Tepis kilah buku sulit diakses lewat perpustakaan digital

Alviansyah Pasaribu
·Bacaan 2 menit

Pagebluk COVID-19 mau tidak mau mempercepat penguasaan teknologi di berbagai aspek, termasuk perpustakaan.

Alasan buku sulit dicari dan diakses dapat ditepis dengan kehadiran perpustakaan digital yang memudahkan masyarakat mendapatkan informasi lewat sentuhan jadi pada gawai.

"Silakan belajar dari rumah melalui seluruh buku digital yang dipersiapkan perpustakaan nasional dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan," kata Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando dalam pembukaan webinar "Penguatan Budaya Literasi Melalui Inovasi Layanan Perpustakaan Berbasis Digital untuk Mewujudkan SDM Unggul", Kamis.

Baca juga: Literasi harus didukung distribusi buku

Baca juga: Balai Pustaka apresiasi sejarah BUMN di buku Korporasi Konstitusional

Syarif mengatakan, permasalahan literasi yang dialami di Indonesia adalah masih rendahnya budaya baca yang berujung kepada rendahnya indeks literasi. Akibatnya, daya saing, indeks pembangunan manusia, inovasi, pendapatan per kapita hingga indeks kebahagiaan pun rendah.

Di sisi lain, semua punya peran untuk mencari jalan keluar, mulai dari negara, para pengarang dan penulis buku, penerbit, penerjemah dan regulasi yang bisa memperkecil ketimbangan distribusi bahan bacaan antarwilayah Indonesia.

Dengan total jumlah penduduk sekitar 268 juta jiwa dan total bahan bacaan sebanyak 22 juta eksemplar, rasio nasionalnya hanya 0,098, tidak sampai satu buku untuk satu orang per tahun.

Jumlah buku paling banyak ada di pulau Jawa dan Bali, yakni 11 juta eksemplar, sama halnya dengan jumlah penduduk yang mencapai 154 jiwa sehingga angka rasio pun kecil.

Artinya, meski kota-kota besar di pulau Jawa memberikan fasilitas baca yang mumpuni, itu belum sebanding dengan jumlah penduduk yang besar.

"Ini yang jadi problematika rendahnya minat baca," kata dia.

Perpustakaan Nasional membuat berbagai inovasi untuk mengatasinya, termasuk dengan membeli hak cipta buku dan melakukan digitalisasi seluruh teks sehingga bisa dibaca melalui iPusnas dengan gawai.

Selain itu, meningkatkan jumlah perpustakaan dalam jejaring perpustakaan digital nasional dalam Indonesia one Search.

Menurut Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Deni Kurniadi, penyediaan e-resources mencakup tidak kurang dari 2,3 miliar artikel, 106.473 judul jurnal daring dan sekitar 283.946 judul buku digital. Juga ada aplikasi berbasis web Khastara yang berisi konten digitalisasi manuskrip.

Baca juga: Legislator minta Perpusnas susun peta jalan pengembangan perpustakaan

Baca juga: Politeknik STIA LAN- Perpusnas kembangkan sumber daya perpustakaan

Baca juga: Suka buku dan ingin jadi "influencer"? Mari jadi "bookfluencer"