Terawan Trending, Ada Apa?

Siti Ruqoyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Nama mantan Menteri Kesehatan Letnan Jenderal TNI Terawan Agus Putranto kembali jadi buah bibir warga. Penyebabnya lantaran banyak pejabat negara yang menjadi relawan uji klinis vaksin nusantara yang digagas olehnya. Padahal baik IDI hingga BPOM menentangnya.

Mulai dari mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) TNI Gatot Nurmantyo, Aburizal Bakrie (ARB) hingga para anggota dewan. Mereka mayoritas pasien dokter terawan yang sudah yakin dengan kemampuan nya.

Dikutip VIVA, Kamis 15 April 2021, nama Terawan jadi salah satu trending topik di Twitter. Terawan kembali jadi sorotan publik ada netizen yang dukung ada pula yang menentang vaksin tersebut.

Sudah ada lebih dari 3 ribu cuitan yang menautkan nama Terawan. Nama Jenderal TNI bintang tiga itu bahkan dikait-kaitkan dengan perseteruan IDI dan BPOM.

Diketahui, vaksin nusantara diinisiasi Dokter Terawan bekerja sama dengan Litbangkes Universitas Diponegoro, tim laboratorium RSUP Dr. Kariadi Semarang, dan Aivita Biomedical Corporation dari Amerika Serikat, dan Rama Pharma.

Vaksin Nusantara sangat berbeda dengan vaksin COVID-19 yang sudah ada. Jika vaksin yang sudah dipakai saat ini ada yang dibuat dengan memakai virus yang dimatikan seperti buatan Sinovac misalnya, atau ada juga yang terbuat dari materi mRNA seperti buatan Pfizer Biontech, maka Vaksin Nusantara dibuat dengan materi sel dendritik.

Sel dendritik merupakan komponen dari sel darah putih yang diambil dari darah subyek pasien yang sehat. Kemudian sel tersebut dipaparkan dengan antigen protein S dari SARS-CoV-2. Sel dendritik yang telah mengenal antigen akan diinjeksikan kedalam tubuh subyek kembali.

"Di dalam tubuh, sel dendritik tersebut akan memicu sel-sel imun lain untuk membentuk sistem pertahanan memori terhadap SARS-CoV-2, sehingga diharapkan mampu melindungi penerima vaksin dari infeksi COVID-19 di masa yang akan datang," kata pneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang yang ikut ambil bagian dalam pembuatan Vaksin Nusantara, dr. Yetty Movieta Nency, Sp.A (K), IBCLC.


Baca juga: Bima Arya ke Habib Rizieq: Kalau Koperatif, Sidang Ini Tak Pernah Ada