Terbesar di Indonesia, Menteri ESDM apresiasi produksi Banyu Urip Cepu

Biqwanto Situmorang
·Bacaan 3 menit

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengapresiasi produksi minyak Lapangan Banyu Urip Blok Cepu pada 2020 mencapai 210.000 barel per hari (MBOPD) atau setara 30 persen produksi minyak nasional.

Dengan produksi sebesar itu, maka Blok Cepu menjadi produsen minyak terbesar di Indonesia dan menyumbangkan pendapatan kepada negara sekitar 45 miliar dolar AS pada harga minyak 70 dolar AS per barel selama jangka waktu kontrak kerja sama.

"Capaian produksi minyak Lapangan Banyu Urip merupakan prestasi yang membanggakan yang bisa meningkatkan kapasitas produksi hingga 20 persen dengan fasilitas yang ada dan bisa dilakukan dengan aman," ujar Menteri Arifin saat melakukan kunjungan kerja ke Lapangan Minyak Banyu Urip Blok Cepu dan Gas Processing Facility (GPF) Jambaran Tiung Biru, Bojonegoro, Jatim, Kamis.

Dikutip dari laman Kementerian ESDM di Jakarta, Kamis, produksi awal lapangan Banyu Urip dimulai pada Desember 2008 melalui fasilitas awal dengan kapasitas 20 MBOPD pada Agustus 2009.

Melalui inovasi dan keunggulan dari manajemen proyek, produksi meningkat menjadi 80 MBOPD pada saat dimulainya start-up pada 2015.

Pada produksi puncak, Banyu Urip memproduksi 165 MBOPD dan terus berkembang hingga mencapai 235 MBOPD dengan tetap mempertahankan operasi yang aman dan andal sehingga menempatkannya menjadi produsen minyak terbesar di Indonesia.

Biaya pengembangan Blok Cepu terbilang murah, yaitu 4,5 dolar AS/barel, jika dibandingkan rata-rata industri 15 dolar/barel.

Sedangkan, biaya produksi 2,9 dolar/barel pada 2019 dan 1,9 dolar/barel pada 2020, termasuk salah satu biaya terendah di Indonesia.

Fasilitas Lapangan Banyu Urip saat ini meliputi tiga wellpad dengan 29 sumur produksi dan 16 sumur injeksi, serta 1 sumur produksi di Lapangan Kedung Keris terhubung ke wellpad.

Lapangan Banyu Urip merupakan pengembangan pertama di dalam wilayah kerja Blok Cepu dengan penemuan cadangan minyak mentah sebanyak 450 juta barel yang diumumkan pada April 2001 dan saat ini estimated ultimate recovery (EUR) Banyu Urip sudah melebihi dua kali lipat dari POD original dari 450 MBO menjadi 940 MBO.

Kontrak Kerja Sama (KKS) Cepu ditandatangani pada 17 September 2005, mencakup wilayah kontrak Cepu di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Ampolex Cepu Pte Ltd., PT Pertamina EP Cepu, dan empat badan usaha milik daerah yakni PT Sarana Patra Hulu Cepu (Jawa Tengah), PT Asri Dharma Sejahtera (Bojonegoro), PT Blora Patragas Hulu (Blora) dan PT Petrogas Jatim Utama Cendana (Jawa Timur) yang tergabung menjadi kontraktor di bawah KKS Cepu.

ExxonMobil memegang 45 persen dari total saham partisipasi Blok Cepu, sisanya PEPC 45 persen dan BUMD 10 persen. KKS Cepu ini akan berlanjut hingga 2035.

Sebuah perjanjian operasi bersama atau joint operating agreement (JOA) telah ditandatangani oleh pihak-pihak kontraktor, dengan ExxonMobil berperan sebagai operator dari KKS Cepu mewakili para kontraktor.

Selain mengapresiasi produksi Lapangan Banyu Urip Blok Cepu, Menteri Arifin juga menjelaskan keterlambatan target penyelesaian Proyek Gas Processing Facility (GPF) Jambaran Tiung Biru (JTB) yang diakibatkan pandemi COVID-19.

"Karena COVID, proyek JTB ada keterlambatan dan kita sudah minta kepada pihak manajemen untuk bisa mengejar kembali keterlambatan yang ada sehingga dapat menghasilkan gas pada akhir tahun," jelas Arifin.

Baca juga: Realisasi lifting migas 2020 capai 99,1 persen
Baca juga: SKK Migas: Kejar produksi 1 juta barel butuh investasi besar
Baca juga: Kementerian ESDM bidik investasi energi dan mineral 34,8 miliar dolar