Tentara Rusia dan Turki Bersatu di Suriah, Militer Amerika Kejepit

Bayu Adi Wicaksono
·Bacaan 2 menit

VIVA – Militer Rusia dan Turki akhirnya bergabung lagi untuk melakukan patroli bersama di Idlib, Suriah.

Informasi resmi yang didapatkan VIVA Militer dari Departemen Pertahanan Turki, kedua belah pihak telah menyepakati perjanjian untuk melakukan patroli bersama di Jalan Raya M-4, Kota Idlib.

Dalam perjanjian itu disebutkan, tak cuma Angkatan Darat saja yang akan melakukan patroli bersama tapi juga pasukan Angkatan Udara militer kedua negara yang bertugas di Suriah.

Patroli dilakukan untuk mengantisipasi serangan teror pemberontak milisi Kurdi, YPG/PKK. "Menurut perjanjian atau protokol Federasi Turki-Rusia. Patroli darat gabungan TUR-RF ke-24 di Jalan Raya M-4 di Idlib, yang meliputi seluruh rute antara Trumbah dan Ayn Al Havr, dilakukan dengan partisipasi elemen darat dan udara," tulis Departemen Pertahanan Turki.

Kabar terbaru, patroli gabungan militer Rusia dan Turki ternyata cukup manjur dan membuahkan hasil. Sebanyak 20 milisi teroris YPG/PKK diringkus saat akan beraksi di wilayah Olive Branch.

"Kami terus bekerja untuk keamanan perbatasan kami dan untuk perdamaian dan keamanan saudara-saudara Suriah kami," tulis Departemen Pertahanan Turki.

VIVA Militer: Patroli gabungan militer Rusia dan Turki.
VIVA Militer: Patroli gabungan militer Rusia dan Turki.

Sebenarnya patroli bersama pernah digelar setelah Rusia dan Turki menyepakati gencatan senjata atas konfrontasi bersenjata di Idlib beberapa bulan lalu. Namun, semua rencana itu sempat buyar setelah sering terjadi kesalahpahaman.

Sementara itu, dengan kembali bersatunya tentara kedua negara, maka dipastikan posisi tentara Amerika yang berada di Suriah semakin terjepit saja. Perlu diketahui, dalam beberapa waktu belakangan ini, tentara Amerika dan Rusia kerap terlibat aksi saling hadang. Bahkan tentara Rusia sempat mengusir militer Amerika untuk segera angkat kaki dari Suriah.

Keberadaan tentara Amerika Serikat di Suriah memang menjadi sebuah pertanyaan besar, karena Pemerintah Suriah di bawah pimpinan Bashar al-Assad tak pernah meminta bantuan keamanan dari Amerika. Sejauh ini diketahui Amerika mengerahkan pasukan ke Suriah hanya untuk mengamankan ladang-ladang minyak dan diduga bersekutu dengan kelompok teroris.

Baca: Tak Takut Amerika, Serbia Nekat Mau Beli Sistem Rudal Canggih China