Tentara Wanita Ukraina Bakal Pakai Sepatu Hak Tinggi Model Baru Usai Isu Seksisme Mencuat

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Pertahanan Ukraina mengaku akan memberi sepatu hak tinggi "lebih nyaman" pada tentara wanita mereka. Keputusan ini menyusul protes seksisme atas keputusan pihaknya melatih pasukan dengan alas kaki berhak tinggi, lapor CNN, Jumat (9/7/2021).

Kementerian telah meminta wanita dari angkatan bersenjata Ukraina berbaris dengan sepatu hak tinggi selama parade untuk menandai peringatan 30 tahun kemerdekaan dari Uni Soviet. Langkah itu memicu kritik karena dianggap berbahaya bagi tentara wanita.

Alih-alih menghapus aturan pemakaian sepatu hak tinggi sepenuhnya, Menteri Pertahanan Ukraina, Andriy Taran, mengumumkan akan ada "model sepatu baru." Modifikasi ini dilengkapi "tali yang akan menahan sepatu dengan lebih baik saat berjalan," serta hak "lebih rendah dan lebih nyaman."

Ia menambahkan bahwa jika para prajurit "memiliki pengalaman positif saat menguji model ini," sepatu yang dimaksud bisa jadi bagian dari seragam seremonial untuk semua anggota militer wanita. Taran mengatakan, keputusan membuat tentara wanita berbaris dengan sepatu hak tinggi pertama kali diambil pada 2017.

Inna Sovsun, mantan anggota kabinet di pemerintahan Ukraina, menyebut kebijakan sepatu hak tinggi itu sebagai "ide yang bodoh dan berbahaya." Juga, dikatakan sebagai bentuk seksisme pada tentara wanita yang ambil bagian dalam pawai.

Dan Elena Kondratyuk, wakil ketua parlemen Ukraina, meminta Taran mengevaluasi kembali keputusan tersebut. "Sepatu hak tinggi tidak sesuai dengan kemampuan tempur tentara, dan langkah 'Prusia' pada parade dengan sepatu seperti itu adalah bahaya yang disengaja," Olga Stefanishina, wakil perdana menteri untuk Integrasi Eropa dan Euro-Atlantik dari Ukraina menuis di akun Facebook-nya.

Progres Seragam Tentara Wanita

Ilustrasi sepatu hak tinggi. Credit: pexels.com/Luis
Ilustrasi sepatu hak tinggi. Credit: pexels.com/Luis

Menjawab kritik demi kritik yang dilayangkan, Taran menyebut, "beberapa kekuatan politik hanya menggelembungkan masalah ini entah dari mana." Ada 57 ribu wanita yang bertugas di angkatan bersenjata Ukraina, menurut unggahan Facebook Stefanishina. Keputusan untuk mengganti alas kaki itu muncul setelah Taran bertemu dengan taruna perempuan dan mendengarkan usulan mereka.

Sementara itu, aturan bagi tentara wanita di berbagai belahan dunia dinilai lebih inklusif. April lalu, untuk pertama kali sepanjang sejarah, tentara Swiss akan memberi pakaian dalam wanita pada rekrutan perempuannya. Langkah ini diambil sebagai upaya menarik lebih banyak wanita ke barisan mereka.

Kaj-Gunnar Sievert, juru bicara Armasuisse, pengadaan angkatan bersenjata Swiss menjelaskan, peralatan dan seragam tentara sebelumnya terlalu sedikit atau sama sekali tidak menyesuaikan kebutuhan khusus wanita. Uji coba pakaian dalam yang telah berlangsung sejak April lalu adalah bagian dari pembaruan seragam militer yang dikembangkan dan dirancang pada 1980-an, menurut Armasuisse.

"Selama fase perkembangan, ergonomi wanita, antara lain, diperhitungkan," tuturnya. Sementara pria dan wanita akan mengenakan seragam tempur yang sama, beberapa komponen telah diperbarui untuk memungkinkan penyesuaian individu.

Misalnya, celana panjang kamuflase versi baru akan menampilkan ikat pinggang yang bisa disesuaikan. Kabar pakaian dalam itu muncul tak lama setelah militer mengumumkan keinginan merekrut tentara wanita lebih banyak.

Kebebasan Menata Riasan

Ilustrasi tentara. (dok. unsplash @diegoelbueno)
Ilustrasi tentara. (dok. unsplash @diegoelbueno)

Progres penyesuaian kebutuhan perempuan di dunia militer sebelumnya juga terjadi di satuan tentara Amerika Serikat (AS). Mengutip France24, terhitung Januari 2021, mereka kini boleh sedikit berdandan. Masuk dalam kategori itu, yakni mengepang rambut, mewarnai kuku dengan kuteks, dan memakai anting.

Kebijakan baru ini dibuat untuk memperluas jenis gaya rambut pilihan tentara wanita AS, termasuk bagi mereka yang berambut panjang. Sebelumnya, tentara wanita diwajibkan menyanggul rambut panjangnya.

Banyak yang merasa tak nyaman dengan cepol rambut tersebut karena mengganjal saat menggunakan helm tempur. Di bawah kebijakan baru, rambut panjang harus dikucir atau dikepang jika sedang dalam situasi latihan.

Perluasan gaya ini mengakomodasi tentara wanita AS yang menginginkan lebih banyak pilihan tata rambut. Namun, gaya apa pun yang dipilih harus sesuai dengan bentuk helm tempur.

Selain itu, tentara wanita juga diperbolehkan mencukur habis rambut mereka selayaknya pria. Sebelumnya, mereka harus mempertahankan batas minimal panjang rambut.

Infografis Olahraga Benteng Kedua Cegah COVID-19

Infografis Olahraga Benteng Kedua Cegah Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Olahraga Benteng Kedua Cegah Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel