Update Terbaru Kasus Polisi Tembak Polisi di Rumah Dinas Irjen Ferdy Sambo

Merdeka.com - Merdeka.com - Kasus baku tembak polisi dengan polisi di rumah Kadiv Propam, Irjen Pol Ferdy Sambo terus bergulir. Beragam langkah cepat langsung diambil Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo guna mengungkap kasus yang semakin menjadi sorotan.

Kapolri membentuk tim khusus yang langsung dikomandoi Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono. Terbaru langkah mengejutkan pun kembali dilakukan Sigit dengan menonaktifkan dua perwira yakni Karo Paminal Brigjen Hendra Kurniawan dan Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Budhi Herdi.

Penonaktifan dua personel Polri itu terkait kasus baku tembak anak buah Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo, Brigadir J dan Bharada E. Sebelumnya, Irjen Ferdy Sambo juga telah lebih dulu dinonaktifkan.

"Memutuskan untuk menonaktifkan 2 orang, pertama menonaktifkan Karo Paminal Brigjen Pol Hendra Kurniawan. Kedua yang dinonaktifkan pada malam ini adalah Kapolres Jaksel, Kombes Pol Budhi Herdi," kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo kepada wartawan.

Dedi mengatakan, pejabat Polri pengganti Kapolres Metro Jakarta Selatan akan ditunjuk oleh Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil Imran. "Nanti siapa pejabat sementaranya, nanti secara administratif akan ditunjuk Kapolda Metro Jaya," ujarnya.

Kendati pencopotan tersebut, Dedi belum merinci alasan pencopotan keduanya. Namun, desakan pencopotan keduanya muncul dari keluarga Brigadir J. Termasuk permintaan dinonaktifkan Ferdy Sambo yang kemudian ditindaklanjuti Kapolri beberapa waktu lalu.

"Irjen Pol Ferdy Sambo untuk sementara jabatannya dinonaktifkan. Jabatan tersebut saya serahkan kepada bapak Wakapolri," jelas Sigit di Mabes Polri, Jakarta, Senin (18/7).

Alasan Minta Polisi Dicopot

Secara terpisah, Pengacara Keluarga Almarhum Brigadir J, Kamarudin Simanjuntak beralasan keduanya harus dinonaktifkan agar investigasi kasus tewasnya Brigadir J dapat berjalan dengan transparan dan independen.

"Karena Kapolres Jaksel itu bekerja tidak sesuai prosedur untuk mengungkap perkara tindak pidana dan sampai sekarang belum ada tersangkanya, olah TKP tidak melibatkan Inafis, dan tidak memasang police line," tutur Kamarudin kepada wartawan, Selasa (19/7).

"Pembunuhan itu sudah ada kenapa itu semua dilanggar. Dan terkesan dia ikut merekayasa cerita-cerita yang berkembang itu," tambah dia.

Bahkan, Karo Paminal Brigjen Hendra Kurniawan itu dinilai tidak sopan saat mengawal jenazah Brigadir Yoshua ke rumah keluarga di Jambi. Dia menyebut Hendra tidak memperbolehkan keluarga merekam hingga memegang handphone.

"Kalau Karo Paminal itu terlalu keras. Kemudian dia dianggap tidak berperilaku sopan kepada kami, datang ke kami sebagai Karo Paminal di Jambi dan terkesan intimidasi keluarga almarhum," bebernya.

Sedangkan terkait alasan permintaan penonaktifan Irjen Ferdy Sambo, Kamarudin melihat jika keputusan itu agar pengusutan kasus ini bisa berjalan objektif dan transparan.

"Supaya objektif perkara ini disidik dengan baik. Jadi kami atas nama keluarga, memohon dengan sangat kepada bapak Presiden RI selaku kepala negara dan kepala pemerintahan supaya memberi atensi demikian juga Komisi III DPR RI selaku wakil rakyat. Termasuk kepada Bapak Kapolri untuk supaya sementara menonaktifkan Kadiv Propam Polri atas nama Ferdy Sambo," pinta dia.

CCTV Ketemu

Selain langkah tersebut, Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo juga mengatakan hasil kerja tim khusus terbaru yaitu ditemukannya CCTV yang bisa menggambarkan konstruksi kasus penembakan Brigadir J.

"Kami sudah menemukan CCTV yang bisa mengungkap secara jelas tentang konstruksi kasus ini. CCTV ini sedang didalami oleh tim khusus," ujar Dedi Prasetyo dalam konferensi pers, Rabu (20/7).

Dedi juga mengatakan hasil analisis terhadap rekaman CCTV tersebut akan diungkap. Namun, pengungkapan baru bisa dilakukan setelah proses penyidikan tim khusus rampung.

"Nanti dibuka apabila seluruh rangkaian proses penyidikan yang dilakukan tim khusus sudah selesai. Biar tidak sepotong-potong, kami akan menyampaikan secara komprehensif," katanya.

Temuan CCTV itu diumumkan sekitar delapan hari setelah Kapolres Jakarta Selatan Budhi Hedi Susianto pada Selasa (12/7) mengatakan CCTV di rumah Irjen Ferdy Sambo Rusak.

Bakal Lakukan Autopsi Ulang

Langkah lain pihak kepolisian yaitu telah mengabulkan untuk dilakukannya autopsi ulang terhadap jenazah Brigadir J. Hal itu menyusul desakan yang telah dilayangkan berbagai pihak, salah satunya keluarga.

"Tadi sudah laksanakan gelar awal bersama tim penyidik dan saat ini masih berlangsung proses klarifikasi. Dalam pertemuan awal tadi juga, keluarga meminta untuk dilaksanakan ekshumasi atau autopsi ulang," kata Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (20/7).

Permintaan tersebut pun, bakal ditindaklanjuti pihak kepolisian dengan menggandeng kedokteran forensik eksternal, sebagaimana surat permohonan autopsi ulang yang dilayangkan keluarga.

"Ini akan segera saya tindak lanjuti dengan cepat. Saya akan berkoordinasi dengan Kedokteran Forensik, termasuk juga tentunya akan melibatkan unsur-unsur di luar Kedokteran Forensik Polri, termasuk persatuan Kedokteran Forensik Indonesia," tutur Andi.

Selain itu, Andi menyampaikan dalam proses ini juga bakal berkomunikasi dengan tim eksternal dari Kompolnas dan Komnas HAM agar proses ekshumasi dan autopsi Brigadir J berjalan transparan dan akuntabel.

"Termasuk juga Kompolnas atau Komnas HAM akan saya komunikasikan untuk menjamin proses ekshumasi nanti tentunya bisa berjalan lancar dan juga hasilnya valid," jelasnya.

Sekedar informasi, sosok Jenderal Bintang Dua Ferdy Sambo sedang menjadi sorotan, pasca insiden berdarah baku tembak antar polisi yang terjadi di rumah dinasnya.

Dimana baku tembak yang melibatkan Bharada E berujung tewasnya Brigadir J akibat tertembus timah panas. Kejadian itu terjadi pada Jumat (8/7/2022) pukul 17.00 WIB di rumah dinasnya.

Adapun baku tembak tersebut ditengarai adanya dugaan pelecehan yang dilakukan Brigadir J kepada istri Irjen Pol Ferdy Sambo. Untuk saat ini kasus ini pun telah ditangani Polda Metro Jaya dan Tim Khusus bentukan Kapolri. [eko]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel