Tergiur Gaji Rp30 Juta, 26 PMI Ilegal Nekat ke Australia Lewat Jalur Tikus

·Bacaan 2 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Pengiriman 26 orang pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal ke Australia digagalkan polisi di perairan Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang pria ditangkap karena merekrut dan membawa para pekerja itu.

Direktur Polair Polda Nusa Tenggara Timur Kombes Pol Nyoman Budiarja mengatakan, pengiriman 26 PMI ilegal itu digagalkan setelah anggota Subdit Gakkum Ditpolair mendapatkan informasi dari masyarakat mengenai adanya dugaan pergerakan penyelundupan WNI ke Australia melalui pelabuhan ojek Semau.

Ke-26 PMI, terdiri dari 25 laki-laki dan seorang perempuan, diamankan dari kapal yang akan membawa mereka melalui jalur tikus ke Australia. Tersangka pelaku yang merekrut dan membawa mereka, Suwito (42), ditangkap di lokasi yang sama.

"Ikut diamankan juga barang bukti berupa satu unit kapal bernama KMN Sahrul Zaidan, uang Sebesar Rp20.000.000 dan satu unit mesin penghitung uang, serta handphone," jelas Budiarja, Senin (18/4).

PMI ilegal yang diamankan berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Satu orang dari Sumatera Utara, satu orang Jawa Barat, empat orang dari Jawa Tengah, sembilan orang dari Jawa Timur, tujuh orang dari Bali, dan empat orang dari NTB.

Pelaku Warga Denpasar

Sementara tersangka Suwito merupakan warga Kelurahan Ubung, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali.

Budiarja menambahkan, modus pelaku adalah menawari pekerjaan kepada para calon korban melalui media sosial untuk bekerja di perkebunan Australia. Mereka dijanjikan gaji Rp30 juta per bulan.

Untuk bekerja di Australia, para korban dikenakan biaya bervariasi. Ada yang membayar hingga Rp80 juta per orang.

"Metode pembayaran bisa transfer via rekening bank BCA milik pelaku Suwito, atau diberikan secara langsung saat sudah tiba di Kupang. Saat para korban melihat kondisi kapal, mereka tidak yakin bisa sampai di Australia sehingga tidak langsung berangkat," ungkap Nyoman Budiarja.

Pelaku Terancam 15 Tahun Penjara

Para korban segera dipulangkan ke daerah masing-masing, setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Sementara Suwito masih diperiksa untuk pengembangan lebih lanjut.

"Pelaku diduga melanggar pasal 120 ayat (2) Undang Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian dengan ancaman hukuman minimal lima tahun maksimal 15 tahun," tutupnya. [yan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel