Tentara Pemberontak Armenia Nyaris Gila Lihat Temannya Mati Dibakar

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pasca kesepakatan damai yang dicapai Armenia dan Azerbaijan dengan mediasi Rusia, perang pun berhenti sejak 10 November 2020. Ratusan warga sipil Nagorno-Karabakh (Artsakh) yang notabene adalah etnis Armenia, kembali ke kampung halamannya. Meskipun nantinya wilayah ini akan dikuasai sepenuhnya oleh Azerbaijan.

Menurut laporan yang dikutip VIVA Militer dari TRT World, dua bus yang mengangkut pengungsi kembali ke Stepanakert, Ibukota Republik Nagorno-Karabakh, Senin 16 November 2020. Para warga sipil merasa situasi sudah kondusif, seiring pengerahan pasukan Angkatan Bersenjata Federasi Rusia untuk mengawasi langsung proses perdamaian di Nagorno-Karabakh.

Para penduduk Stepanakert akan kembali memulai kehidupannya di atas puing-puing bangunan yang hancur akibat perang. Para warga Stepanakert bahu membahu mengumpulkan barang-barang yang masih bisa diselamatkan, sementara warga lainnya membagi-bagikan makanan kaleng.

"Saya sudah melihat perang ketiga di sini. Pada tahun 1992 dan 2016 saya tidak meninggalkan kota ini, bahkan untuk semenit pun. Tapi kali ini, lebih mengerikan," kata seorang wanita paruh baya yang menolak menyebutkan namanya.

Sementara itu, kisah yang tak kalah mengerikan diceritakan oleh tentara sukarelawan yang bergabung dengan militer pemberontak, Pasukan Pertahanan Artsakh. Andranik Sarkisyan, selamat dari keganasan perang dan berhasil membawa istri dan kedua putranya kembali ke wilayah Badara.

Pria berusia 27 tahun itu sebelumnya bekerja sebagai penata rambut. Akan tetapi, Sarkisyan terpaksa ikut bertempur di medan perang saat konflik bersenjata meletus pada 27 September 2020. Sarkisyan bersama rekan-rekan tentara pemberontak Pasukan Pertahanan Artsakh, kalah telak di distrik Gadrut yang telah berhasil dikuasai pasukan Angkatan Bersenjata Azerbaijan sejak 11 Oktober 2020.

Sarkisyan melihat dengan mata kepalanya sendiri rekan-rekannya baik tentara organik maupun sukarelawan, tewas dengan tragis di medan tempur. Dikisahkan Sarkisyan, nyawa rekan-rekannya melayang akibat serangan roket dan artileri militer Azerbaijan.

"Orang-orang itu dibakar. Mereka mati dan kami mengumpulkan mayat mereka. Saya melihatnya setiap malam. Itu tidak tertahankan, tidak akan mungkin tertahankan. Ini bukan tentang tanah, ini tentang darah yang tumpah di atasnya. Saya berharap itu adalah perang yang terakhir," ucap Sarkisyan.

Sementara itu menurut Kementerian Rusia, sejak 14 November 2020 pihaknya telah membantu 475 orang warga sipil untuk kembali ke Stepanakert. Total sudah ada 725 orang penduduk Nagorno-Karabakh yang kembali ke wilayah ini.