesekian kalinya, dunia sepak bola dikejutkan oleh aksi brutal yang melibatkan para suporter, dan tragisnya, aksi tersebut kembali meminta korban jiwa.

Lazuardi, Rangga dan Dhani menjadi korban berikutnya dari kekerasan oknum suporter. Ketiganya menghembuskan nafas terakhir karena dikeroyok usai laga di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (27/5), persis setelah pertandingan antara dua tim dengan sejarah perseteruan yang panjang, Persija Jakarta versus Persib Bandung yang berkesudahan dengan skor imbang, 2-2.

Fenomena memilukan ini sudah pasti sangat disesalkan oleh seluruh elemen sepak bola. Hal ini makin menambah daftar kelam kerusuhan di jagad sepak bola. Entah berapa kali elemen-elemen sepak bola, mulai dari induk organisasi, klub, suporter hingga pihak keamanan melakukan langkah-langkah antisipasi, tetap saja kekerasan oleh suporter muncul.

Tak hanya di dalam negeri, di liga yang lebih maju pun, seperti Italia, kekerasan suporter juga terjadi.

Di Italia misalnya. Pada 2 Februari 2007, pendukung klub Catania terlibat bentrokan dengan polisi Italia. Kerusuhan yang pecah usai laga antara Catania dengan Palermo itu menewaskan seorang anggota polisi, Filippo Raciti, dan ratusan orang mengalami luka-luka. Pasca kejadian ini, kompetisi Seri A diliburkan selama satu pekan.

Yang terbesar, sekaligus yang terburuk di Eropa mungkin adalah Tragedi Heysel, pada laga antara Liverpool kontra Juventus di Final Liga Champions, 29 Mei 1985. Para Liverpudlian yang tak terima tim kesayangannya kalah 0-1 dari Juve, melancarkan serangan ke pendukung 'Bianconeri' dan mengakibatkan 39 orang tewas serta 600 orang luka.

Sementara di Mesir, tercatat 74 orang meregang nyawa dan sekitar seribu orang mengalami luka-luka akibat kericuhan antarsuporter usai pertandingan antara klub Al Masry dengan Al Ahly, di Kota Port Said, Rabu 1 Februari 2012.

Usai laga yang berakhir dengan skor 3-1 untuk kemenangan Al Masry, para pendukung tuan rumah  langsung melakukan serangan brutal ke arah suporter Al Ahly.

Suporter, sampai kapanpun, tetaplah elemen penting bagi sepak bola. Merekalah yang membakar semangat tim. Loyalitas mereka membuat para pemain bangga, totalitas mereka membuat pemain yang keletihan di dalam lapangan menjadi bersemangat. Suporter adalah pemain ke-12.

Namun loyalitas tak boleh berubah menjadi fanatisme sempit. Rivalitas boleh-boleh saja, tetapi bukan berarti harus menjadi musuh yang harus disingkirkan, apalagi ditewaskan, seperti dikatakan pemain legendaris Indonesia, Bambang Pamungkas: “Sepak bola harusnya tidak melibatkan hal ini. Nyawa terlalu mahal untuk fanatisme sempit.”

Sementara itu, kapten Persib Bandung, Maman Abdurrahman mengingatkan elemen sepak bola untuk kembali kepada tujuan awal sepak bola, sebagai hiburan masyarakat yang menyatukan segala lapisan.

“Sepakbola bukan ajang bunuh-bunuhan atau perang. Sepakbola harusnya bisa mempersatukan kita semua,” ujar Maman.

Kembali pada kasus pascalaga Persija vs Persib. Segenap pengurus sepak bola nasional harus mengambil tindakan tegas, begitu juga dengan aparat keamanan. Insiden ini harus diusut tuntas hingga ditemukan pelakunya. Ini bukan kali pertama kerusuhan suporter di Indonesia memakan korban. Selama itu pula, tewasnya suporter disikapi sebagai collateral damage. Resiko yang dimaklumi.

Segenap pengurus sepak bola nasional dan aparat keamanan harus berani bertindak tegas, bahkan sampai membekukan kegiatan sepak bola, jika memang diperlukan. Ini sebagai shock therapy agar oknum suporter tidak merasa tidak tersentuh saat beraksi dengan kedok massa. Di tahun 2012 saja, sedikitnya terdapat empat insiden suporter yang menewaskan enam orang.[yob]

Berikut daftar sejumlah tragedi yang melibatkan suporter sepak bola dalam kurun tiga dekade terakhir di seluruh dunia:

1. Rusia - Oktober 1982

Kerusuhan terjadi usai pertandingan Piala UEFA antara klub Spartak dari Moskow dengan klub HFC Haarlem dari Belanda di Stadion Luzhniki, Moskow. Pendukung kedua tim terlibat bentrok dan korban jiwa pun jatuh. Menurut data otoritas setempat, terdapat 66 korban tewas. Namun perhitungan lain menyebutkan korban tewas mencapai 340 orang.

2. Inggris - Mei 1985

Sedikitnya 56 orang tewas dan lebih dari 200 orang luka-luka akibat kebakaran yang melanda tribun penonton di Bradford. Tidak disebutkan darimana api tersebut berasal.

3. Belgia - Mei 1985

Antrean penonton pertandingan final Piala Eropa antara Juventus dengan Liverpool berubah rusuh akibat begitu banyaknya orang yang berdesak-desakan. Sebanyak 39 orang, yang kebanyakan warga Italia, tewas dalam insiden yang terjadi di Stadion Heysel, Brussels.

4. Nepal - Maret 1988

Ratusan pendukung sepakbola berbondong-bondong keluar dari Stadion Nasional Nepal di Kathmandu akibat angin ribut yang mengganggu jalannya pertandingan. Namun aksi desak-desakan tak terhindarkan sehingga berujung pada tewasnya 90 orang.

5. Inggris - April 1989

Kerusuhan terjadi dalam pertandingan semifinal Piala FA Inggris antara Liverpool dengan Nottingham Forest di Stadion Hillsborough, Sheffield. Para penonton merusak pembatas dan kerusuhan pun terjadi. Insiden yang dinilai terburuk di Inggris ini menewaskan 96 orang dan melukai 200 orang lainnya.

6. Afrika Selatan - Januari 1991

Sedikitnya 42 orang tewas dalam kerusuhan yang terjadi di tengah pertandingan antara tim Kaizer Chiefs dengan Orlando Pirates di kota Orkney. Pendukung tim Kaizer Chiefs menyerang pendukung tim lawan dengan pisau.

7. Perancis - Mei 1992

Insiden berdarah terjadi sebelum pertandingan Piala Prancis antara tim Bastia dengan tim Olympique Marseille dimulai. Tribun penonton di Stadion Furiani, Corsica roboh. Akibatnya, sekitar 18 orang tewas dan sekitar 2400 lainnya mengalami luka-luka.

8. Guatemala - Oktober 1996

Sekitar 82 orang tewas akibat tribun penonton yang ada di stadion Guatemala City roboh dan orang-orang pun berjatuhan ke bawah. Kursi-kursi penonton terlempar ke berbagai arah. Sedikitnya 147 orang luka-luka dalam insiden yang terjadi pada pertandingan kualifikasi Piala Dunia antara Guatemala dengan Costa Rica.

9. Afrika Selatan - April 2001

Sedikitnya 43 orang tewas dalam kerusuhan yang terjadi saat puluhan orang memaksa masuk ke dalam Stadiun Ellis Park di Johannesburg yang tengah menggelar pertandingan Liga Afrika Selatan.

10. Ghana - Mei 2001

Pendukung sepakbola di Stadion Accra terlibat kerusuhan dan polisi pun menembakkan gas air mata untuk membubarkan mereka. Insiden yang tercatat sebagai yang terburuk di Afrika ini menewaskan 126 orang.

11. Pantai Gading - Maret 2009

Sedikitnya 19 orang tewas dalam kerusuhan yang terjadi di Stadion Felix Houphouet-Boigny, Abidjan. Kerusuhan terjadi saat pertandingan kualifikasi Piala Dunia antara Pantai Gading melawan Malawi.

12. Mesir - Februari 2012

Di akhir pertandingan antara tim lokal Al-Masry dengan tim Al-Ahli di stadion kota Port Said, ribuan pendukung sepakbola terlibat kerusuhan. Sedikitnya dilaporkan 74 orang tewas dan sekitar 1000 orang terluka dalam insiden ini.

Di Indonesia sendiri, sedikitnya empat insiden suporter memakan korban jiwa pada tahun 2012.

13. Januari 2012

Seorang pendukung kesebelasan PSIS Semarang dari kelompok SNEX tewas dalam tawuran antarsuporter di Semarang.

14. Januari 2012

Seorang suporter tewas karena luka tikam dan pukulan di bagian kepala usai laga antara Sriwijaya FC melawan Persiba Balikpapan.

15. Januari 2012

Seorang supir truk tewas dikeroyok pendukung beratribut suporter Persebaya jelang laga Persebaya melawan PSM Makassar.

16. Mei 2012

Tiga orang pendukung suporter tewas akibat dikeroyok oknum suporter beratribut pendukung Persija Jakarta usai kedua kesebelasan bertanding dengan hasil imbang 2-2.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.