Tercemar Mikroplastik, Kondisi Sungai Cisadane Mengkhawatirkan

Merdeka.com - Merdeka.com - Kondisi Sungai Cisadane semakin mengkhawatirkan. Aktivis lingkungan menyatakan sungai yang ada di wilayah Provinsi Jawa Barat dan Banten itu tercemar mikroplastik, sampah plastik tak kasat mata.

Bank Sampah Sungai Cisadane (Banksasuci) merilis kerusakan baku mutu air di aliran sungai Cisadane. Pencemaran mikroplastik dilaporkan terjadi di sepanjang aliran sungai itu.

Pendiri Banksasuci Ade Yunus mengungkapkan, baku mutu air di Sungai Cisadane yang melintasi wilayah Tangerang Selatan, Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang, sudah sangat rusak. Pihaknya juga mendapati puluhan ribu kilogram sampah plastik dari perangkap sampah yang dipasang di beberapa titik aliran sungai.

"(Pencemaran sungai Cisadane) kategori berat. Relatif setiap bulan dari waste trap yang kami pasang, memperoleh 2 sampai 3 ton sampah dari aliran sungai Cisadane," terang Ade Yunus, Senin (6/6).

Sampah Plastik Meningkat

Berdasarkan pengumpulan sampah dari waste trap yang dia bangun, didapati lonjakan jumlah sampah plastik pada akhir tahun 2021 dan awal 2022.

"Untuk bulan November 2021 total volume sampah plastik yang terjaring di waste trap sebanyak 2,4 ton, naik menjadi 3,5 ton di bulan Desember 2021 dan Januari 2022 masih di atas 3 ton," jelasnya.

Ade merinci, sampah plastik yang terjaring terdiri dari kantung plastik sebanyak 35 persen, kemasan saset 25 persen, botol plastik PET 15 persen, styrofoam 7,5, dan jenis sampah plastik lain dengan persentase di bawah 6 persen.

"Jenis sampah-sampah ini mengandung mikroplastik. Maka sungai Cisadane pencemarannya sudah kategori berat," ucapnya.

Berbahaya bagi Manusia

Dia memaparkan, sumber mikroplastik primer yang mencemari aliran sungai Cisadane berasal dari yang diproduksi langsung untuk produk tertentu yang dipakai manusia, seperti sabun, deterjen, kosmetik, dan pakaian.

"Serta mikroplastik sekunder yang berasal dari penguraian sampah plastik di lautan. Kedua jenis mikroplastik ini dapat bertahan di lingkungan dalam waktu yang lama. Bila sampah plastik yang mengalir di sungai menuju lautan, menurut beberapa penelitian menyatakan bahwa pada tahun 2.050 kemungkinan ada lebih banyak plastik daripada ikan di lautan berdasarkan beratnya," katanya.

Selain berdampak buruk terhadap lingkungan, kandungan mikroplastik juga sangat berbahaya bagi manusia.

"Karena penggunaan zat aditif kimia selama proses produksi plastik, plastik pastinya memiliki efek berbahaya yang dapat terbukti dengan menjadi karsinogenik atau mempromosikan gangguan endokrin. Untuk itu, perlu perhatian lebih besar terhadap aturan pengurangan sampah plastik," paparnya. [yan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel