Terdakwa Kasus Korupsi Bansos Akui Arahan Walikota Bandung

Bandung (ANTARA) - Terdakwa kasus korupsi dana bantuan sosial, Rochman, membenarkan adanya arahan Walikota Bandung Dada Rosada tentang akan adanya orang yang meminta uang kepadanya.

Rochman yang dihadirkan sebagai saksi bagi empat terdakwa lain dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Bandung, Kamis, membenarkan adanya pertemuan di rumah Walikota Dada Rosada kawasan Ciparay pada akhir Desember 2008.

Saat itu, Rochman yang sebelumnya menjadi staf Kelurahan Derwati, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung, belum diangkat menjadi bendahara pengeluaran pada Sekretaris Daerah Pemkot Bandung.

Rochman mengaku diundang oleh Kepala Badan Kepegawaian Daerah Kota Bandung Evi Shaleha untuk bertandang ke rumah Dada Rosada.

"Saat itu diperkenalkan kalau di Pemkot itu ada ajudan walikota, ada ajudan wakil walikota, ada ajudan sekretaris daerah, dan ada kepala bagian tata usaha," ujarnya.

Rochman mengaku saat itu Dada Rosada mengatakan bahwa akan ada permintaan uang melalui ajudan yang diajukan dengan kuitansi dan ada juga yang tidak.

Setelah diangkat menjadi bendahara melalui Surat Keputusan Walikota Bandung pada awal 2009, Rochman mengaku dipanggil oleh salah satu terdakwa lainnya, Uus Ruslan yang menjabat Kepala Bagian Tata Usaha Setda Pemkot Bandung.

Uus mengatakan kepada Rochman bahwa ada permintaan uang dari para ajudan untuk kegiatan penyelenggaraan pemerintahan dan kemasyarakatan Pemkot Bandung.

Untuk merespon permintaan itu, Rochman diberi petunjuk agar menerbitkan Surat Perintah Pembayaran (SPP) dan meminta bantuan salah satu terdakwa lainnya, Firman Himawan, yang lebih lama menjabat staf keuangan di Setda Pemkot Bandung.

Untuk itu, dibuat 143 SPP atas nama enam Pegawai Negeri Sipil (PNS) senilai Rp25,676 miliar untuk mencairkan dana bantuan sosial. Rochman mengaku nama PNS tersebut sekedar dipinjam untuk mencairkan dana bantuan sosial. Pada 2010, modus tersebut diulang atas nama 16 PNS untuk 876 SPP senilai Rp40,883 miliar.

Firman yang diberi kuasa untuk mencairkan uang tersebut dari rekening Pemkot Bandung di Bank Jabar kemudian memberikan uang itu kepada Rochman.

Rochman pada 2009 memberikan uang tersebut kepada Firman Himawan Rp10,443 miliar, ajudan Sekretaris Daerah Pemkot Bandung Luftan Barkah Rp10,508 miliar, dan ajudan Walikota Bandung Yanos Septadi Rp3,380 miliar.

Sedangkan pada 2010, uang tersebut diberikan Rochman kepada Firman Himawan Rp5,124 miliar dan Uus Ruslan menerima 10,124 miliar pada 2009 dan 2010.

Atas keterangan Rochman tersebut, empat terdakwa lainnya yaitu Firman Himawan, Yanos Septadi, Luftan Barkah, dan Uus Ruslan mengaku menerima uang tersebut.

Namun, Yanos membantah adanya arahan Walikota dalam pertemuan di Ciparay. Sedangkan Uus mengaku tidak memerintahkan penerbitan SPP dari dana bantuan sosial.

Lima terdakwa kasus korupsi bansos dituduh merugikan keuangan negara sebesar Rp66,558 miliar dan memperkaya orang lain di antaranya Dada Rosada dan Sekretaris Daerah Pemkot Bandung Edi Siswadi.

Mereka dijerat pasal 2 ayat 1 jo pasal 18 UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi pada dakwaan primer dan pasal 3 UU yang sama dalam dakwaan subsider. (tp)


Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.