Terawan, Dokter yang Dimusuhi Gegara Cuci Otak dan Vaksin Nusantara

Siti Ruqoyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Nama dokter Terawan kembali viral baru-baru ini. Mantan Menteri Kesehatan itu jadi sorotan publik lantaran menggelar uji klinis vaksin nusantara untuk pencegah COVID-19. Relawannya bukan kaleng-kaleng, mereka adalah pejabat publik.

Mulai dari mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) TNI Gatot Nurmantyo hingga anggota DPR. Kebanyakan dari mereka merupakan pasien Terawan yang pernah melakukan terapi cuci otak yang kontroversi.

Dikatakan kontroversi lantaran Terawan bikin teori metode brain wash atau cuci otak bagi penderita stroke tanpa melakukan penilitian sebelumnya. Bahkan teori ini bikin Terawan dipecat dari keanggota Ikatan Dokter Indonesia atau IDI.

Terawan tak gentar, dia bahkan baru-baru ini mengagas vaksin nusantara. Lawannya bukan lagi IDI, melainkan BPOM. Lembaga yang dipimpin Penny K Lukito mengkritik keras uji klinis vaksin nusantara.

Menurut Penny, dalam evaluasi uji klinis Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), komponen vaksin didatangkan dari Amerika Serikat (AS). Yakni dari AIVITA Biomedical Inc, perusahaan AS yang menyokong riset vaksin.

Sebelum jauh bicara soal kontroversi Terawan, VIVA akan mengulas data pribadi eks dokter kepresidenan RI ini.

Terawan yang memiliki nama lengkap Terawan Agus Putranto yang lahir di Sitisewu, Yogyakarta, 5 Agustus 1964. Saat ini Terawan berumur 56 tahun.

Terawan masuk ke tubuh TNI dari jalur Sepawilwa ABRI tahun 1990. Sejak lulus SMA, terawan masuk Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta tahun 1990 dan lulus S1, sedangkan dia lanjut ke S-2 Spesialisasi Radiologi, FK Universitas Airlangga, Surabaya (2004). S-3 Doktor, diambil Terawan di FK Universitas Hasanuddin, Makassar (2013).

Selama ini kariernya dihabiskan di rumah sakit. Puncak kariernya saat Terawan dipilih menjadi Menteri Kesehatan yang dilantik pada Oktober

Terawan tercatat punya banyak penghargaan berupa tanda jasa, di antaranya Bintang Mahaputra Nararya, Bintang Yudha Dharma Pratama, Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, Bintang Yudha Dharma Nararya, Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, SL. Kesetiaan XXIV, SL. Kesetiaan XVI, SL. Kesetiaan VIII dan SL. Dwidya Sistha

Sementara pengahragaan berupa bravet dia antaranya: Brevet Kesehatan TNI AD,
Brevet Yudha Wastu Pramuka, Brevet Para Dasar, Brevet Hiperbarik Kesehatan TNI AL, Brevet Kavaleri Kuda, Brevet Tank Kavaleri, Pin Setia Waspada Paspampres, Brevet Parachutist Thailand
dan Brevet Lakespra.

Seperti diketahui, Vaksin Nusantara diinisiasi Dokter Terawan bekerja sama dengan Litbangkes Universitas Diponegoro, tim laboratorium RSUP Dr. Kariadi Semarang, dan Aivita Biomedical Corporation dari Amerika Serikat, dan Rama Pharma.

Vaksin Nusantara sangat berbeda dengan vaksin COVID-19 yang sudah ada. Jika vaksin yang sudah dipakai saat ini ada yang dibuat dengan memakai virus yang dimatikan seperti buatan Sinovac misalnya, atau ada juga yang terbuat dari materi mRNA seperti buatan Pfizer Biontech, maka Vaksin Nusantara dibuat dengan materi sel dendritik.

Sel dendritik merupakan komponen dari sel darah putih yang diambil dari darah subyek pasien yang sehat. Kemudian sel tersebut dipaparkan dengan antigen protein S dari SARS-CoV-2. Sel dendritik yang telah mengenal antigen akan diinjeksikan kedalam tubuh subyek kembali.