Terdakwa Pembunuhan Petugas Dishub Makassar Beli Pistol dari Anggota Perbakin

Merdeka.com - Merdeka.com - Terdakwa pembunuhan petugas Dinas Perhubungan Makassar, Najamuddin Sewang, Sulaeman mengungkapkan senjata api jenis revolver kaliber 38 inci bukan dibeli secara online. Sulaeman mengungkapkan senpi jenis revolver tersebut dibeli dari seorang anggota Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin) seharga Rp20 juta.

Saat persidangan di Ruang Bagir Manan Pengadilan Negeri Makassar, Ketua Majelis Hakim Persidangan, Jhonicol Richard menanyakan kepada terdakwa Sulaeman mendapat senpi tersebut dari mana. Saat itu pula terdakwa menjelaskan bahwa senpi tersebut dibelinya dari temannya seharga Rp20 juta.

"Saya dapat dari teman Yang Mulia, beli Rp20 juta. (Beli dari masyarakat sipil) siap Yang Mulia, ujar Sulaeman, Rabu (9/11).

Majelis hakim mendalami sosok masyarakat sipil yang menjual senpi jenis revolver tersebut apakah tergabung dalam keanggotaan Perbakin. Sulaeman membenarkan bahwa temannya tersebut merupakan anggota Perbakin.

"Siap (iya) Yang Mulia," tuturnya.

Sulaeman juga mengungkapkan revolver tersebut tidak terdaftar. Sulaeman juga tidak menjelaskan dalam persidangan asal revolver tersebut dibeli oleh temannya tersebut.

Sementara Saksi Ahli Forensik Polda Sulsel, Surya Pranowo mengaku tidak bisa mendeteksi asal revolver yang digunakan terdakwa untuk membunuh Najamuddin Sewang. Surya menyebutkan untuk mengetahui asal senjata, datanya ada di Bagian Yanma Polda Sulsel.

"Untuk data ada di Yanma Polda Yang Mulia. Bukan di Labfor," kata dia.

Surya mengungkapkan berdasarkan hasil pemeriksaan labfor, senjata yang digunakan terdakwa Chaerul Akmal untuk menembak Najamuddin Sewang identik dengan yang diuji balistik. Surya menyebut peluru yang terdapat di tubuh Najamuddin Sewang kaliber 38 inci.

"Pertama satu pucuk senpi jenis revolver laras pendek pabrikan kaliber 3,8 inci berfungsi dengan baik. Kemudian 53 butir peluru kaliber 38 inci kondisi baik dan dapat digunakan untuk senpi tersebut," bebernya

Selain uji balistik peluru kaliber 38 inci, Surya mengaku juga memeriksa kaliber 9 milimeter (mm). Hanya saja, untuk kaliber 9 mm tersebut dinyatakan tidak identik, karena tidak bisa meledak jika dipakai di revolver.

"Kemudian 5 butir peluru kaliber 9 mili kondisi peluru tersebut sudah pernah digunakan, namun tidak meledak," ungkapnya.

Surya menjelaskan personel institusi Polri lebih banyak menggunakan senpi laras pendek seperti revolver dan pistol. Meski demikian, untuk anggota Polri yang pasukan khusus seperti Brimob dan Samapta menggunakan senpi laras panjang.

"Sepengetahuan kami ada memang kaliber pendek, seperti kaliber 9 mm jenis pistol dan 38 inci jenis revolver. Kemudian untuk spesial force, seperti pasukan khusus seperti Brimob dan Samapta mereka punya senjata khusus laras panjang otomatis," bebernya.

Surya menambahkan senpi jenis revolver memiliki jarak tembak 25 meter. Jika lebih dari 25 meter maka daya tembaknya semakin berkurang.

"Mohon izin Yang Mulia, teori yang kami ketahui senjata laras pendek jenis revolver itu jaraknya (tembak) sekitar 25 meter. (Kalau lebih 25 m) mungkin daya tembaknya sudah berkurang," ucapnya.

Sementara terdakwa Chaerul Akmal dalam persidangan mengakui menembak Najamuddin Sewang dari jarak kurang lebih 3 meter. Ia menembak Najamuddin dengan menggunakan tangan kiri.

"(Jarak tembak) kurang lebih 3 meter Yang Mulia," ucapnya. [cob]