Terawan Klaim Vaksin Nusantara Kebal Seumur Hidup, Pakar Minta Bukti

Ichsan Suhendra, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVAVaksin Nusantara buatan Indonesia yang digagas oleh mantan Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto membuat banyak pihak mempertanyakan tingkat efektivitasnya. Pihak Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pun meminta bukti dan data valid atas klaim yang diajukan oleh dr. Terawan itu.

Vaksin lokal ini merupakan kerjasama banyak pihak, di mana pengembangannya dilakukan bersama tim peneliti di laboratorium RSUP Kariadi Semarang, Jawa Tengah.

"Kami bersama-sama dengan teman-teman dari Aivita Biomedical Corporation dari Amerika Serikat dan juga dengan Universitas Diponegoro dan Rumah Sakit Kariadi Semarang ini bahu-membahu mewujudkan vaksin berbasis dendritic cell," ujar dr. Terawan.

"Kekebalan terhadap COVID-19 dan karena ini sifatnya menjadi imunitas yang seluler tentunya akan bertahan lama, karena tingkatnya di sel bukan imunitas humoral tapi seluler," sambungnya.

Menanggapi hal itu, Ketua Satgas COVID-19 PB IDI, Prof Zubairi Djoerban, meminta bukti atas klaim tersebut. Menurutnya, klaim atas kekebalan seumur hidup memerlukan penelitian yang sangat panjang.

"Vaksin nusantara diklaim menciptakan antibodi seumur hidup. Mana buktinya? Data uji klinis fase duanya saja belum ada, apalagi fase tiga. Jadi, jika mau bicara klaim, tentu harus dengan data. Harus dengan evidence based medicine. Jangan membuat publik bingung," tulis Prof Zubairi, dikutip dari laman Twitternya.

Ia membandingkan dengan vaksin buatan negeri Paman Sam yakni Moderna dan Pfizer yang belum mampu membuat antibodi bertahan lama. Menurutnya, antibodi yang dibentuk dari pengembangan vaksin kekinian hanya bertahan beberapa bulan saja.

"Bahkan para ahli dunia pun belum bisa menjawab apakah vaksin Moderna atau Sinovac atau Pfizer antibodinya tahan berapa lama. Tidak ada itu klaim yang mereka sampaikan bahwa antibodi dari vaksin-vaksin tersebut bisa bertahan enam bulan, satu tahun, apalagi seumur hidup," tulisnya.

Namun, ia menegaskan pihaknya mendukung upaya eradikasi, seperti vaksin. Tetapi, ia meminta transparansi data kepada publik.

"Biar tak gaduh. Vaksin Influenza saja bertahan kurang lebih setahun karena dipengaruhi mutasi virusnya," jelasnya.

Sebelumnya, pemerintah pun telah mengumumkan Indonesia telah mengembangkan pembuatan vaksin COVID-19. Ketersediaan vaksin tersebut diprediksi ada di pertengahan 2021.

Tim Satgas Komunikasi Gugus Tugas Penanganan COVID-19 dr. Reisa Broto Asmoro mengatakan bahwa Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 Kemenristek Ali Ghufron Mukti memprediksi vaksin lokal tersebut akan diproduksi masal dan akan tersedia bagi masyarakat Indonesia pertengahan 2021.

“Vaksin akan diutamakan diberikan pada populasi masyarakat berisiko yaitu lanjut usia atau mereka yang punya penyakit penyerta atau komorbid,” kata Reisa beberapa waktu lalu.

Upaya pembuatan vaksin ini, lanjutnya, tidak dilakukan sendiri melainkan ada perusahaan vaksin Indonesia bekerjasama dengan perusahaan di Korea Selatan. Ini merupakan bukti antar negara bergotong royong mengatasi masalah COVID-19.

“Indonesia pun telah setuju melakukan upaya bersama memproduksi vaksin untuk melindungi diri seluruh masyarakat dunia,” ucap Reisa.