Tentara Iran Diterjunkan untuk Membuat Vaksin COVID-19

Rifki Arsilan
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sepertinya penggunaan kekuatan militer dalam operasi selain perang terkait memerangi penyebaran COVID-19 tidak hanya dilakukan di Indonesia saja. Hal serupa juga dilakukan hampir di seluruh dunia, termasuk di Iran.

Pemerintah Iran berencana menjalankan program pertahanan biologis untuk menemukan vaksin atau obat yang dapat menyembuhkan para pasien positif COVID-19 di negaranya. Iran akan melibatkan kekuatan militernya dalam penelitian yang akan dilakukan dalam waktu dekat ini.

Deputi Koordinator Angkatan Darat Republik Islam Iran (IRGC), Laksamana Muda Habibollah Sayyari menyatakan, Tim Kesehatan Angkatan Darat Iran siap untuk membantu masyarakat dan tim medis dalam menjalankan program pertahanan biologis untuk memerangi pandemi COVID-19.

Hal itu disampaikan Sayyari saat mengunjungi fasilitas penelitian di Universitas Kedokteran Militer Iran pada hari Rabu, 12 Agustus 2020.

"Semua Angkatan Bersenjata Iran, termasuk Angkatan Darat, siap untuk memerangi segala ancaman terhadap rakyat Iran," kata Mantan Komandan Angkatan Laut Iran itu dikutip VIVA Militer dari Tasnim News.

Sebelumnya, Pemerintahan Presiden Hassan Rouhani telah berulang kali memuji Angkatan Bersenjata negara itu atas bantuan besar yang telah mereka berikan kepada masyarakat medis dalam perang melawan COVID-19.

Rouhani mengatakan, Angkatan Darat, IRGC, dan Basij telah memberikan kontribusi besar bagi rencana nasional untuk membantu staf medis dan telah menyatakan kesiapan untuk mendukung masyarakat kesehatan dalam melindungi kehidupan masyarakat.

Untuk diketahui, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Iran saat ini menduduki peringkat ke-10 sebagai negara yang memiliki kasus COVID-19. Data per-tanggal 12 Agustus 2020, jumlah kasus positif COVID-19 di Iran telah mencapai 333.699 kasus. Jumlah pasien sembuh mencapai 290.244 orang, sementara yang meninggal dunia sebanyak 18.988.

Sementara, negara yang menduduki peringkat pertama dalam kasus COVID-19 masih diduduki oleh Amerika Serikat (AS) dengan jumlah kasus positif mencapai 5.154.728 kasus. Jumlah pasien sembuh sebanyak 2.623.907 orang, dan jumlah pasien yang meninggal dunia mencapai 164.462 orang.

Baca : China Terancam, Jepang Akan Buat Pangkalan Militer Baru di Pulau Mage